Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

KPU Persilakan SBY Laporkan Insiden WO

Faisal Abdalla
25/9/2018 19:55
KPU Persilakan SBY Laporkan Insiden WO
(MI/M. Irfan)

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) mempersilakan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melaporkan insiden walk out (WO) saat deklarasi kampanye damai ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). KPU sempat akan dilaporkan Demokrat lantaran masalah ini.

"Silakan saja (melapor), tidak masalah," kata Komisioner KPU, Wahyu Setiawan, di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (25/9).

Wahyu mengaku hingga kini tidak tahu alasan SBY WO saat acara karnaval deklarasi damai. Padahal, menurut Wahyu, acara deklarasi damai sudah berjalan damai dan tertib sesuai rencana.

Terkait dengan yel-yel 'dua periode' yang diteriakkan relawan Pro Jokowi (Projo), KPU menganggap hal itu bukan tindakan provokatif. Hal itu dianggap sebagai ekspresi politik masyarakat.

"Perlu diketahui tanggal 23 (September) kemarin itu sudah masuk masa kampanye sehingga masyarakat juga punya kebebasan berekspresi menyampaikan pandangan politik terkait Pemilu 2019. Saya juga tidak memahami, sebab sampai sekarang saya belum mendapat laporan yang dimaksud ungkapan provokatif itu yang seperti apa," jelas dia.

Wahyu mengatakan pada deklarasi damai itu, KPU sangat menghormati SBY sebagai mantan presiden. Jika diatur sesuai dengan nomor urut partai, kata dia, Demokrat seharusnya berada di barisan ke-14 saat karnaval deklarasi kampanye damai.

"Tapi karena baliau ketum parpol sekaligus presiden ke-6, maka kami hormati. Urutan beliau ini ketiga setelah capres 01, capres 02. Itu bentuk penghormatan kami ke Pak SBY. Jadi kalau ada tuduhan KPU tidak sesuai antrean ya kami memang enggak sesuai antrean. Kami hormati, maka kami berikan urutan setelah capres-capres. Istimewa," tukas Wahyu.

Seperti diberitakan, SBY keluar barisan saat arak-arakan deklarasi kampanye damai di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (23/9). Hanya sekitar lima menit SBY mengikuti pawai tersebut.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Hinca Panjaitan, mengatakan, SBY kecewa dengan Ketua KPU Arief Budiman. Menurut dia, peraturan menggunakan pakaian adat tidak tegas diterapkan oleh KPU.

"Banyak sekali aturan main yang tak disepakati awalnya (oleh partai pendukung Jokowi-Ma'ruf). Kita sepakat pakaian adat saja, damai dan tidak membawa partai apalagi membawa atribut partai," kata Hinca di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Minggu.

Menurut dia, hari itu adalah deklarasi kampanye damai. Namun, banyak pihak yang membawa atribut partai sehingga berkesan sedang kampanye. Hinca mengaku SBY menyerahkan komando kepada dirinya saat arak-arakan deklarasi kampanye damai.

"Saudara Sekjen pimpin arak-arakan sampai selesai beliau walk out. Saya pimpin sampai selesai," aku Hinca meniru perkataan SBY. (Medcom/OL-1)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya