Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU) Said Aqil Siradj mengatakan ia bersyukur pemerintah sekarang tidak melakukan pembiaran pada kelompok-kelompok radikal di masyarakat. Kondisi ini, menurutnya, berbeda dengan sepuluh tahun lalu di mana ada pembiaran yang akhirnya menyebabkan HTI dan kelompok-kelompok radikal lainnya menjadi besar.
"HTI tumbuh besar, jenggot menguasai masjid-masjid yang menjadi simbol radikal. Beberapa oknum polisi dan TNI ada yang sudah terpengaruh. Pernah saya ceramah di Polda Metro, ada yang protes dan mengatakan bahwa Abu Bakar Baasyir orang baik, saya dikejar sampai mobil," kata Said pada Peringatan Hari Lahir (Harlah) Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ke 6 di Sekretariat LPOI Jakarta Pusat, Jumat (1/6).
Dia pun mengapresiasi tindakan tegas dari pemerintah, termasuk Kominfo, belakangan ini. Karena menurutnya, memang tidak boleh ada pembiaran tumbuhnya radikalisme dan terorisme dengan fasilitas media sosial (medsos). Di era Informasi Tekhnologi (IT) saat ini, kata Said, keterbukaan dalam pandangannya, sudah kebablasan dan keterlaluan.
"Pada era ini, kita tidak usah minder, kaget kalau kita sering di-bully d caci maki, diancam lewat medsos. Ketika kita kalah tidak boleh minder, ketika menang tidak boleh sombong. Kemajuan ini tantangan yang harus kita sikapi lebih dewasa, kita harus lebih canggih lagi," ujarnya.
Kondisi ini, menurutnya, baru bisa diatasi dengan kebersamaan. "Semua pihak bersama-sama bertanggung jawab, bergerak."
Dia pun menyangkan gerakan kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam dan menjadikan aksi teror itu sebagai sesuatu yang disebut jihad.
"Yang menjadi rancu, jika dikelabui radikal atas nama Islam. Islam memang ada ajaran jihad, tapi harus diperhatikan kondisi yang melatar belakanginya. Al Quran, ayat perang kalau dibaca waktu kondisi damai, itu salah. Kecuali jika negara terancam, ada yang memusuhi, maka semua harus mengangkat senjata dan perang membela negara," paparnya.
Jihad, kata Said, juga bisa berarti memberikan perlindungan pada setiap warga negara yang baik, bukan penjahat. Perlindungan secara sandang pangan papan dan kesehatan. Termasuk jihad kalau mewujudkan ketenangan bagi masyarakat yang baik, muslim maupun non muslim.
"Kita berjanji dan sepakat mengawal NKRI. Ada 14 ormas yang lahir sejak sebelum kemerdekaan. Mereka adalah pejuang-pejuang kemerdekaan. Nasionalisme itu bagian dari iman. Barang siapa tidak punya tanah air, maka tidak punya sejarah. Karena itu tanah air dulu kita perkuat, baru bicara Islam," kata Said.
Kepada 14 ormas yang tergabung dalam LPOI, Said mengajak terus bergandeng tangan sebagai kekuatan civil society sebagai kekuatan sosial kemasyarakatan.
Sekretaris LPOI Lutfi At Thamimi mengatakan, meski sudah enam tahun tapi LPOI tidak pecah. Itu juga berkat bantuan polisi, BIN, panglima, kemendagri.
"Kita akan bikin santri bela negara. Kita akan duduk bersama sampai menyelesaikan pilpres, asian games," kata Lutfi. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved