Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Menimbang Calon Wakil Presiden Jokowi dan Prabowo

Dero Iqbal Mahendra
19/4/2018 19:25
Menimbang Calon Wakil Presiden Jokowi dan Prabowo
(MI/Rommy Pujianto)

MASIH belum ditentukannya pasangan calon wakil presiden dari masing masing kubu calon presiden (capres), baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto, memunculkan berbagai spekulasi nama-nama yang dikait-kaitkan dengan keduanya.

Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari menyebut sejumlah nama masih potensial untuk menjadi wakil presiden dari masing masing kubu.

"Kalau untuk cawapres itu semua mungkin, Pak Gatot paling mungkin menjadi cawapresnya Jokowi dibandingkan kepada Prabowo. Karena kalau Prabowo itu segmennya sama, yakni sama-sama militer, sama-sama Islam modernis," terang Qodari saat ditemui di Jakarta, Kamis (19/4).

Sedangkan untuk Anies Baswedan menurutnya lebih cocok ke Prabowo karena berasal dari golongan sipil dan masyarakat menengah. Tetapi, lanjut Qodari, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebetulnya memiliki kombinasi yang lebih menarik sebagai cawapres Prabowo ketimbang Anies.

Salah satu alasannya karena latar belakang Muhaimin berasal dari NU yang merupakan Islam tradisional yang bukan menjadi basis dari Prabowo. Selama ini kekuatan Prabowo berasal dari Islam modernis yang dalam perwujudan partainya ialah PKS dan PAN.

Di sisi lain peluang Cak Imin berpasangan dengan Jokowi justru dipandang sulit oleh Qodari.

"Itu sepertinya agak berat, karena partai-partai pendukung jokowi banyak, kalau mengambil Muhaimin yang lain cemburu. Kedua, yang lebih fundamental ialah basis Muhaimin adalah kalangan Islam tradisional sudah relatif dekat dengan Jokowi. Sehingga dengan kondisi itu Cak Imin tidak membawa segmen suara baru bagi Jokowi," terang Qodari.

Meski begitu Qodari juga menyebutkan adanya variabel lain yang bisa menjadi penentu dalam menentukan cawapres, yakni variabel tokoh terutama yang berperan sebagai king maker. Misalnya saja Megawati, SBY, hingga Jusuf Kalla yang mengusulkan kepada masing masing calon nama untuk mendampingi mereka di Pilpres 2019 nanti.

Oleh sebab itu menurutnya calon wakil yang paling mungkin bagi Jokowi adalah dari nonpartai sebagaimana dilakukan SBY pada 2009 lalu. Sebab saat ini situasi Jokowi hampir mirip dengan SBY ketika itu yang memiliki banyak partai pendukung.

"Ada situasi dilematis dan kompleks, kalau dipilih salah satu yang lain marah dengan risiko membubarkan koalisi, maka diambil nonpartai sama sekali, dalam arti semua enggak dapat sekalian," jelas Qodari.

Menurutnya calon nonpartai tersebut bisa diambil dari isu yang menjadi kelemahan Jokowi, yakni ekonomi dan agama. Karena isu agama yang paling mudah dipolitisasi, maka menurut Qodari, akan lebih baik jika diambil dari segmen keagamaan. Namun tokoh tersebut harus mampu berdiri di dua kali baik itu islam tradisional maupun yang modern.

"Tokoh yang punya kaki di dua kelompok itu misalnya Mahfud MD, dia NU tetapi juga ketua KAHMI atau Islam modernis. Juga Jimly Asshiddiqie yang Ketua ICMI, keduanya bisa menjadi sosok tengah yang bisa diterima oleh semua golongan," terang Qodari.

"Kuncinya ada di Jokowi, makanya dia akan mengambil calon yang resistensinya yang peling rendah sehingga parpol tidak keberatan," pungkas Qodari. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya