Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Elektabilitas Jokowi Dongkrak PDIP

Christian Dior Simbolon
06/10/2017 07:56
Elektabilitas Jokowi Dongkrak PDIP
(MI/RAMDANI)

KEPUASAN publik terhadap kinerja Presiden Jokowi menjadi berkah elektoral bagi PDI Perjuangan. Dalam tiga tahun terakhir, elektabilitas partai banteng bermoncong putih itu terus naik seiring menguatnya elektabilitas Jokowi sebagai calon presiden 2019.

“Kecuali PDIP, semua parpol cenderung stagnan atau menurun. Secara kualitatif, efek tokoh atau calon presiden tampaknya menjadi penyebab naiknya suara dukungan terhadap PDIP,” ujar Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan saat memaparkan hasil survei di Jakarta, kemarin.

Data hasil survei didapat dari wawancara lapangan pada 3-10 September 2017 terhadap 1.220 responden yang dipilih menggunakan metode multistage random sampling.

Responden yang dapat diwawancarai secara valid (response rate) sebanyak 1.057 orang atau 87% dari total populasi. Margin error survei ini kurang lebih sekitar 3,1% pada tingkat kepercayaan 95%.

Dari 1.057 responden, 27,1% mengaku akan memilih calon legislatif dari PDIP jika pemilu diadakan sekarang disu­sul Golkar (11,4%), Gerindra (10,2%), Demokrat (6,9%), PKB (5,5%), PKS (4,4%), PPP (4,3%), PAN (3,6%), NasDem (2,4%), Perindo (2,0%), dan Hanura (1,3%).

Tingginya elektabilitas PDIP sejalan dengan stabilnya kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi dan menguatnya elektabilitas Jokowi. Sebanyak 68% mengaku puas terhadap kinerja pemerintah. Ketika diwawancara dengan diberi kebebasan memilih (top of mind), 38,9% bakal memilih Jokowi, Prabowo Subianto (12,0%), dan Susilo Bambang Yudhoyono (1,6%).

Pada skema semiterbuka, Jokowi dipilih 45,6% responden, sedangkan Prabowo didukung 18,7%. “Ada asosiasi yang kuat antara pilihan parpol dan pilihan presiden atau yang dikenal dengan efek coattail. PDIP dalam hal ini kuat diidentikan dengan Jokowi. Selama penilaian terhadap Jokowi positif, dukungan terhadap PDIP juga semakin kuat,” ujar Djayadi.

Tak hanya pada PDIP, menurut Djayadi, efek coattail juga terjadi pada Gerindra. Naik turunnya elektabilitas Gerin­dra kerap beriringan dengan naik turunnya elektabilitas Prabowo Subianto sebagai calon presiden.

Pada periode Januari-Februari 2017, survei SMRC mere­kam elektabilitas Prabowo naik hingga 23,9% (menggunakan skema semiterbuka). Naiknya elektabilitas Prabowo diikuti kenaikan elektabilitas Gerindra yang ketika itu dipilih 12,6% responden.

“Kecenderungan paralel antara Jokowi dan PDIP serta Gerindra dan Prabowo itu sangat kuat meskipun bukan berarti satu-satunya faktor,” jelas Djayadi.

Kapitalisasi ketokohan
Ketokohan Jokowi ini tidak terlalu berdampak mendongkrak elektabilitas partai pendukung pemerintah lainnya, Golkar misalnya. Meskipun menjadi partai pertama yang mengusung Jokowi pada 2019, elektabilitas partai beringin hijau relatif stagnan. “Golkar belum mampu mengapitalisasi ketokohan Jokowi,” ujarnya.

Di sisi lain, survei SMRC juga menunjukkan bahwa pilihan partai tidak selamanya sejalan dengan pilihan presiden, 12% pemilih PDIP misalnya, ‘membelot’ memilih Prabowo sebagai capres. Begitu pula sebaliknya. Sebanyak 7% pemilih Gerindra menginginkan Jokowi sebagai capres.

Dalam menanggapi hasil survei tersebut, politikus PDIP Maruarar Sirait mengamini bahwa naiknya elektabilitas PDIP tidak lepas dari peran Jokowi sebagai magnet elektoral. “Bahkan dari PKS dan Gerindra ada yang memilih Jokowi. Dia bisa merebut suara di luar PDIP,” ujar Ara, sapaan akrab Maruarar.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan partainya bakal tetap solid berada di belakang pemerintahan Jokowi-JK. (P-4)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya