Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Amin Serukan Islam Moderat

Thomas Harming Suwarta
18/10/2018 07:35
Amin Serukan Islam Moderat
(Calon Wakil Presiden 01 KH Ma’ruf Amin -- MI/RAMDANI)

ISLAM wasathiyah (moderat) merupakan pilihan ideal untuk mengatasi dua fenomena yang berkembang di Tanah Air akhir-akhir ini.

Dua fenomena itu, pertama, menguatnya konsolidasi kelompok skripturalis yang eksklusif, intoleran, kaku, mudah mengafirkan, gampang menyatakan permusuhan, bahkan melakukan kekerasan terhadap sesama muslim yang tidak sepaham.

Kedua, konsolidasi kelompok yang cenderung permisif dan liberal.

"Gerakan keislaman (di Indonesia) makin bergeser ke kutub ekstrem kiri atau kanan. Kutub kiri memunculkan gerakan liberalisme, pluralisme, dan sekularisme dalam beragama. Kutub kanan menumbuhkan radikalisme dan fanatisme sempit dalam beragama," kata calon wakil presiden nomor 01 KH Ma'ruf Amin dalam kuliah umum di S Rajatnam School of International Studies, Nanyang Technological University (RSiS NTU) Singapura, tentang Rekonsolidasi Wasathiyah Islam: Promosi Islam 'Jalan Ketiga' dan Arus Baru Ekonomi Berkeadilan, kemarin.

Menurut Amin, kedua gerakan keislaman kanan dan kiri itu memiliki kaitan dengan gerakan transnasional yang mengembangkan pengaruh di Indonesia dengan memanfaatkan kebebasan ekspresi dan kemajuan teknologi komunikasi.

"Sebagai jawaban atas dua model gerakan itu (kanan dan kiri), Munas MUI (Majelis Ulama INdonesia) 2015 bersepakat memperjuangkan Islam Wasathiyah dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan," ungkap Amin yang juga Ketua Umum nonaktif MUI ini.

Islam wasathiyah, kata dia, ialah ajaran Islam rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). "Ini ialah 'Islam tengah' yang bisa mewujudkan khairu ummah (umat terbaik)," tandasnya.

Negara kesepakatan

Arus besar Islam wasathiyah, kata Amin, merupakan bagian upaya menjaga keutuhan NKRI, sebagai hasil komitmen bersama para pendahulu.

"Saya menyebutnya sebagai darul mitsaq, negara kesepakatan, darus shuluh (negara perdamaian), dan darul 'ahdi (negara perjanjian). Kesepakatan semua elemen bangsa itu ialah Pancasila," tutur mantan Rais Aam PBNU ini.

Dalam kesempatan itu, Ma'ruf Amin juga mengatakan, untuk menjaga NKRI, selain dengan Islam wasathiyah, perlu diperkuat kehidupan ekonomi yang berkeadilan. "Ketimpangan ekonomi harus terus dikurangi menuju keadilan sosial sesuai sila kelima Pancasila, yaitu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," tandasnya.

Dalam menanggapi hal itu, intelektual Nahdhatul Ulama Zuhairi Misrawi mengatakan bahwa Ma'ruf Amin membawa pesan moderasi Islam ke dunia internasional. "Pesan (Islam moderat) disampaikan di forum internasional. Itu menunjukkan Indonesia mampu memimpin peradaban di masa depan," katanya saat dihubungi kemarin.

Menurutnya, apa yang disampaikan oleh Ma'ruf Amin harus menjadi panduan bagi seluruh organisasi Islam di Indonesia dan dunia. "Pemerintah harus memberikan dukungan bagi pengarusutamaan Islam moderat sehingga tidak digerogoti oleh arus yang lain," katanya.

Terpisah, Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan Islam wasathiyah bisa diterapkan di Indonesia melalui sikap kebangsaan dan ketatanegaraan yang adil. "Islam wasathiyah tidak terbatas pada sikap yang moderat tetapi juga modern, menerima dan terbuka terhadap perbedaan, berorientasi ke masa depan," ungkapnya. (Nrj/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya