Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA tokoh lintas agama memandang bahwa peranan tokoh agama di era 'banjir' informasi amatlah penting. Pasalnya, kecenderungan munculnya hoaks dalam era 'banjir' informasi sangat cepat dan dapat menyentuh kelompok masyarakat di tingkat bawah.
Salah satu tokoh yang hadir dalam dialog antar lintas agama yakni, Mahfud MD menuturkan maraknya hoaks dapat secara cepat mepengaruhi masyarakat di tingkat bawah. Pasalnya, dalam tingkat ini kecenderungan masyarakat akan langsung mempercayai hal tersebut.
"Nah kita yang sering dikutip koran dan punya umat beritahu bahwa hoaks itu tidak benar. Sampaikan, kita harus melawan hoaks. Tapi siapa yang bertindak, tentu negara, ada hukum yang berlaku misalnya UU ITE," ujarnya saat ditemui dalam dialog lintas agama di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Kamis, (10/1)
Baca juga; Jubir BPN Bantah Sebar Undangan Pertemuan SBY-Prabowo
Ia menuturkan, hal ini dapat dibendung bilamana adanya peranan tokoh-tokoh agama dalam menyetop perkembangan serta penyebarluasan suatu informasi yang masih simpang siur dan mendekati hoaks.
Mahfud juga menuturkan, peranan tokoh agama dalam menekankan nilai-nilai Pancasila perlu didorong. Pasalnya, Pancasila sudah merangkum semua nilai dari seluruh agama sekaligus melindungi setiap pemeluknya secara konstitusi.
Sehingga hal tersebut jika diterapkan dan disosialisasikan, sejatinya tidak akan menimbulkan kegaduhan dimasyarakat. Pasalnya, tokoh agama dipandang dapat masuk dan menyetuh kalangan masyarakat hingga tingkat bawah.
"Mari kita menganut hubungan dalam kemanusian, gak usah mengaku paling benar. Yakin paling benar iya, tapi mengkalim paling benar itu yang tidak boleh," ungkapnya.
Ditempat yang sama, tokoh lintas agama lainnya yakni Benny Susetyo menekankan bahwa bagaimana masyarakat dapat menggunakan kesadaran kritis mereka dalam merespon adanya banjir informasi dan hoaks.
Kesadaran kritis tersebut dapat dilakukan dengan tetap membandingkan suatu informasi dengan informasi lainnya. Hal tersebut dapat mendorong agar sikap klaim-klaim kebenaran absolut tidak terjadi.
"Bagaimana membawa kesadran kritis kepada umat agar tidak menebarkan kebogongan. Karena setiap agama mengajarkan tidak boleh berbohong, tidak boleh memojokan orang," ungkapnya.
Sementara, Sekertaris Jenderal PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti menuturkan permasalahan adanya banjir hoaks saat ini dikarenakan adanyan kondisi dimana matinya kepakaran dilingkup masyarakat. Kondisi ini menurutnya imbas dari sikap masyarakat yang jauh dari budaya komunikasi secara langsung.
Masyarakat cenderung melakujan klaim-klaim absolut atas dasar konsumsi informasi yang hanya berasal dari satu sumber baik secara literatur maupun sumber akses media.
Baca juga: Megawati: Prabowo Kangen Nasi Goreng Bikinan Saya
Ia memandang perlu adanya tradisi komunikasi langsung antara tokoh agama dan masyarakat. Pasalnya, jika hanya melalui sumber media apalagi media sosial, nilai-nilai karakter kepribadian tokoh agama yang dapat dijadikan teladan sedikit berkurang.
"Sehingga tidak ada lagi istilah musafir ilmu, kelemahannya ialah dia belajar agama tetapi nilai-niali kultural serta normanya tidak dia peroleh," ungkapnya," (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved