Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Pertahanan memastikan rencana pemerintah Indonesia membeli 11 unit jet tempur Sukhoi (SU-35) dari Rusia tidak terkendala. Maklum, sebelumnya Amerika Serikat (AS) sempat mengeluarkan ancaman embargo terhadap sejumlah negara yang ngotot membeli Sukhoi ketimbang armada serupa buatan Negeri Paman Sam.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen Totok Sugiharto, mengatakan kepastian itu menyusul rampungnya teken kontrak untuk pembelian SU-35 dengan spesifikasi full combat (persenjataan lengkap) antara Indonesia-Rusia pada Februari lalu.
"Apabila Agustus ini kontrak efektif maka 2019 akan datang 2 unit. Kalau tidak efektif, kemungkinan mundur," ujar Totok kepada wartawan di Gedung Kemhan, Jakarta, Kamis (9/8).
Mengenai rencana itu, sambung dia, Kemhan pun telah bersinergi dengan sejumlah kementerian terkait. Artinya, sejauh ini tidak ada kendala meski terlihat dinamika di lapangan yang menyoal kebijakan tersebut.
Ia juga menepis informasi yang menyebut AS berusaha menekan Indonesia agar tidak membeli Sukhoi dari Rusia. "Kita tidak ada musuh, kita baik dengan Amerika. Kita juga beli Hercules. Kita juga baik dengan Rusia dan negara-negara lainnya. Jadi kita tidak punya musuh." tandasnya.
Menurut dia, dalam waktu dekat pemerintah pun berencana membeli 5 unit pesawat angkut jenis Hercules dari AS untuk memperkuat alutsista TNI untuk mengganti sejumlah armada burung besi jenis serupa yang usianya terbilang tua.
"Rencananya kita beli Hercules tipe J atau tipe terbaru. Jika tidak ada kendala kemungkinan seluruh pesawat itu akan tiba dua tahun kemudian, 2020. Sekarang kita baru memesan saja dari AS," katanya.
Pemberitaan sebelumnya, Indonesia berencana membeli 11 SU-35 untuk menggantikan F-5 Tiger yang sudah usang dengan nilai total US$1,14 miliar. Pembayaran atas kebijakan bilateral Indonesia-Rusia itu dilakukan melalui sistem barter, yaitu menukar dengan produk ekspor berupa kopi, kelapa sawit, teh, dan hasil bumi lainnya.
Bahkan, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia dan Rostec (BUMN Rusia) telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama itu di Moscow, Rusia, pada Agustus silam dan disaksikan Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita. (OL-7)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved