Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

7 Kampus Terpapar Radikalisme, Menristek Imbau Orang Tua Tak Khawatir

Astri Novaria
06/6/2018 19:29
7 Kampus Terpapar Radikalisme, Menristek Imbau Orang Tua Tak Khawatir
(Ilustrasi)

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengimbau para orang tua tidak perlu khawatir secara berlebihan jika anaknya kini menuntut ilmu di perguruan tinggi yang diduga terpapar radikalisme. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merilis tujuh kampus yang diduga tersusupi radikalisme.

"Imbauan saya, orang tua jangan terlalu takut. Karena itu, orang tua harus hati-hati dan selalu memberikan nasihat pada anaknya. Dalam kehidupan, kita tidak bisa menghindar dari interaksi manusia. Kan tidak mungkin. Hubungan antar manusia mesti kita lakukan. Oleh karena itu, mohon jangan terlalu takut sekali kepada putra putrinya yang kuliah di perguruan tinggi tersebut," ujarnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (6/6).

Tujuh universitas yang disebut BNPT ialah Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Dipenogoro (Undip), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB). Nasir mengatakan ia memahami kecemasan para orang tua, khususnya yang putra-putrinya berkuliah di tujuh PTN itu.

Nasir mengimbau agar orang tua bersikap lebih tenang serta senantiasa mengawasi kegiatan dan pergaulan sang anak. "Saya juga punya anak di kampus, saya juga berpikir yang sama. Sebagai orang tua juga ada rasa takutnya. Tapi apakah harus takut? Kan tidak. Saya katakan kepada anak saya, harus ingat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya hanya ingin sarankan, tolong putra putrinya diawasi bersama karena di kampus sangat bebas. Apapun yang mereka lakukan semua bebas. Tidak berarti hanya 7 PTN itu, semua PT di mana pun akan terjadi hal yang sama," urainya.

Nasir menyebut tujuh kampus radikal yang dirilis BNPT itu berdasarkan informasi penelitan di masa lalu. Penelitan serupa juga pernah dilakukan Kemenristekdikti pada 2011-2014.

"Setelah itu, saya ingin menelisik lebih dalam siapa saja terlibat di dalamnya. Dia hanya potensi yang disebutkan. Belum menuju pada orang. Saya ingin (tahu) orangnya siapa karena harus ada tindakannya," pungkasnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya