Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Menteri Porak Porandakan Partai Islam

07/10/2017 09:41
Menteri Porak Porandakan Partai Islam
(MI/ADAM DWI)

PARTAI Islam harus tetap ha­dir di negara demokrasi seperti Indonesia demi membangun kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada umat Islam. Tanpa ada partai Islam, umat tidak bisa memperjuangkan aspirasi di tingkat kebijakan dan cenderung merasa terzalimi oleh pemerintah.

Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Djan Faridz mengemukakan hal itu dalam diskusi bertema Peran Partai Islam dalam pembangunan nasional, di gedung perpustakaan Universitas Indonesia (UI), Depok, kemarin. Turut hadir sebagai pembicara pengamat politik UI Yon Machmudi dan dosen sastra Persia UI Bastian Zulyeno.

Djan mengatakan, di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, partai Islam menghadapi hadangan dari sisi pemerintah. Kendati begitu, ia menyebut hal itu bukan berdasarkan perintah dari Jokowi.

Menurut Djan, Presiden Jokowi justru proumat Islam. Hanya saja kementeriannya ada yang tidak bisa menjabarkan amanat Presiden hingga menggilas partai Islam. Misalnya, kata dia, secara tidak langsung PPP telah diporakporandakan oleh menteri hukum dan hak asasi manusia.

“Sebetulnya Presiden tahu masalah ini, tapi beliau juga pusing menghadapi menteri-menterinya,” tegas Djan.

Pada kesempatan yang sama, Yon Machmudi memperkirakan partai Islam di Indonesia akan berkembang. Namun, itu dengan syarat jika mampu memunculkan gerakan-gerakan populer yang bisa mengikuti perkembangan sosiologis Islam di Indonesia.

“Yang terjadi saat ini, secara sosiologis umat Islam telah berubah. Namun, sayangnya strategi partai Islam tidak berubah. Jadi, menurut saya, partai Islam perlu memikirkan ulang dan mengubah cara pendekatannya itu. Karena sosiologis masyarakat Islam sekarang telah berkembang, bukan lagi seperti dulu,” ungkap Machmudi.

Pernyataan itu dibenarkan Djan. Diakuinya PPP masih berperilaku sebagai partai Islam tradisionalyang mengandalkan kaderisasi secara turun-temurun. Ia merasa perlu mengubah strategi untuk menarik generasi muda masuk ke PPP.
“Agar mudah menarik gene­rasi muda itu, ketua partai itu harus gaul,” ujarnya. (*/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya