Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kedepankan Dakwah dengan Hikmah, Bukan Memecah Belah

Dero Iqbal Mahendra
27/11/2017 20:18
Kedepankan Dakwah dengan Hikmah, Bukan Memecah Belah
(thinkstock)

MENYIKAPI kondisi masyarakat yang saat ini mudah terprovokasi dengan berbagai macam hal, khususnya terkait dengan isu suku, agama, ras (SARA) Ketua Umum Ikhwanul Muballighin Mujib Khudori meminta agar umat islam sebagai mayoritas dapat mengedepankan sifat mengayomi dan tabayun dalam menyikapi segala informasi.

"Kita di Indonesia yang majemuk dan plural harus mengayomi semua, harus diajak bermusywarah berdialog dan duduk empat mata, jangan saling hujat dan mencemooh hingga saling menyalahkan. dalam menyikapi informasi yang ada jangan langsung diterima mentah mentah tetapi tabayun dahulu apakah benar informasinya, kalau benar bagaimana menyikapinya dengan cara persuasif bukan dengan marah marah," jelas Khudori saat ditemui di Kuningan Jakarta, Senin (23/11).

Dirinya juga mengingatkan dengan karakter masyarakat Indonesia cenderung paternalistik yang gampang mengikuti dan dipengaruhi hingga mudah terprovokasi terutama karena mengikuti tokoh tertentu. Maka menurutnya setiap tokoh diharapkan dapat bijak dalam menanggapi segala sesuatu tanpa mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok tetapi harus mengedepankan kepentingan yang lebih besar yakni persatuan Indonesia agar tetap utuh.

Kelompok mayoritaspun diharapkan jangan saling menunjukkan kekuatannya dengan arogansi sebab dikhawatirkan nantinya akan diikuti oleh kelompok lainnya. Jika seperti itu dikhawatirkan akan menghancurkan Indonesia.

"Berdakwah itu dengan hikmah, mengajak orang menuju kebenaran dengan cara yang baik dari hati kehati. Jangan emosi atau marah marah, tetapi dengan ramah. Mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul dengan argumen bukan sentimen, dengan cara elegan bukan dengan arogan, itu lah dakwah nabi," terang Khudori.

Karena itulah menurutnya dalam menyikapi pidato politikus NasDem Victor Laiskodat dirinya meminta agar masyarakat menyikapinya dengan bijak dan tabayun sebagaimana dicontohkan oleh Rasullullah SAW. Ketika

"Kita ini jangan terlalu responsif. Seandainya benar (pidato Victor) kita harus tahu cara menyikapinya," ujar dia. Nabi Muhammad SAW diancam akan dibunuh sekalipun dirinya tidak langsung mengibarkan bendera perang namun lebih mengutamakan berdoa kepada Allah SWT.

Oleh sebab itu menurutnya pernyataan Victor soal paham khilafah yang sepenuhnya pendapat pribadi. Meski dirinya sendiri memandang bahwa sistem Khalifah tidak relevan di indonesia. Menurutnya Islam ala Indonesia itu adalah islam yang merangkul dan ramah dan itu sifatnya final.

"Khilafah itu adalah upaya mereka yang ingin merubah dasar negara, dan itu tidak benar. Negara mana yang ada khilafah, tidak ada. Indonesia dengan mayoritas muslim saja tidak ada negara khilafah karena islam Indonesia itu mengayomi. Pancasila sendiri tidak bertentangan dengan Al-Quran dan justru malah cocok dimana kelima sila itu diajarkan dalam Al-Quran dan Al-Hadist," ujar Khudori.

Menurutnya semua pihak diminta duduk bersama mencari solusi terbaik terkait persoalan ini. "Harusnya memang tabayun, duduk bersama mencari solusi. Jangan kedepankan permusuhan, apapun yang terjadi kita duduk bersama," jelas Khudori.

Terlebih, menurutnya Victor juga telah meminta maaf atas ucapan yang dinilai sebagian pihak tak pantas. "Kalau ada kesalahan dengan besar hati dimaafkan. Apalagi orang yang bersangkutan sudah minta maaf, masa kalau sudah minta maaf harus dicecar," pungkas dia. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya