Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Visi dan Misi Jokowi-Amin Lebih Stabil

Nurjiyanto
21/12/2018 07:40
Visi dan Misi Jokowi-Amin Lebih Stabil
(ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

PENELITI dari Exposit Research and Strategic Advisory (ERSA) Arif Susanto memandang visi-misi dan program yang ditawarkan pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin memiliki daya tahan dan keseimbangan dalam konteks pembangunan jangka menegah dan panjang.

Hal itu karena program-program yang digagas Jokowi-Amin seperti pembangunan infrastruktur serta penguatan aspek ekonomi mampu menjadi fondasi ekonomi secara sistemik.

Hal tersebut dapat dilihat dari pembangunan ekonomi melalui peningkatan sumber daya manusia secara bertahap serta adanya penguatan infrasturktur yang dapat menjadi fondasi jangka panjang.

"Visi-misi Jokowi memiliki kese-imbangan dan daya tahan. Penjabaran Nawacita didesain terlihat bukan mengubah Indonesia dalam 100 hari, tetapi dengan beberapa tahap," ujar Arif dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, kemarin.

Sementara itu, visi-misi dan program paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dinilai lebih bermain di level taktis. Contoh tersebut ialah rencana menasionalisasikan program One Kecamatan, One Center of Entrepreneurship atau OK OCE.

Efeknya menasionalisasikan OK OCE ialah power dan akselerasi yang cepat. Namun, secara sistemik hal tersebut masih dianggap belum dapat menjaga keseimbang-an dalam jangka menengah ataupun panjang.

"Konsekuensinya, kalau dipraktikkan, mungkin Prabowo Subianto-Sandiaga Uno efektif dalam jangka pendek karena cenderung menekankan power dan akleresasi. Sementara itu, Jokowi kuat di level taktis dan strategis," ungkapnya.

Miliki kelemahan

Meskipun demikan, Arif menilai kedua pasangan calon tersebut masih memiliki kelemahan khusunya dalam menjabarkan konsep penegakan hak asasi manusia (HAM). Hal tersebut, menurutnya, masih belum terlihat dalam aksi ataupun ide yang digagas kedua pasangan calon.

"Titik lemah kedua pasangan calon ialah tidak ada program yang jelas dalam penegakan HAM. Dalam catatan saya, kecuali Gusdur, tidak ada yang melampaui dia dalam men-deliver persoalan HAM," ungkapnya.

Di tempat yang sama, pengamat politik dari Lingkar Madani, Ray Rangkuti, menuturkan saat ini sudah saatnya para kandidat mulai menjabarkan program dan visi-misi mereka secara konkret. Hal tersebut diperlukan karena tidak lama lagi gelaran debat resmi pasangan calon segera dimulai.

Ia memandang adanya pengenalan visi-misi dan program sejak saat ini memiliki keuntungan kepada para paslon. Pasalnya, masyarakat akan terbiasa mengenal apa saja yang ditawarkan para paslon dan secara pengenalan akan lebih menguntungkan.

"Sehingga saat ini sudah seha-rusnya mulai fokus menjawab tuntutan masyarakat secara umum. Jangan sampai ada visi-misi yang berlebihan dan tidak realistis," ungkapnya.

Calon wakil presiden Sandiaga Uno ingin debat calon presiden tidak menjadi ajang saling serang.

"Kami siapkan agar debat ini tidak menjadi ajang saling serang, jangan jadi ajang seperti cerdas cermat, tapi peluang ke tiap-tiap pasangan calon mengutarakan visi-misi," kata Sandi di Blitar, Jawa Timur, kemarin. (Ant/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya