Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto menceritakan pergulatan dirinya saat menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI pada tahun 1998. Ketika itu, demonstrasi mahasiswa berhasil melengserkan Presiden Soeharto.
"1998 saya di sana, adik-adik bahkan mungkin baru tiga tahun, lima tahun, belum tahu seperti apa, mungkin ada yang belum lahir. Saat itu muncul isu 'Pak Wiranto enggak mau ambil alih', 'enggak mau melaksanakan perintah Presiden'. 'Pak Wiranto membuat kekacauan'. 1998 saya sudah Menteri Pertahanan Keamanan, Panglima ABRI. Itu bahasa Jawanya sakti mandraguna," kata dia.
Wiranto menceritakan kisahnya itu saat menjadi pembicara kunci di seminar nasional Forum Nasional Mahasiswa Anti-Penyalahgunaan Narkoba 2019 di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang, kemarin.
Dilema datang ketika Soeharto menandatangani Surat Perintah Instruksi Presiden 16/1998 yang di dalamnya mengamanatkan pengangkatan Panglima ABRI sebagai Panglima Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional.
Wiranto memiliki kewenangan tambahan sebagai Panglima TNI dan Komando Operasi untuk membuat kebijakan tingkat nasional.
Namun, ia merenungkan amanat itu dan mencoba untuk tidak gegabah dalam membuat keputusan untuk mengatasi pendudukan MPR/DPR oleh mahasiswa.
"Kalau saya gila kekuasaan, seperti di Thailand, langsung ambil laih saja, umumkan darurat militer, ambil alih, saya sudah jadi Presiden waktu itu. Tetapi waktu saya bertanya pada staf saya, kalau saya ambil alih, gedung MPR/DPR kita bersihkan dari mahasiswa yang mati berapa kira-kira?," ujarnya.
Asisten intelijen Wiranto mengatakan kira-kira 200 mahasiswa akan mati jika militer membersihkan gedung MPR/DPR dari mahasiwa. "Waduh, mahal sekali harganya. Setelah itu pasti akan ada perang saudara. Makanya tidak diambil alih," beber Wiranto.
Pada saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono adalah bawahannya sebagai Kepala Staf Sospol. SBY menanyakan keputusan Wiranto, apakah akan mengambil alih pendudukan atau tidak.
"Bapak Panglima, bagaimana, besok kita ambil alih? Saya katakan tidak, kita antarkan besok pergantian kepemimpinan dari presiden kepada wakil presiden. Itu yang saya lakukan. Alhasil kita bisa melaksanakan reformasi dengan selamat sampai sekarang," sambung Wiranto.
Demokrat ragukan
Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon mempertanyakan momentum Wiranto mengumbar masa lalu.
"Rasanya sih terbalik itu pernyataan Pak Wiranto ya. Dan anehnya sesudah beberapa puluh tahun kok baru keluar sekarang," kata dia saat ditanyai wartawan, kemarin.
Ia bahkan meragukan pernyataan Wiranto mengenai SBY. Menurut Jansen, dalam proses reformasi, SBY selalu mendorong ke arah reformasi sejak menjadi Kassospol dan juga Ketua Fraksi ABRI.
"Semuanya mendorong ke arah reformasi. Soal bagaimana persisnya dialog itu, biar Pak SBY mungkin nanti yang menjawab ya," imbuhnya. (P-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved