Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Politik Tagar semestinya tidak Berujung Intimidasi

Golda Eksa
05/5/2018 19:30
Politik Tagar semestinya tidak Berujung Intimidasi
(Ist)

PRESIDEN Republik Cyber Projo (RCP) Nur Sukarno menilai pengunaan pesan hastag atau tagar (#) melalui jejaring sosial terkait calon presiden sejatinya tidak dikondisikan secara sentralistik. Pesan yang disampaikan pun harus santun, tidak tendensius, apalagi sampai mengintimidasi masyarakat.

"Kita harus pahami tagar itu definisinya pengelompokan yang ada di dunia sosial. Definisi ini dipakai untuk memberi pesan kepada masyarakat di medsos dan masyarakat umum," ujar Nur dalam diskusi Politik Tagar Bikin Gempar, di Cikini, Jakarta, Sabtu (5/5).

Menurut dia, realitas adanya kelompok masyarakat yang menghendaki presiden baru maupun pihak yang menginginkan petahana tetap menjadi kepala negara untuk periode 2019-2024 adalah hal wajar. Intinya, gerakan kelompok masyarakat melalui pesan berlabel hastag (#) tidak boleh diorganisir oleh partai politik tertentu.

"Bagi Projo itu dinamika yang berkembang. Namun yang penting adalah seberapa besar masyarakat melihat pesan itu. Apakah pesan itu sampai ke masyarakat? Atau apakah tagar itu yang menjadi realita masyarakat?," kata dia.

Meski demikian, sambung dia, Projo sangat menyayangkan peristiwa intimidasi yang menimpa seorang ibu dan anak di arena car free day (CFD) di Jakarta, beberapa waktu lalu. Insiden yang kini berujung ke ranah hukum itu diharapkan tidak terulang.

"Silakan kritik tapi tetap sesuai koridor dan biarkan Presiden Jokowi bekerja tanpa direcoki. Jadi kurangi ujaran kebencian karena kita berbeda itu hal biasa. Tetapi di depan publik jangan ada intimidasi, apapun alasannya anak tidak boleh di intimidasi. Projo selalu menekankan konsolidasi, sosialisasi, tetapi yang elegan dan santun."

Pendapat berbeda dilontarkan relawan #2019GantiPresiden, Mustofa Nahrawardaya. Menurut dia, politik tagar bak pertandingan sepak bola yang mempertemukan dua klub berbeda. Ia pun menepis asumsi bahwa insiden CFD sebagai intimidasi dari pihaknya.

"Tagar ini sangat menarik. Karena kalau mengerahkan secara konvensional, seperti membagi-bagikan sembako untuk mengumpulkan massa itu sangat berisiko, sensitif. Lebih baik tagar atau sosmed yang sangat efektif. Itu juga bisa mengukur kekuatan kelompok mana yang lebih besar, lemah, kuat, dan berpengaruh," tandasnya. (A-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Agus Triwibowo
Berita Lainnya