Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Nasionalisme Tumbuhkan Toleransi Di Tengah Keberagaman

Selamat Saragih
09/12/2017 19:58
Nasionalisme Tumbuhkan Toleransi Di Tengah Keberagaman
(ANTARA FOTO/Ampelsa)

DI tengah-tengah situasi global yang sedang tak menentu seperti saat ini, yang paling penting bagi bangsa Indonesia adalah menciptakan harmoni di negeri sendiri. Salah satunya yakni dengan meningkatkan nasionalisme.

Staf Khusus Presiden Jokowi, Diaz Hendropriyono mengingatkan hal tersebut dalam kesempatan Seminar Nasional Agama dan Kebudayaan : Strategi Kebudayaan: Dialog Agama dan Kebudayaan untuk Indonesia Berkemajuan oleh Komunitas Muda Nusantara di Jakarta, Sabtu (9/12).,

"Saat ini nasionalisme sedang tergerus, ditunjukkan oleh berbagai survey. Menurut survey, ada 4 persen penduduk Indonesia yang mendukung ISIS. Meski terlihat kecil tetapi jika dibandingkan dengan 250 juta penduduk Indonesia merupakan angka yang besar," ujar Diaz.

Menurunnya derajat nasionalisme masyarakat Indonesia, imbuh dia, juga ditunjukkan dengan adanya berbagai peristiwa intoleransi. Sejumlah kejadian intoleransi mencoreng kehidupan bernegara seperti pembakaran gereja di Aceh Singkil, pembakaran Vihara di Tanjung Balai serta Pembakaran Mushola di Tolikara.

Diaz menambahkan perkembangan liberalisme juga meningkatkan individualisme, yang tidak sesuai dengan nilai Pancasila, yaitu gotong royong. Selain itu, revolusi teknologi juga meningkatkan individualisme.

Agama, menurut Diaz, seharusnya dijadikan sebagai alat pemersatu, bukan sebagai alat politik. "Tugas ulama, pemuka agama untuk menyatakan ini. Agama yang beragam di Indonesia, harus menjadi berkah," tandasnya.

Sementara itu, Aktifis Milenial Danik Eka Rahmaningtyas mengatakan upaya meningkatkan kesadaran terhadap keragaman mesti dilakukan. Sejauh ini, dia menilai, banyak salah informasi di media sosial tentang isu-isu sensitif semacam ini.

"Keragaman ada dimana-mana. Kesadaran terhadap keragaman di Indonesia harus diselesaikan dulu, baru ke global. Konflik terjadi di mana-mana karena kesadaran akan keberagaman belum terbentuk. Banyak misinformasi yang menjadi propaganda yang menumbuhkan kebencian di masyarakat," ujarnya.

Adapun, Safee Peters, Presiden Asosiasi Mahasiswa Internasional UIN Jakarta menyatakan, konflik muncul karena masyarakat menolak memahami budaya lain dalam sebuah sistem masyarakat yang beragam.

"Konflik juga muncul karena masyarakat terkadang menganggap budayanya lebih baik dibanding budaya lainnya, atau stereotipe. Nah, mestinya agama dapat menjadi jawaban bagi permasalahan ini, dapat membantu masyarakat menerima keberagaman dan membuka diri terhadap kebudayaan lain," pungkasnya.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya