Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Jokowi-Amin Stabil Prabowo-Sandi Turun

Nurjiyanto
17/1/2019 09:15
Jokowi-Amin Stabil Prabowo-Sandi Turun
(MI/ADAM DWI)

SEHARI menjelang debat perdana calon presiden-calon wakil presiden, lembaga survei Charta Politika merilis hasil survei elektabilitas Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno.

Hasil survei pada kurun 22 Desember 2018-2 Januari 2019 itu, pasangan calon nomor urut 01 Jokowi-Amin memiliki tingkat elektabilitas 53,2%. Unggul atas pasangan calon nomor urut 02 Prabowo-Sandi dengan tingkat elektabilitas 34,1%.

Sebanyak 12,7% responden belum menentukan pilihan .

Dalam penilaian Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, capai-an kedua pasangan calon tersebut tidak berubah signifikan jika dibandingkan dengan survei Oktober-Desember 2018. Pada periode tersebut tingkat keterpilihan Jokowi-Amin mencapai 53,2%, sedangkan Prabowo-Sandi 35,5%.

"Tidak ada perubahan signifikan karena para pemilih sudah mantap dengan sikapnya (strong voter) atas kedua pasangan calon. Jumlah strong voter dari kedua kandidat mencapai 70%. Secara statistik terjadi stagnasi suara pada kedua pasangan calon," kata Yunarto di kantor Charta Politica, Jakarta, kemarin.

Survei Charta Politika tersebut melibatkan 2.000 responden di 34 provinsi dengan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur.

Charta mengklaim margin of error survei itu 2,19% dengan tingkat kepercayaan mencapai 95%.

Yunarto menambahkan, saat ini tingkat pengenalan publik terhadap kandidat capres-cawapres berada di atas 80%. Apabila dilihat dari tingkat kesukaan masyarakat, setiap kandidat memiliki tingkat kesukaan di atas 80%.

"Problem mereka bukan lagi pada pe-ngenalan tokoh karena sudah lebih dari 80% dikenal masyarakat. Akan tetapi, lebih pada bagaimana masyarakat suka atau tidak dengan program serta visi-misi kedua pasangan calon," lanjut Yunarto.

Narasi keberhasilan
Ihwal adanya stagnasi elektabilitas, lanjut Yunarto, secara elektoral menguntungkan bagi petahana.

Apabila hal itu terus terjadi, elektabilitas tidak akan berubah signifikan dan cenderung mendatar.

"Kalau tidak ada tsunami politik, di sini incumbent kuat. Prabowo-Sandi perlu membuat narasi politik di momentum yang tepat. Pasalnya narasi-narasi Prabowo-Sandi yang menggunakan dialektika cenderung hiperbola dan belum efektif. Justru bisa menjadi bumerang. Penantang, jika ingin mengubah, harus memercikkan sebuah momentum. Tetapi momentum pemercik ini harus sesuai dengan demokrasi dan konstitusi," ujar Yunarto.

Sebaliknya petahana perlu lebih terampil menerjemahkan narasi keberhasilan untuk lebih meyakinkan publik.

Ma'ruf Amin yang memiliki basis pemilih di kalangan umat Islam harus lebih diberdayakan.

Sebelumnya, pada hasil survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis Selasa (8/1), elektabilitas Jokowi-Amin unggul atas Prabowo-Sandi.

Menurut survei yang dilakukan 16-26 Desember 2018 itu, tingkat elektabilitas Jokowi-Amin mencapai 54,9%, sedangkan Prabowo-Sandi sebesar 34,8%.

Dengan hasil itu, selisih elektabilitas kedua pasangan terpaut 20%, yang merupakan keunggulan telak Jokowi-Amin.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menuturkan masih tingginya swing voter, pemilih yang masih dapat mengubah pilihan, yakni mencapai 25%, masih ada peluang Prabowo-Sandi memenangi Pemilu 2019.

"Selisih 20%-an. Ada yang menyatakan golput 1,1%, sedangkan yang memilih tidak tahu atau tidak menjawab 9,2%," kata Burhanuddin saat memaparkan hasil survei terkait Pilpres 2019 di kantor Indikator, Cikini, Jakarta, Selasa. (Mal/Ant/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya