Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Rujuk Dengan RK Memungkinkan Golkar Menangi Pilgub Jabar

Putri Anisa Yuliani
25/12/2017 15:43
Rujuk Dengan RK Memungkinkan Golkar Menangi Pilgub Jabar
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

PARTAI Golkar bisa saja memenangkan Pilkada Jawa Barat 2018 dengan syarat mengadakan rujuk kembali dengan bakal calon gubernur Ridwan Kamil.

Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia, Hamdi Muluk posisi Ridwan Kamil memiliki elektabilitas tinggi dan menjadi figur yang paling kuat saat ini di Jawa Barat. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh tokoh lain yang berasal dari partai politik dan menjadi magnet pada diri walikota Bandung tersebut.

"Pilihan yang paling memungkinkan adalah rujuk kembali dengan Ridwan Kamil," kata Hamdi saat dihubungi Sabtu (23/12).

Namun demikian, jika rujuk kembali dengan RK, sebutan Ridwan Kamil, Hamdi menilai Golkar akan sulit mengalah setelah sebelumnya mencabut dukungan dan mendeklarasikan kadernya sendiri Dedi Mulyadi untuk menduduki kursi nomor satu di Jawa Barat.

Hal ini dinilai Hamdi bukanlah hal yang menyenangkan bagi Partai Golkar yang juga partai besar di Jawa Barat.

Di sisi lain, jika berkoalisi dengan partai lain seperti Partai Demokrat yang mengusung Dedy Mizwar, lagi-lagi kemungkinannya Partai Golkar harus mengalah dan hanya akan mendapat kursi Jabar 2. Jikapun ngotot ingin kursi gubernur, maka negosiasinya akan terjadi dengan alot.

"Pilihannnya 'melawan' RK tapi harus mencari pasangan yang kuat mendongkrak elektabiltas, sayangnya pilihannya juga terbatas, bisa dengan Dedy Mizwar misalnya, tapi lagi-lagi negonya alot," lanjut Hamdi.

Pilihan buntu justru akan terjadi jika berkoalisi dengan PDIP. Sebab hingga kini PDIP belum jelas akan mengusung siapa. Hamdi pun memandang tak ada tokoh lain di dalam PDIP atau di luar parpol tersebut yang memiliki figur sekuat atau mendekati elektabilitas RK.

Padahal gambaran figur yang akan diusung sebaiknya sudah mulai ditampakkan agar bisa diukur elektabilitasnya di mata masyarakat. Terlebih lagi bulan Januari 2018 sudah mulai dibuka untuk pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur.

"Nah, PDIP belum jelas mau usung siapa. Sementara PDIP tidak punya kader yang cukup kuat buat menghadang RK," ungkapnya.

Di sisi lain, RK bukan tidak memiliki kelemahan. Menurut Hamdi, posisi RK yang tidak tergabung menjadi anggota parpol manapun bisa menjadi kelemahan.

"RK dalam hal ini memang bisa menjadi magnet buat partai-partai yang tidak punya kader populer. Kecuali partai-partai memainkan strategi satu demi satu kabur dari RK, sehingga RK tidak kebagian partai," ucapnya.

Hamdi menilai dinamika peta politik Jabar mendekati pendaftaran Pilkada akan sangat fluktuatif. Ia bahkan menduga dinamikanya akan seperti Pilkada DKI.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya