Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Ziarah Kubur Sandiaga Hasilkan Karma Politik

Faisol Taselan
13/11/2018 09:15
Ziarah Kubur Sandiaga Hasilkan Karma Politik
(Sandiaga Uno -- Metrotvnews.com/Nur Azizah )

PERILAKU tak terpuji cawapres nomor urut 02 Sandiago Uno yang melangkahi kuburan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama KH Bisri Syansuri mendapat reaksi dari warga Jombang.

Mereka pun turun ke ja-lan memprotes perilaku cawapres nomor urut 02 itu. Ratusan warga Jombang mengatasnamakan masyarakat peduli ulama kemarin turun ke jalan. Mereka memprotes sikap Sandiaga yang dinilai tidak menghormati ulama.

Ratusan warga itu berkumpul di Bundaran Ringin Contong Jombang. Mereka melakukan orasi secara bergantian. Selain itu, massa juga membentangkan spanduk. "Kami mengecam perilaku Sandiaga yang tak memiliki tata krama saat ziarah ke makam Kiai Bisri Syansuri. Kami menyatakan kekecewaan atas perilaku tidak terpuji yang dilakukan Sandi," ujar koordinator aksi Faizuddin Fil Muntaqobat.

Menurut Faizuddin tindakan Sandiaga mencerminkan tidak menghormati ulama. Apalagi KH Bisri Syansuri merupakan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.

Selain berorasi di Ringin Contong, ratusan massa juga melakukan long march ke makam KH Bisri Syansuri untuk berziarah. Itu dilakukan sekaligus untuk memberi contoh kepada Sandiaga bagaimana adab berziarah yang benar.

"Secara etika, Sandiaga Uno melanggar unggah-ungguh kita. Masyarakat NU tersinggung karena makam ulamanya dilangkahi. Itulah akibatnya kalau pemimpin tidak paham kultur politik bangsanya," kata Bendahara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Nasyirul Fallah Amru.

Gus Falah, begitu ia kerap dipanggil, mengatakan seseorang harus menjaga etika ketika berziarah atau menabur bunga di makam leluhur. Dia menyayangkan jika Sandiaga tidak mengetahui adab ziarah hingga tega melangkahi makam KH Bisri tanpa perasaan bersalah.

Menurut Gus Falah dalam sebuah hadis diriwayatkan, sesungguhnya seseorang yang duduk di atas bara api, lalu membakar pakaian hingga menyisakan kulitnya lebih baik baginya daripada duduk di atas sebuah kuburan.

Tapal kuda membara

Di Jember, peristiwa pembatalan sepihak dialog antara Prabowo-Sandiaga dan ulama tapal kuda (Jember-Situbondo-Bondowoso, Probolinggo, dan Madura) di kediaman Habib Almuhdlor, Tanggul, Jember, menjadi salah satu indikasinya.

Pembatalan itu diduga dilakukan pihak partai pengusung setelah mengetahui isi permintaan para ulama. Di antara permintaan para ulama dalam pertemuan itu ialah penunjukan Menteri Agama dari kalangan NU serta komitmen antiterorisme dan radikalisme.

"Kami sangat kecewa dengan batalnya acara itu. Padahal, ini menjadi titik ukur komitmen Prabowo terhadap kepentingan pesantren dan NU," kata KH Farid Wajdi, salah satu ulama asal Madura yang ikut hadir di pertemuan tersebut.

Farid mengatakan pembatalan dialog di kediaman salah satu keturunan Habib Sholeh Alhamidi awal November lalu itu membuahkan kesimpulan bahwa pasangan Prabowo-Sandiaga akan kesulitan mengakomodasi kepentingan pesantren dan warga NU.

Hal itu disebabkan pasangan tersebut dikelilingi kelompok-kelompok yang tidak memiliki gerakan yang sejalan dengan warga nahdliyyin (sebutan untuk konstituen NU). "Meskipun Prabowo punya kepedulian terhadap pesantren dan NU, di sekitar mereka orang-orang yang tidak sejalan dengan garis perjuangan NU.''

Ia meminta agar pasangan capres dan cawapres nomor urut 02 itu mengevaluasi tim suksesnya agar tidak hanya fokus pada kepentingan kelompoknya, tetapi juga lebih melihat pada kepentingan nasional yang lebih luas. (MG/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya