Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
PARTAI NasDem menilai pernyataan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin menjadi bagian pendidikan politik bagi rakyat agar dalam memberikan penilaian dilakukan dengan objektif.
"Syarat menjadi pemimpin Indonesia itu harus bisa membikin rakyat optimistis dalam menatap masa depan. Bukan malah sebaliknya membikin rakyat takut dan pesimistis. Yang membikin rakyat takut itulah diistilahkan politik gendruwo," kata Ketua Bappilu DPP Partai NasDem Effendi Choirie di Surabaya, kemarin.
Efendi menyoroti polemik yang muncul terkait peryataan yang dilontarkan Jokowi dan Amin yang kerap dipersoalkan pihak oposisi.
Efendi menilai penyataan Jokowi maupun Amin yang tengah dijadikan polemik oleh sebagian kalangan masyarakat dinilai merupakan hal yang wajar dan objektif.
Begitu juga dengan sindiran Amin yang menyatakan bahwa orang yang tidak bisa menilai adanya perubahan positif dari pemerintahan Jokowi dengan istilah buta dan tuli, juga benar adanya karena itu memang fakta.
"Tahun politik seperti sekarang memang banyak kelompok masyarakat yang tak objektif dalam menilai segala sesuatu karena ada yang sengaja membangun kebutaan dan ketulian terhadap segala sesuatu yang telah dikerjakan dan dibangun pemerintahan Jokowi," ujarnya.
Menurut Gus Choi--panggilan Effendi--untuk bisa menjadi pemimpin Indonesia bukan hanya memiliki ilmu dan uang yang cukup, tetapi juga paham akan tradisi (kultur) yang berkembang di masyarakat. Karena itu sangat wajar jika ada sebagian masyarakat yang mengkritik cawapres Sandiaga Uno dinilai tidak menghormati ulama dan kiai.
Sebab dengan seenaknya melangkahi kuburan KH Bisrie Syansuri saat berziarah ke makam salah satu tokoh pendiri NU di Pesantren Denanyar Jombang.
"Ziarah kubur maupun tabur bunga di makam itu ada ilmu dan tata krama seperti yang banyak diajarkan di pesantren. Kasus Sandi berarti menegaskan kalau dia tak pernah mengaji atau mendengar hal itu. Sehingga maunya menghormati ulama yang diziarahi tapi karena perilakunya tak mencerminkan penghormatan itu sendiri."
Tidak berharap
Di sisi lain, Partai NasDem juga sadar betul sehingga tidak berharap adanya coat-tail effect dari pasangan Jokowi-Amin.
Alasannya, coat-tail effect Jokowi diprediksi akan diterima PDIP, sedangkan untuk Amin bakal diterima PKB.
"Untuk mencari kursi parlemen, kami cari suara sendiri. Sebab dukungan yang diberikan kepada Jokowi-Amin itu karena memang sangat dibutuhkan Indonesia. NasDem bukan berpikir untuk kepentingan dirinya sendiri, tapi untuk kepentingan Indonesia."
Lain NasDem, lain pula Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).
Mereka justru yakin mendapatkan efek ekor jas (coat-tail effect) dari pasangan Jokowi-Amin. Dengan begitu, PKPI bisa menggapai target ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 4%.
"Kami meyakini coat-tail effect itu akan berpengaruh terhadap elektabilitas dari parpol pendukung, termasuk PKPI," kata Sekjen PKPI Verry Surya Hendrawan.
Pada prinsipnya, terang dia, sembilan partai politik Koalisi Indonesia Kerja pasti menginginkan efek bola salju Jokowi.
Apalagi, Jokowi memiliki prestasi yang luar biasa dalam empat tahun kepemimpinannya, khususnya di bidang pembangunan.
Namun, partai pendukung juga harus berkaca diri bila coat-tail effect itu belum dirasakan. Ada aspek yang belum tersentuh dan harus dioptimalkan. "Yang pasti semua partai tetap harus kerja keras." (BN/Ins/Mal/Ant/P-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved