Jika Anda tumbuh di tahun 90-an, nama "Daihatsu Espass" pasti membekas sebagai minibus dengan desain aerodinamis (di zamannya) dan ruang kabin yang ajaib luasnya. Sayangnya, ia juga dikenal dengan posisi mesin di bawah jok yang sering membuat "hangat" pengemudi. Maju ke tahun 2026, Daihatsu akhirnya menjawab doa para loyalisnya. Bukan dengan menghidupkan kembali mesin karburator, melainkan menerjemahkan konsep Daihatsu Vision F menjadi realitas produksi massal yang oleh banyak netizen Indonesia dijuluki sebagai: "The New Espass EV 2026".
Sebagai Tech Journalist yang mengikuti perkembangan mobil ini sejak debut konsepnya di GIIAS beberapa tahun lalu, saya melihat ini bukan sekadar ganti kulit. Ini adalah transformasi radikal dari workhorse konvensional menjadi Smart Logistic Vehicle. Apakah "Espass Reborn" ini mampu menantang dominasi Mitsubishi L100 EV yang sudah lebih dulu mencuri start?
Mari kita bedah teknologinya secara mendalam, objektif, dan tanpa bias nostalgia.
⚡ Quick Tech Specs: Daihatsu Vision F (Espass 2026)
- Platform: DNGA (Daihatsu New Global Architecture) - Modified for BEV
- Baterai: 32 kWh Lithium-Iron Phosphate (LFP)
- Motor Listrik: 35 kW (47 HP) / 120 Nm Torque
- Range (Jarak Tempuh): ~220 km (WLTP Cycle)
- Charging: DC Fast Charging (CCS2) 30-80% dalam 45 menit
- Payload: Maksimal 750 kg
Desain & Engineering: Aerodinamika Kotak Sabun?
Secara visual, Daihatsu mempertahankan siluet boxy demi memaksimalkan volume kargo, namun dengan sentuhan futuristik. Wajah depannya tertutup rapat (grille-less) dengan lampu LED pixel yang mengingatkan kita pada desain gadget retro. Ini adalah "Information Gain" penting: Daihatsu memindahkan seluruh komponen powertrain ke bagian bawah lantai (skateboard chassis).
Apa artinya bagi Anda? Tidak ada lagi panas mesin di bawah pantat. Pusat gravitasi (Center of Gravity) kini jauh lebih rendah berkat baterai, membuat pengendalian mobil ini jauh lebih stabil saat menikung dibandingkan leluhurnya, Espass atau Gran Max bensin, yang cenderung limbung.
Interior & Fitur: Minimalis Utilitarian
Masuk ke dalam, nuansa "mobil kerja" masih terasa, tapi dengan upgrade digital yang signifikan.
- Digital Dashboard: Panel instrumen 8 inci yang menampilkan sisa baterai, estimasi jarak, dan status regeneratif braking.
- Shift-by-Wire: Tuas persneling diganti dengan tombol putar (rotary gear selector), membebaskan ruang kaki di baris depan.
- Fleet Management System: Unit head unit 10 inci sudah terintegrasi dengan sistem telematik untuk memantau lokasi kendaraan dan perilaku pengemudi (sangat berguna untuk pemilik bisnis).
Komparasi: Daihatsu Vision F vs. Kompetitor
Di tahun 2026, pasar Commercial EV di Indonesia sudah cukup ramai. Berikut perbandingan data teknis antara "New Espass" ini melawan rival utamanya.
| Spesifikasi | Daihatsu Vision F (Espass 2026) | Mitsubishi L100 EV | DFSK Gelora E |
|---|---|---|---|
| Kapasitas Baterai | 32 kWh | 20.1 kWh | 42 kWh |
| Jarak Tempuh | ~220 km | ~180 km | ~300 km |
| Tenaga Motor | 35 kW (47 HP) | 31 kW (41 HP) | 60 kW (80 HP) |
| Pintu Geser | Dual Sliding Door | Single/Dual (Optional) | Dual Sliding Door |
| Estimasi Harga | Rp 350 - 380 Juta | Rp 320 Juta | Rp 399 Juta |
Analisis Tech Journalist: Daihatsu mengambil jalan tengah yang cerdas ("Sweet Spot"). Baterainya lebih besar dari L100 EV untuk jangkauan yang lebih aman di kemacetan Jakarta, namun tidak seberat dan semahal Gelora E. Ini adalah racikan pas untuk logistik last-mile delivery dalam kota.
Real World Performance: Bukan untuk Balapan
Jangan berharap akselerasi instan yang menjambak seperti Hyundai Ioniq 5. Motor listrik 35 kW disetting untuk efisiensi dan torsi angkut, bukan kecepatan. Namun, torsi instan 120 Nm yang tersedia dari 0 RPM membuat "New Espass" ini terasa sangat gesit di lampu merah, jauh lebih responsif dibanding Gran Max 1.5L bensin yang harus menunggu putaran mesin naik.
🛑 Pros & Cons: Verdict Tech Journalist
Pros (Kelebihan):
- Biaya Operasional: Biaya listrik per km hanya sekitar Rp 200-300, jauh lebih hemat dibanding bensin (Rp 1.200/km).
- Kenyamanan Kabin: Senyap dan bebas getaran mesin. AC bekerja lebih efisien karena sistem elektrik.
- Radius Putar: Sangat kecil (4.8 meter), juara untuk gang sempit.
- Bebas Ganjil Genap: Privilese utama kendaraan listrik di Jakarta.
Cons (Kekurangan):
- Top Speed Terbatas: Dibatasi secara elektronik di 100 km/jam demi keamanan baterai.
- Infrastruktur Charging: Masih bergantung pada SPKLU jika tidak punya home charging.
- Harga Awal: Masih 2x lipat dari Gran Max bensin konvensional.
Kesimpulan & Harga
Daihatsu Vision F atau "Espass 2026" ini bukan untuk semua orang. Jika Anda mencari mobil keluarga murah untuk mudik lintas provinsi, versi bensin masih lebih masuk akal. Namun, bagi pengusaha UMKM atau logistik perkotaan yang ingin memangkas biaya operasional jangka panjang dan citra perusahaan yang "Green", ini adalah investasi brilian.
Estimasi Harga (OTR Jakarta 2026):
- Blind Van EV: Rp 350.000.000
- Passenger Van EV (Minibus): Rp 385.000.000
Checklist Sebelum Membeli (SPK)
- [ ] Hitung ROI: Pastikan penghematan BBM menutupi selisih harga beli dalam 3-4 tahun.
- [ ] Daya Listrik Rumah/Gudang: Pastikan minimal 2200 VA (untuk portable charging) atau 7700 VA (untuk Wallbox).
- [ ] Rute Harian: Jika rute harian armada Anda di bawah 150 km, mobil ini sempurna. Jika sering keluar kota, pertimbangkan ulang.
