Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
POLITISI Partai Golkar Yorrys Raweyai menemui Ketua DPD RI Oesman Sapta di Gedung Nusantara III DPR RI. Usai pertemuan, Yorrys mengaku kedatangannya hanya untuk bersilaturahim dengan Ketua Umum Partai Hanura tersebut. Ia juga memastikan kedatangannya tidak untuk membahas soal Golkar.
Adapun, Yorrys merupakan mantan Korbid bidang Polhukam Partai Golkar yang vokal menyuarakan pergantian Ketua Umum saat Novanto ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Namun, saat Novanto menang praperadilan pada penetapan tersangka untuk pertama kali, Yorrys malah dipecat dari kepengurusan Golkar.
Mengenai masalah yang saat ini tengah dihadapi oleh Golkar, Yorrys menilai rakyat mulai marah dengan perilaku yang ditunjukkan oleh Novanto atas kasus hukum yang menimpanya. Menurut Yorrys, masyarakat begitu marah dan tidak simpatik sedikitpun kepada Novanto.
"Rakyat mulai marah, bukan simpati atas perilaku yang dilakukan Novanto," ujar Yorrys di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (21/11).
Menurutnya, kasus yang menyeret Novanto ini sangat berpengaruh besar terhadap elektabilitas Partai Golkar. Oleh karena itu, ia berpendapan pemberhentian harus segera dilakukan dengan memperhitungkan dampak terhadap langkah politik Partai Golkar ke depan. Jika Munaslub tidak dilakukan dengan segera, sambung Yorrys, tidak ada waktu lagi bagi Golkar untuk bangkit. Apalagi Pilkada 2018 dan Pemiu 2019 sudah diambang pintu.
"Kita tidak ada waktu lagi. Subtansinya adalah memecat Novanto. Kita semua pahami bahwa kasus yang dialami Novanto ini akan berdampak pada elektabilitas kita (Golkar)," tandasnya.
Menyinggung soal usulan pelaksana tugas ketua umum yang direkomendasi Dewan Pakar Partai Golkar, Yorrys menilai hal itu tidak perlu. Menurutnya, struktur kepartaian Golkar dalam AD/ART sudah menunjuk Sekretaris Jenderal, Ketua Harian, dan Koordinator Bidang (Korbid) yang dapat menjalankan fungsi partai, bila Ketua Umum berhalangan. Yorrys merujuk pada kandidat dalam munaslub Partai Golkar tahun 2014 lalu di Bali. Saat itu, ada beberapa para pesaing Novanto yang maju yaitu Ade Komarudin, Mahyudin, Aziz Syamsudin hingga Priyo Budi Santoso.
"Kalau kita bicara tentang Ketua Umum kan kita bisa lihat satu tahun lebih yang lalu kan ada proses demokrasi di Bali. Di Bali itu ada enam caketum kan yang kebetulan dimenangkan SN. Yang lain itu ada Airlangga, ada Akom, ada Aziz, ada Mahyudin, ada Priyo. Mereka sudah teruji, sudah menyampaikan visi dan misi dan mereka kader-kader Golkar yang mengalami proses seleksi secara internal, ikut dalam proses perebutan ketum di Bali. Sekarang kesempatan mereka. Kita tinggal cari siapa yang kira-kira, kita tidak usah munafik bahwa semua manusia ada masalah. Tapi siapa yang paling sedikit (masalahnya) dan bisa diterima sebagai ketum partai. Tapi saya cenderung ke Airlangga, dia cukup senior di partai," paparnya.
Sementara untuk posisi Ketua DPR RI, menurutnya banyak tokoh yang bisa menjadi calon pengganti Novanto. Apalagi berdasarkan UU MD3, Golkar yang paling berhak melakukan pergantian itu. Yorrys menyebut tokoh-tokoh seperti Fadel Muhammad, Mahyudin, Aziz Syamsuddin, Bambang Soesatyo, Kahar Muzakir. Termasuk mantan Ketua DPR RI Ade Komaruddin. Menurut dia, nanti bisa dilihat siapa yang terbaik.
Yorrys menekankan seorang calon ketua DPR harus memiliki kematangan atau pengalaman dalam berpolitik. "Harus punya pengalaman, jam terbang, dan punya kematangan dalam mengelola dan memiliki leadership," pungkasnya. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved