Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Meski Sering Terpapar Hoaks, Milenial Ini Tegaskan tidak Golput

Insi Nantika Jelita
28/3/2019 20:35
Meski Sering Terpapar Hoaks,  Milenial Ini Tegaskan tidak Golput
Diskusi mingguan yang menyikapi perkembangan hoax yang terjadi mengangkat tema " Kata Milenial Tentang Hoax dan Golput"(MI/Ramdani)

PARA milenial ini mengaku banyak menerima informasi bohong atau hoaks jelang Pemilu 2019. Meskipun demikian, mereka memilih untuk tidak golput dalam Pilpres 17 April yang akan datang.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi dan konferensi pers bertajuk Kata Milenial tentang Hoaks dan Golput yang digelar Gerakan Tangkal Fitnah di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Kamis (28/3).

Baca juga: Tips Tetap Bugar Ala Jokowi, Tidak Perlu Jamu dan Suplemen

Diskusi rutin tersebut menghadirkan narasumber sejumlah milenal seperti, aktivis AMPI Avicenna, alumnus UGM Yashinta Sekarwangi, Ketua Pemuda Tani Rina Saadah, dan peneliti GTF Syafril Nazirudin. Acara dipandu oleh anak muda lulusan SMA Taruna Nusantara Esti Marina.

GTF secara rutin mengamati dan menganalisis pola persebaran hoaks yang ditujukan kepada Jokowi-Amin.

“Walau pun kami sering cuek terhadap urusan politik, kami sebenarnya sudah tahu dan menyadari bahwa sebenarnya banyak sekali informasi yang merupakan fitnahan terhadap pak Jokowi. Jadi pokoknya kami sudah mengerti kok” ujar Yashinta Sekarwangi, yang akrab disapa Anggi.

Perempuan lulusan Jurusan Hubungan Internasional UGM ini mengatakan, seringkali generasi millenial sampai malas mengikuti berita politik karena isinya kebanyakan adalah berita hoaks.

“Ya, kami tahu lah. Toh, kami juga bisa memikirkan dan merasakan mana yang benar dan mana yang salah dan saya mengajak untuk temen-temen milenial memilih calon yang tidak turut serta menyebarluaskan hoaks,” kata Anggi.

Sementara itu, Rina Saadah mengakui Jokowi merupakan figur yang selama ini menjadi sasaran fitnah terbanyak. Berdasarkan laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika pekan lalu, sejak bulan Februari telah terjadi peningkatan jumlah hoaks secara masif. Sebanyak 498 hoaks telah terjaring yang berarti hampir tiap hari setidaknya terdapat 17 jenis hoaks yang beredar.

Padahal sebelumnya Kominfo mengidentifikasi 771 hoaks sejak bulan Agustus 2018 hingga Februari 2019, yang artinya terdapat sekitar 3 hingga 4 jenis setiap harinya.

Peneliti Gerakan Tangkal Fitnah Syafril Nazirudin mengatakan jenis hoaks yang beredar memiliki pola mengulang-ulang seperti isu PKI atau komunisme.

“Kami dipaksa mempercayai narasi hoaks komunisme, yang ada sebelum kami lahir. Lha, kami kan juga belajar sejarah, bahkan termasuk peristiwa 98” ujar peneliti yang sedang menempuh pendidikan pasca sarjana dibidang politik itu.

Syafril berpandangan hoaks yang banyak beredar itu sengaja diciptakan selain untuk mendelegitimasi pemerintahan Jokowi, juga dimaksudkan untuk mendorong kaum millenial untuk tidak hadir dalam pemilu nanti.

Baca juga: TKN: Jokowi Banyak Jalin Persahabatan dengan Negara Lain

“Kami tidak akan golput walau pun hoaks itu membuat kebingungan dan saya berpesan kepada millenial jadilah pemilih cerdas dan berintegritas jangan termakan hoaks,” ujar Avicenna, aktivis AMPI.

Senada dengan milenial yang lain, Avicenna berpandangan semburan hoaks yang semakin banyak saat ini berusaha menutupi mata masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Jokowi. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya