Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Peluang Jokowi-Amin Menang kian Terbentang

Dero Iqbal Mahendra
08/10/2018 08:10
Peluang Jokowi-Amin Menang kian Terbentang
()

DIREKTUR Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menyatakan peluang Joko Widodo untuk kembali terpilih sebagai presiden sangat terbuka. Jika dibandingkan dengan posisi Susilo Bambang Yudhoyono sebagai petahana, tren Jokowi saat ini lebih di atas SBY ketika itu.

Hasil survei yang dilakukan SMRC tentang elektabilitas calon presiden pada September 2018 menunjukkan hal tersebut. Survei itu dilakukan pada 7-14 September yang melibatkan 1.220 responden secara random dari seluruh Indonesia dengan margin of error plus-minus 3,05% dengan tingkat kepercayaan 95%. Adapun untuk hasil survei menjelang Pilpres 2004 dan 2009 yang dimenangi SBY diambil dari Lembaga Survei Indonesia.

"Berdasarkan pertanyaan jika pemilu diadakan sekarang untuk dua nama, 60,2% responden memilih Jokowi, sedangkan 28,7% memilih Prabowo. Dari segi jarak terdapat 25% sehingga unggul cukup jauh. Dari pasangan capres dan cawapres pun Jokowi-Amin mendapatkan 60,4% dan Prabowo- Sandiaga 29,8%," tutur Djayadi di Jakarta, kemarin.

Secara tren pilihan terhadap Jokowi mengalami kenaikan 3% ketimbang hasil survei pada Mei dari 57% menjadi 60%. Sebaliknya, suara Prabowo turun 4%-an.

Kenaikan elektabilitas Jokowi tersebut, menurut Djayadi, terjadi karena semua kondisi makro, yakni ekonomi, politik, hukum, dan keamanan dinilai positif oleh masyarakat. Tren kenaikan pun menjadi penting sebagai indikasi atas hasil akhir nanti. "Dari pengalaman tiga kali pilpres, calon yang suara dukungannya naik dan unggul terus akan sulit dikalahkan pada hari-H."

Fenomena itu pula yang ditunjukkan SBY. Elektabilitasnya unggul sejak awal sehingga terpilih lagi pada Pilpres 2009.

Menurut Djayadi, kubu Jokowi bisa optimistis menang. Hanya mereka pantang terlena mengingat ada sejumlah faktor makro yang dapat mengubah tren, khususnya isu ekonomi, penegakan hukum, dan keamanan.

Penilaian atas faktor-faktor itu secara umum lebih positif pada masa Jokowi daripada SBY ketika akan menghadapi pemilu sebagai petahana.

"Karena itu, posisi Jokowi saat ini lebih baik dan memiliki peluang yang lebih baik untuk memenangi pilpres," tuturnya.

"Namun, pemilu masih 6,5 bulan lagi. Juga tergantung pada faktor makro karena ini berlangsung lebih lama efeknya, saat ini persoalan terkait dengan ekonomi berpotensi berubah. Namun, jika pemerintah bisa menjaga inflasi, itu akan tetap aman," imbuh Djayadi.

Tidak lengah

Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Maman Imanulhaq, menegaskan hasil survei tersebut tak boleh membuat pihaknya lengah. Dia meminta seluruh anggota tim dan pendukung Jokowi-Amin tetap fokus.

"Kita harus tetap waspada dan terus membangun sinergitas," ujarnya saat menjadi pembicara pada Deklarasi Galang Kemajuan (GK) Jokowi Sumatra Selatan di Palembang, kemarin.

Di kubu Prabowo-Sandi, Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi mengatakan pihaknya masih punya waktu 6,5 bulan untuk mengurangi ketertinggalan elektabilitas.

"Saya yakin perilaku pemilih masih dinamis sehingga sangat memungkinkan akan ada perubahan-perubahan ke depannya. Dari 185 juta pemilih, ada faktor silent majority yang juga perlu diperhitungkan arah trennya. Misalnya, segmentasi pemilih berdasarkan keahlian, seperti nelayan, petani, dan buruh," tandasnya. (X-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya