Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
MARAKNYA hoaks maupun ujaran kebencian di Jawa Barat (Jabar) tidak terlepas dari sikap tidak permisif masyarakat terhadap perbedaan sikap politik.
"Hoaks itu karena sikap warga yang tidak permisif terhadap warna politik berbeda," Ketua Pusat Studi Politik & Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran Muradi saat dihubungi, Kamis (22/2).
Menurut dia, masyarakat Jabar secara garis besar terbagi atas dua kelompok, yakni nasionalis dan relijius.
Bagi masyarakat relijius, sambung dia, merasa tidak nyaman dengan kelompok nasionalis. Sebab, kalangan nasionalis dipersepsikan sebagai kelompok sekuler. "Sebagian warga Jabar merasa lebih nyaman dengan kelompok nasionalis dengan warna agama atau nasionalis relijius," kata dia.
Presiden Joko Widodo maupun Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, sambung Muradi, dipersepsikan sebagai sosok yang nasionalis. "Dan sosok Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto dipersepsikan lebih relijius," papar dia.
Kalangan relijius, lanjut dia, memandang pemimpin dengan label nasionalis tidak mau memperjuangkan kehendak mereka. Bahkan, sambung Muradi, sikap nasionalis yang akomodatif terhadap kelompok lain dipandang bisa merusak tatanan kehidupan beragama.
Sehingga, menurut Muradi, bisa saja ada warga yang awalnya sangat mengidolakan Ridwan Kamil selaku Wali Kota Bandung berbalik menjadi sangat membenci. Itu karena parpol pengusung Ridwan Kamil dalam pemilihan gubernur berbeda dengan saat pemilihan wali kota.
Di sisi lain, tambah Muradi, kalangan nasionalis bertahan di sejumlah basis mereka. "Militansi kalangan nasionalis di Jabar bahkan mirip dengan di Jawa Tengah," papar dia. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved