Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Minim Gagasan, Dua Kubu Capres Dinilai masih Gunakan Politik Identitas

Insi Nantika Jelita
14/11/2018 20:20
Minim Gagasan, Dua Kubu Capres Dinilai masih Gunakan Politik Identitas
(MI/MOHAMAD IRFAN )

ANALISIS media sosial Ismail Fahmi menyatakan saat ini kedua tim pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Pemilihan Umum 2019, Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno masih belum masif menyampaikan gagasan dan ide dalam kampanye. Sehingga, menurut Ismail, kedua kubu tersebut menggunakan politik identitas dalam media sosial.

"Dugaan kami mana yang paling efektif dan mudah untuk mencapai viralitas serta mendapatkan suara banyak, yang paling mudah adalah identitas. Dan terus menerus politik identitas itu akan ada selama kampanye," ujar Ismail dalam diskusi yang bertajuk 'Panas Di Media Sosial, Dingin di Kotak Suara' di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (14/11).

Kemudian Ismail menuturkan alasan mengapa kedua kubu menggunakan politik identitas.

"Jokowi memilih Ma'ruf karena bisa dianggap pro-Islam. Prabowo sendiri juga sama, dia menggunakan politik identitas. Sandi awal-awal sudah jadi santri. Tapi sekarang Sandi pakai identitas milenial. Dia mengcover kelemahan prabowo sebab dia identitasnya militer, tegas" terang Ismail.

Kemudian, menurut Ismail, ada pemilih yang menyukai sosok yang sesuai identitasnya. Dalam berkampanye, katanya, yang terpenting adalah menjaga suara dan mendapatkan suara baru di media sosial.

"Pengelompokan suara itu paling gampang dengan identitas, islam, nasionalis, komunis, spektrumnya itu aja. Partai yang tidak memiliki identitas, ya dia akan susah mendapatkan suara," kata Ismail.

Kemudian Ismail menjabarkan indikator keberhasilan berkampanye di media sosial, "Indikatornya adalah ketika menyampaikan topik gagasan dengan mudah viral. Viralitas itu ada dua, arahnya ke popularitas dan viralitas. Popularitas itu begitu banyak dimention ya populer. Jadi kalau sebuah isu itu banyak digunakan orang-orang yang populer," ucapnya

Kemudian Ismail juga mencontohkan kasus terkait pemberitaan di media sosial yang mudah mendapat viral atau perhatian publik.

"Pak Jokowi misalnya itu sudah populer, Sandi itu banyak yang enggak kenal, makanya dia harus populer dengan datang ke sebuah tempat untuk mengenalkan diri sendiri. Kemudian populer itu kan bisa positif dan negatif. Misalnya juga kasus hoaks Ratna Sarumpaet itu sangat populer, tapi kan negatif. Akibatnya favorability-nya kecil. Jadi, ketika bisa membangun dua aspek itu, itu efektif,"ujar Ismaik

Aplikasi media sosial seperti twitter yang populer dengan itu penggunaan tagar, bisa mencuri perhatian tinggi publik.

"Kubu nomor 01 terus terang jumlah human di dalam Twitter, nggak sebesar dengan oposisi. Kalau ingin menciptakan trending dengan sangat cepat, mau tidak mau harus menggunakan robot dulu. Robot itu bisa diprogram, isunya apa, tagarnya ini, udah bisa dipakai algoritma, 1 jam berapa tweet, dan seterusnya frekuensinya terus meningkat dan makin trending di Twitter," kata Ismaik

"Saat ini dalam pengamatan saya yang menggunakan robot itu kebanyakan paslon 02 untuk mempromosikan program. Itu salah satu strategi, nggak salah. Masalahnya efektif atau tidak. Efektivitas itu tercapai ketika menjadi trending," sambungnya

Dengan menguatnya di media sosial, kata Ismail kubu Prabowo-Sandi bisa diuntungkan dengan sangat mudah dan lebih gampang diviralkan, serta mempromosikan gagasan mereka dan melawan balik petahana. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya