Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
INDEKS Kerapuhan 2017 yang dirilis lembaga nonprofit Fund for Peace (FFP) menyebutkan peringkat Indonesia terus meningkat sejak 2006. Dalam data FFP, Indonesia pada tahun lalu bertengger di peringkat 94 dengan skor 72,9 atau naik 62 peringkat dari peringkat 32 pada 2006 dengan skor 89,2. Semakin besar angka peringkat semakin baik. Secara total, ada 179 negara yang diteliti oleh FFP.
Dengan menggunakan 12 indikator, FFP menempatkan Sudan Selatan, Somalia, dan Afrika Tengah di urutan tiga teratas atau sebagai negara-negara yang ketahanan nasionalnya paling rapuh. Sementara yang menduduki peringkat terakhir, atau sebagai negara terstabil di dunia pada tahun lalu, adalah Finlandia (peringkat 179, skor 18,7), Norwegia (peringkat 178, skor 20,5), dan Swiss (peringkat 177, skor 21,1).
Jika dikaitkan dengan pernyataan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra, yang baru-baru ini mengatakan bahwa Indonesia akan bubar pada 2030, pengamat politik Muradi mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya rapuh, tapi mampu melewati 72 tahun sejak 1945. Melihat itu, maka sebenarnya Indonesia memang tidak dalam posisi yang merisaukan.
“Rapuh karena Indonesia memang pada dasarnya bangsa multietnik. Tapi, betapa pun situasinya, kita lihat hari ini, Indonesia sebagai satu bangsa tetap di irama yang sama. Maksudnya berbeda tapi tetap bareng-bareng. Kalau beda, sebenarnya masalahnya apa, itu saja kan,” kata Muradi kepada Media Indonesia, Jumat (23/3).
Terkait hasil riset FFP, Muradi justru berpandangan bahwa ada rasa optimistis dari seluruh warga negara. “Saya lihat indeks kerapuhan hanya sebuah peringatan saja, kita harus tetap ikatan yang sama,” kata dia.
Muradi kemudian mengatakan bahwa ada enam indikator negara di ambang kehancuran. Pertama, adalah stabilitas politik. Lalu, kondisi perekonomian. Kemudian, militer dikaitkan dengan kecenderungan politik, persepsi publik tentang perbedaan, dan posisi negara sebagai bagian dari kekuatan regional.
Namun, dari enam indikator itu, yang paling berpengaruh adalah stabilitas politik dan itu ditentukan oleh para elite. (A-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved