Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Jokowi-Amin Diprediksi Menang Telak

Nurjiyanto
05/10/2018 07:50
Jokowi-Amin Diprediksi Menang Telak
(ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

CALON presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin diprediksi unggul pada Pilpres 2019. Sebanyak 58,6% responden menyatakan Jokowi-Amin akan menang telak dengan selisih di atas 10%. Sebaliknya, 25,7% responden lain menyatakan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang akan menang telak.

Demikian hasil survei bertajuk Pilpres dan Kerinduan Publik Indonesia yang Kuat yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada 14-22 September 2018.

"Keadaan sekarang yang paling mungkin, Jokowi lebih dianggap mungkin menang di atas 60%," ujar peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar, di Kantor LSI Denny JA, Jakarta, kemarin.

Pihaknya juga merilis persepsi publik tentang seberapa penting sosok presiden kuat untuk memimpin Indonesia.

Sebanyak 58,50% responden menilai presiden kuat ialah yang mendapat dukungan masyarakat. Adapun 43,40% responden lainnya menilai Indonesia memerlukan presiden yang kuat untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi, termasuk kesejahteraan rakyat.

Publik juga menginginkan presiden yang tidak mudah diperalat sekelompok kepentingan. Pasalnya, 20,4% res-ponden menyatakan hal itu dan 15,3% lainnya menyatakan agar presiden tidak perlu banyak melakukan negoisasi dalam mengambil keputusan.

"Sisanya 13,50% responden menilai presiden kukuh perlu untuk melindungi keberagaman di Indonesia," jelasnya.

Survei yang menggunakan metode multistage random sampling kepada 1.200 responden itu juga menyebutkan Jokowi sebagai capres yang paling konsisten dalam mempertahankan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Sebanyak 65,8% responden menyatakan hal itu. Prabowo mendapat 28,7% responden dari hasil survei tersebut.

"Salah satu faktornya, Jokowi berkunjung ke Aceh hingga Papua, infrastruktur juga dibangun di daerah-daerah. Pancasila dalam konteks ini pembangunan yang merata," jelasnya.

Ia juga menuturkan adanya persepsi publik terhadap Prabowo terkait nilai pancasila yang masih di bawah Jokowi karena masih belum terlihatnya tindakan Prabowo yang dapat dirasakan masyarakat.

Menurutnya, masyarakat memandang Prabowo belum terlihat sebagai sosok yang turun langsung dalam membumikan nilai-nilai Pancasila.

Gerus elektabilitas

Terbongkarnya kebohong-an aktivis Ratna Sarumpaet diyakini berdampak pada elektabilitas Prabowo-Sandiaga. Pasalnya, Ratna memiliki kedekatan dengan capres dan cawapres nomor urut 02 itu.

"Ketika sudah ada pengakuan kebohongan (dari Ratna) dan Prabowo melakukan pernyataan itu juga, tentu akan menimbulkan kekecewaan publik. Bisa jadi hal ini mengubah pikiran mereka," ujar Rully.

Pada Rabu (3/10), Ratna mengakui bahwa dia tidak pernah dianiaya atau dikeroyok di kawasan Bandara Husein Sastranegara, Bandung, pada 21 September 2018. Malam harinya, Prabowo meminta maaf kepada rakyat Indonesia karena telah ikut menyuarakan kebohongan yang dilakukan Ratna. Prabowo mengakui sempat memercayai cerita Ratna.

"Yang pasti kasus ini cederai demokrasi. Hoaks itu kesalahan fatal, pasti ada hukuman publik. Untuk angka pengaruhnya ke Prabowo mesti dilihat ke depan survei lagi," pungkasnya. (MTVN/Ant/OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya