Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA paruh pertama kampanye Pemilu 2019 hal-hal superfisial lebih mendominasi di ruang publik ketimbang narasi yang bersifat substansial.
Oleh karena itu, debat perdana Kamis (17/1) menjadi momentum bagi kedua pasangan calon presiden-calon wakil presiden untuk membumikan secara teknis gagasan mereka, bukan sekadar mengemukakan hal-hal yang bersifat umum atau sudah diketahui publik.
Demikian pernyataan analis politik dari Exposit Strategic, Arif Susanto, dan Direktur Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti, dalam disksusi yang bertema Sebar hoaks jelang debat: siapa untung, siapa buntung? di Kantin Kendal, Menteng, Jakarta, kemarin.
"Kedua kandidat harus bisa mengembalikan esensi kampanye, yaitu pendidikan politik. Saya pikir mereka masih bisa melakukan perubahan dari yang tidak etis menjadi ajang argumentasi untuk saling menggali gagasan," kata Arif.
Selama masa kampanye, lanjut Arif, para kandidat lebih banyak mengeluarkan gimik politik yang hanya melahirkan kegaduhan dan tidak mencerdaskan masyarakat.
Menurut Arif, di antara sekian kegaduhan kampanye, yang paling mengganggu ialah kebencian berbasis identitas sehingga memecah belah. Kedua, ada kecenderungan untuk mencitrakan pihak lain sebagai pelaku ketidakadilan dan diri sendiri laksana korbannya.
"Kemudian paling mengganggu soal narasi kecemasan yang mengesankan kondisi suram dan diri sendiri sebagai juru selamat (bagi kandidat yang terpilih). Hal lain disinformasi berupa penggunaan kabar bohong untuk menciptakan kebingungan publik dan terakhir delegitimasi penyelenggaraan pemilu," ujar Arif.
Ia melanjutkan semua kegaduhan itu dikemas dalam sebuah propaganda politik untuk memengaruhi pandangan dan perilaku calon pemilih melalui pesan-pesan yang membingungkan.
"Hal tersebut cukup mengerikan. Kita semua dirugikan. Tampaknya propaganda politik bukan saja terstruktur, melainkan juga sistematis. Strategi umum politik propaganda ialah politik kebencian untuk menciptakan polarisasi," ungkap Arif.
Ketimbang kedua pasangan capres-cawapres mengetengahkan drama konflik, publik lebih menunggu kontestasi gagasan argumentatif yang mencerminkan integritas dan kapabilitas.
"Jangan sampai maraknya hoaks dan penyampaian (materi kampanye) yang tidak bermutu mendegradasi demokrasi Indonesia."
Ide besar
Senada dengan Arif, Direktur Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti menilai debat menjadi tidak menarik apabila materi yang disampaikan sudah pernah dilontarkan sebelumnya.
"Mereka harus menjelaskan teknis menyelesaikan ide besar dan seperti apa cara menyelesaikannya. Jangan bicara makro," jelas Ray.
Ia khawatir debat pertama nanti menjadi sangat membosankan apabila pemaparan kedua kubu hanya berputar-putar pada gambaran umum, bukan menawarkan teknik bagaimana menyelesaikan suatu permasalahan.
"Visi-misi kedua pasangan tidak ada yang baru, belum menggambarkan lima tahun ke depan mau menyelesaikan apa. Sekitar 80% materi tataran makronya sama. Panelis bisa mengajukan pertanyaan lebih teknis. Jangan makro. Kalau pertanyaan umum, ya garing. Sebaiknya kedua pasangan calon menyampaikan permasalahan yang selama ini belum terjawab," Ray menandaskan. (X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved