Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Pilpres 2019 Bisa Tawarkan Kandidat yang Beragam

Nur Aivanni
04/1/2018 10:20
Pilpres 2019 Bisa Tawarkan Kandidat yang Beragam
(ANTARA/PUSPA PERWITASARI)

ADANYA kandidat yang beragam dalam Pemilihan Presiden 2019 akan lebih menguntungkan masyarakat sebagai pemilih.

Masyarakat akan memiliki alternatif pilihan ketimbang calon yang berkompetisi hanya ada dua pasangan calon.

Menurut Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini seusai acara diskusi yang bertajuk Selain Jokowi dan Prabowo, Siapa Berani Ramaikan Pemilu 2019? di Jakarta, kemarin, jika Pilpres 2019 hanya terpolarisasi pada dua kekuatan besar, isu SARA tidak tertutup kemungkinan akan digunakan.

Hal itu terjadi karena pertarungan yang akan terbangun tidak kompetitif.

"Polarisasi yang sangat tajam akan melahirkan praktik kampanye yang tidak demokratis, penggunaan isu SARA, menguatnya politik identitas, dibangun dikotomi yang tajam antara pemilih dan pemilih tidak diajak berpikir berbasis program, tapi diajak dengan sentimen personal."

Polarisasi itu bisa dihindari jika ada figur alternatif yang muncul dalam Pilpres 2019.

Saat ini baru muncul dua nama kuat yang diprediksi akan bertarung dalam Pilpres 2019, yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Titi mengatakan bahwa kandidat yang beragam dalam pilpres akan meningkatkan partisipasi pemilih.

Hal itu sebagaimana yang terjadi di pilkada, yakni daerah yang calon kepala daerahnya banyak diikuti dengan angka partisipasi pemilih yang tinggi.

"Contoh Pilpres 2009, ada tiga calon jika dibandingkan dengan Pilpres 2014 yang hanya dua. Angka partisipasi pemilih (Pilpres 2009) 75% yang kemudian turun jadi 70% (Pilpres 2014). Itu (turun) salah satunya karena meskipun ada fragmentasi yang kuat, ada suara-suara (masyarakat) yang tidak diwadahi dalam kompetisi," terangnya.

Untuk itu, ia berharap parpol mau mengajukan kader terbaiknya terlebih dahulu untuk diusung dalam proses pemilu.

Kalaupun nanti ada pertimbangan lain untuk melakukan koalisi, itu yang dibangun harus berbasis pada program yang jelas, bukan hanya sekadar basis elektabilitas.

Masih kuat

Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio mengatakan belum munculnya siapa figur yang akan tampil dalam Pilpres 2019 lantaran masih kuatnya figur Jokowi yang digadang-gadang akan maju kembali.

Maka itu tidak mengherankan bila nama yang dimunculkan pun justru untuk bersanding dengan Jokowi ketimbang menjadi lawannya.

"Figur Jokowi terlalu kuat. Bersandingan dengan Jokowi jalan politiknya lebih turun ketimbang jadi kompetitor," ucapnya.

Adapun untuk sosok Prabowo, Hendri menilai sebaiknya Prabowo tidak perlu memaksakan diri untuk maju kembali dalam Pilpres 2019.

Prabowo lebih baik mengajukan figur lain dalam pilpres mendatang.

"Kalau Prabowo maju, sama aja mengizinkan Jokowi dua periode," ucapnya.

Wasekjen DPP PKB Lukmanul Khakim mengungkapkan ada suara dari bawah yang menginginkan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar untuk maju dalam Pilpres 2019, baik sebagai capres maupun cawapres.

Namun, lebih banyak yang menginginkan sebagai cawapres.

"Cak Imin dikehendaki maju, baik capres maupun cawapres, tapi itu belum keputusan DPP PKB." (P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya