Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
METODE akal sehat sudah disalahgunakan oleh Rocky Gerung hanya untuk mengkritik Presiden Joko Widodo. Sebaliknya, semangat akal sehat sama sekali tidak digunakan Rocky untuk mengkritik penantang Jokowi dalam Pemilihan Presiden 2019, Prabowo Subianto.
Demikian respons tulisan Denny JA yang beredar luas di media sosial, grup percakapan WhatsApp (WA) Twitter, Facebook, dan menjadi diskusi di warung kopi. Respons pemilik lembaga survei LSI itu dituliskannya dalam esai berjudul 'Ketika Kata Akal Sehat Menangis di Kamus di Musim Pilpres'.
Tulisan itu muncul pertama kali di akun pribadinya di DennyJA_World, baik di Facebook ataupun Twitter dan sejumlah grup WA yang ia menjadi anggotanya.
Doktor ilmu politik lulusan Ohio State University, AS, itu yang juga mendalami filsafat, menggali terminologi akal sehat dalam perdebatan akademik. Menurut dia, akal sehat dapat dicarikan akarnya pada common sense atau critical thinking.
Namun, ujar Denny, selama ini, akal sehat itu digunakan sebagai metode berpikir yang dipraktikkan dan ditujukan kepada siapa pun di ruang publik. Namun, di kepala Rocky Gerung, ujar Denny, akal sehat sudah dimiskinkan, didangkalkan, bahkan disalahgunakan untuk mengkritik Jokowi saja, tidak untuk Prabowo juga.
Rocky beralasan, itu karena Jokowi yang berkuasa, sedangkan Prabowo belum berkuasa. Jika Prabowo berkuasa, 12 menit setelah dilantik, ia pun akan mengkritik Prabowo.
Dalam hal ini, kata Denny, Rocky Gerung sudah menyalahgunakan akal sehat untuk tiga hal. Pertama, Rocky sudah memiskinkan atau menyempitkan pengertian akal sehat. Selama sejarah akademik, akal sehat digunakan untuk mengkritik apa saja, dan siapa saja, di ruang publik. Bahkan juga akal sehat bisa digunakan untuk ruang pribadi.
"Di luar yang menjadi presiden, tokoh oposisi, pengusaha besar, akademisi, bahkan media, sama sahnya dikritik dengan akal sehat. Mengapa di musim pilpres, akal sehat oleh Rocky tidak digunakan untuk juga mengkritik Prabowo yang juga pasti ada kesalahan?" kata Denny.
Kedua, jika Rocky Gerung konsisten hanya ingin mengkritik yang berkuasa. Tapi siapakah yang berkuasa dalam pemerintahan demokratis? Dalam sistem Trias Politica yang berkuasa tak hanya eksekutif (Presiden) tapi juga legislatif (DPR, partai).
"Karena Prabowo ketua umum partai besar, Prabowo juga penguasa," katanya.
Artinya, ujar Denny, menyatakan Prabowo belum berkuasa sama dengan menihilkan kekuasaan legislatif yang besar dan sah, termasuk partai politik di dalamnya.
Ketiga, apa faedahnya menunda kritik akal sehat kepada capres, menunggu sampai ia terpilih menjadi presiden dulu. Kebijakan publik itu sebuah proses. Program, janji, dan pernyataan capres, jika memang ada kesalahan, justru perlu dikritik sedini mungkin. Dengan demikian kesempatan draf kebijakan publik itu untuk menyempurnakan diri semakin terbuka dan panjang.
Denny menyatakan tak keberatan jika Rocky Gerung sesungguhnya telah menjadi tim sukses tak resmi Prabowo. Namun, ujar dia, pretensi akademis dan penyalahgunaan terminologi akal sehat itu layak juga dikritik. (RO/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved