Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM Pengacara Muslim (TPM), yang mendampingi sejumlah kasus napi teroris di Indonesia, menilai perlu dilakukan investigasi atas insiden kerusuhan tahanan terorisme di Rutan Salemba cabang area Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.
"Barangkali atas kejadian ini diperlukannya investigasi bagaimana kasus teroris itu sendiri, bagaimana kasus di Mako Brimob ini, mungkin institusi-institusi terkait seperti Komnas HAM, Komisi III DPR, Ombudsman, bagaimana penanganan-penanganan kasus teroris ini sebaiknya supaya tidak ada lagi teroris ke depan," kata Achmad Midan, salah satu pengacara TPM, kepada wartawan di kantor MER-C, Jakarta Pusat, Kamis (10/5).
Dengan investigasi itu, menurutnya, bisa diketahui pendekatan, dan penanganan yang tepat dalam masalah terorisme dan deradikalisasi, tidak ada lagi teroris di Indonesia ke depannya. Midan menekankan, insiden di Mako Brimob bisa menjadi titik tolak bagi semua pihak--pemerintah, masyarakat, dan pejabat-pejabat penegak hukum di Indonesia--untuk memberikan atensi yang tinggi terhadap terhadap cara penanganan teroris.
"Ada tim yang barangkali khusus pada penanganan (insiden) yang di Mako Brimob atau yang secara meluas, ada ahli-ahli yang menghimpun data-data, apa yang sebenarnya terjadi," ia menambahkan.
Menurutnya, kalau masalahnya terletak pada cara pandang atau pemikiran yang keliru tentang Islam, tokoh-tokoh Islam yang mumpuni bisa diberikan kesempatan untuk memberikan pencerahan kepada napi teroris atau teroris pada umumnya.
"Bagaimana kalau penanganan ini membuat mereka sadar bahwa itu suatu kesalahan dan kejahatan," ujar Midan.
"Jadi tidak justru mereka malah merasa mereka bukan teroris lalu diteroriskan. Karena dengan penanganan yang keliru itu, ya, (membuat) teroris menjadi terus banyak begitu," kata dia.
Menurut pengalaman TPM selama belasan tahun mendampingi kasus terorisme, Midan mengatakan tidak ada keinginan atau motivasi teroris yang bersangkutan untuk menggulingkan negara. Namun motivasi mereka lebih dipicu oleh cara pandang mereka dalam merespons kezaliman yang dialami umat Islam dan saudara-saudara muslim mereka yang tidak mendapatkan porsi keadilan.
"Itu yang kami tengarai yang selama ini kami dapatkan dari mereka," ujarnya.
"Ada persoalan-persoalan yang terkristal mulai mereka ditahan hingga menjadi napi, mareka (teroris) merasa mereka dan keluarga mereka tidak mendapatkan hak-hak kemanusiaan," ungkapnya.
Hal-hal itu, menurutnya, bisa jadi bagian dari faktor pemicu dalam insiden kerusuhan maut yang berujung pada penyanderaan di Mako Brimob Kelapa Dua.
TPM mengapresiasi tindakan dan soft approach yang diambil Polri yang pada akhirnya kurang lebih 155 napi teroris di Mako Brimob dapat dievakuasi ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
"Apresiasi ini kita sampaikan kepada Polri karena memang sampai saat ini kasus teroris (di Indonesia) itu sudah mencapai ribuan," kata Midan.
Terlepas dari itu, ia menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa kepada para korban yang meninggal dunia dalam insiden tersebut.
"Mudah-mudahan para korban diampuni dosa dan kesalahannya kemudian ditempatkan di surga Allah. Untuk keluarga mereka juga kita doakan supaya dapat ketabahan," ujar Sebagai informasi, lima anggota Polri meninggal dunia dalam insiden kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Selasa (8/5) lalu. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved