Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
"BERI aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Begitulah cara Soekarno menyebut kekuatan kaum muda dalam melakukan perubahan.
Pernyataan Presiden Pertama Republik Indonesia itu seperti mengilhami Presiden Joko Widodo untuk menyasar ceruk suara generasi milenial.
Komisi Pemilihan Umum memperkirakan pada Pemilu 2019 terdapat tidak kurang dari 192 juta pemilih dan didominasi pemilih muda berusia 17-38 tahun. Jumlah pemilih muda bisa lebih dari 55% dari seluruh jumlah pemilih itu.
Direktur Centrer for Presidential Studies, Departemen Ilmu Komunikasi, Fisipol Universitas Gadjah Mada, Nyarwi Ahmad mengakui belakangan sepak terjang aktivitas Jokowi banyak menyasar pemilih milenial. Mulai dari menyeruput kopi, mengenakan sneaker, hingga hobi baru menunggangi motor chopper.
"Agenda kegiatan dia di Sukabumi dengan gaya Dilan bisa dilihat sebagai strategi untuk bidik pasar politik milenial. Jokowi cukup berhasil mentransformasikan gaya Dilan 1990-an dalam konteks politik milenial dan menyesuaikan ekspekstasi style kaum milenial," ujarnya ketika dihubungi, Kamis (19/4).
Saat touring sembari melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (8/4), Jokowi mengenakan helm, jaket jins dengan gambar peta Indonesia di dada dan tulisan Indonesia di punggung, sarung tangan kulit buatan perajin Garut, serta sepatu kets Vans off the Wall bertuliskan grup rock kegemarannya, Metallica. Jaket jins Jokowi sekilas tampak mirip dengan tokoh Dilan dalam film Dilan 1990.
Sebagai politikus, Nyarwi melihat kekuatan utama komunikasi Jokowi ialah story telling. Kekuatan model komunikasi itu ada pada kemampuan membangun koneksi emosional dengan target pasar.
"Maka tak heran dia berusaha tampil dengan pakaian dan gimmick yang menjadi icon masing-masing target pasarnya. Misalnya, pakai kopiah dan sarung kalau hadir di acara ulama, pakai chopper dan jaket ala Dilan," tandasnya.
Jaket ala Dilan milik Jokowi, sambung Nyarwi, bisa diintrepetasikan simbol-simbol memersatukan lewat gambar peta Indonesia. Namun, menurutnya pesan itu hanya bisa ditangkap oleh masyarakat kelas menengah. Jika serius menyasar ceruk suara milenial, ia menyarankan Jokowi mengembangkan gaya komunikasinya.
"Tidak cukup hanya mengadaptasi style dan performance milenial. Pasar politik milenial beragam, dari sekadar follower sampai opinion leaders, trend setter, social media influencers. Mereka juga punya beragam budaya politik dan social media habbit berbeda-beda," jelasnya.
Meski demikian, gaya komunikasi politik Presiden relatif bisa diterima generasi muda. Hal itu tampak dari perkembangan narasi politik yang terbangun di media sosial. "Jika disimak sekilas dari perkembangan narasi politik pemilih milenial dan wacana politik yang dikembangkannya melalui platform media sosial, khususnya FB dan twitter, sepertinya cenderung positif," tandasnya.
Untuk lebih menyelami pasar dan memaksimalkan suara generasi milenial yang beragam, Nyarwi mendorong mantan wali kota Solo itu memperbanyak dan memperkuat interaksi dan komunikasi.
"Mendengarkan ekspektasi, kebutuhan, keinginan, dan impian personal dan kolektif mereka baik dalam jangka panjang dan pendek. Kaum milenial ini mudah kagum. Tapi juga mudah benci pada figur yang mereka tak suka," pungkasnya. (A-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved