Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Prabowo Disebut Tiru Gaya Trump Mainkan Emosi Masyarakat

Thomas Harming Suwarta
07/12/2018 10:30
Prabowo Disebut Tiru Gaya Trump Mainkan Emosi Masyarakat
(Prabowo menyapa pendukungnya dari atas mobil pribadinya -- Dok. Medcom )

DIREKTUR Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirajuddin Abbas menyebut model kampanye calon presiden nomor urut o2 Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019 meniru persis gaya Donald Trump di Amerika Serikat (AS). Salah satunya dengan banyak memainkan sentimen-sentimen emosional masyarakat dan membangkitkan ide konservatisme.

"Apa yang terjadi sekarang ini adalah upaya mengulang kesuksesan Donald Trump yang saat ini sudah banyak dipakai polanya di beberapa negara dengan karakteristik membangkitakn konservatisme dan mengaduk-aduk emosi masyarakat," kata Abbas dalam diskusi bertajuk "Waspada Politik Pecah Belah Pilpres 2019" yang diselenggarakan Vox Point Indonesia di Jakarta, Kamis (6/12).

Ia menjelaskan, di AS, Trump berhasil menang dengan membangkitkan sentimen konservatif warga dengan mengusung gagasan dia soal ancaman imigran, proteksi dagang, dan mengutamakan kepentingan AS dengan gagasan America First dan Make America Great Again.

"Dan template yang sama dipakai di sini dengan embusan isu ancaman pekerja asing, mengaduk-aduk emosi pemeluk agama seolah-olah Islam terancam dan banyak lagi narasi yang dibangun untuk menyentuh aspek emosi masyarakat," jelas Abbas.

Baca juga: Prabowo Tuding Jurnalis Antek Penghancur NKRI

Dalam konteks ini, jelas dia, Prabowo dan timnya sadar betul masyarakat kita mudah dipengaruhi dengan sentimen emosional yang dimainkan.

"Kalau mau dilihat juga, Pak Prabowo melempar isu soal korupsi yang sudah stadium 4, ungkapan Amien Rais soal armagedon, dan memusuhi wartawan itu semua hanya untuk mengaduk-aduk emosi masyarakat," paparnya.

Apa yang dilakukan oleh tim Prabowo, kata dia, adalah gaya politik sayap kanan yang juga dipraktikkan di beberapa tempat seperti oleh Marine Le Pen di Prancis dan fenomena Brexit di Inggris.

"Bahwa ada yang kalah tapi ada juga yang menang dengan strategi ini sangat tergantung dari figur yang maju. Juga terlalu dini untuk mengatakan siapa unggul saat ini, karena waktu masih beberapa bulan lagi," tukas Abbas. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya