Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
PERJALANAN spiritual kerap dipahami sebagai upaya mendekat kepada Tuhan melalui ritual. Namun dalam pengalaman umrah dan ziarah ke Mesir, Madinah, dan Makkah (18–30 Desember 2025), saya justru merasakan tantangan terbesarnya bukan pada ritual, melainkan pada menjaga kehadiran Tuhan dalam kesadaran.
Tuhan hadir saat manusia berada dalam kesadaran penuh. Sebaliknya, ketika lengah, ego dengan mudah merebut posisi Tuhan dalam diri. Inilah pergulatan batin yang terasa nyata ketika berziarah ke makam Muhammad Al-Bushiri di Iskandaria, Imam Hasan cucu Nabi Muhammad di Kairo, Masjid Al-Azhar, Piramida, hingga mumi Firaun. Sejarah, spiritualitas, dan kemanusiaan seperti bertemu dalam satu panggung besar —dan manusia berada di tengahnya.
Ziarah kepada tokoh-tokoh sejarah Islam membuka ruang refleksi diri. Dalam memuji dan mengenang Nabi Muhammad, seseorang justru diajak becermin: sejauh mana keteladanan itu hidup dalam laku sehari-hari. Namun ketika menghadap Allah, ruang refleksi menjadi lebih luas —bukan hanya personal, tetapi juga sosial dan kesejarahan. Luka sejarah seperti tragedi pembunuhan Imam Hasan tidak cukup dikenang sebagai duka masa lalu, melainkan perlu diterangi dengan kewarasan agar tidak diwariskan sebagai kebencian atau justifikasi kekerasan.
Sejatinya kehidupan manusia adalah sebuah panggung. Setiap orang membangun panggung sendiri dalam diri. Pertanyaannya: siapa yang menjadi sutradara? Tuhan atau ego? Tanpa kesadaran akan panggung batin ini, seseorang dapat kehilangan arah bahkan tanpa disadari menjadikan dirinya sekadar pemain dari skenario yang ditulis oleh hasrat, ketakutan, atau kepentingan lain.
Dalam berbagai ruang —ritual, sosial, intelektual— banyak pihak berlomba merebut perhatian kesadaran manusia. Ironisnya, perebutan itu sering menggunakan bahasa ketuhanan. Di sinilah manusia kerap kehilangan Tuhan justru ketika merasa paling dekat dengan-Nya.
Tradisi spiritual Islam mengenal jenjang kesadaran diri. Ketika panggung batin dikuasai naluri dan dorongan hewani, muncullah nafs amarah atau lawwamah. Namun ketika Tuhan yang diberi ruang utama, lahirlah kesadaran yang lebih jernih —nafs mulhamah— yang mampu menimbang, memilih, dan bertindak dengan tanggung jawab moral.
Memperalat Agama
Manusia memang lahir dengan naluri ketuhanan, tetapi juga membawa kecenderungan kesenangan: pada pasangan, keturunan, harta, kekuasaan, dan kedudukan. Ketika emosi menguasai kecenderungan ini, nilai ketuhanan mudah tergeser. Kesenangan bahkan dapat memperalat agama, ideologi, dan peran publik demi melayani ego. Padahal, para tokoh spiritual seperti Al-Bushiri menulis puisi dan doa bukan untuk memecah belah umat, melainkan untuk becermin pada teladan Nabi Muhammad.
Tauhid, dalam pengalaman ini, bukan sekadar konsep teologis, melainkan disiplin kesadaran. Setidaknya ada empat kunci agar panggung hidup tetap bermakna: kesadaran diri, keberanian memilih dengan orientasi ketuhanan, aktualisasi pilihan dalam tindakan nyata, serta istiqamah. Kalimat tauhid menjadi laku hidup: la ilaha —menyadari banyak tuhan palsu yang berebut kuasa; illa—keberanian memilih; Allah—menetapkan orientasi nilai; dan Muhammad—menjadikan keteladanan sebagai jalan aktualisasi.
Di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, tantangan tauhid justru terasa nyata. Jamaah datang membawa identitas —kelompok, mazhab, kebangsaan, bahkan urusan duniawi. Identitas ini sering menghambat proses melepaskan ego. Ritual, zikir, dan doa berisiko menjadi rutinitas kosong jika tidak disertai kesadaran. Di sinilah pentingnya pembimbing ibadah yang tidak hanya menguasai hukum fikih, tetapi juga kedalaman spiritual.
Perkembangan teknologi digital turut memberi tantangan baru. Media sosial dan komunikasi instan membuat jamaah terus terhubung dengan dunia lama, bahkan sibuk menampilkan pengalaman spiritualnya. Tanpa kesadaran tauhid, ruang digital justru menguatkan ego, bukan memperdalam makna.
Menarik mencermati pengelolaan jamaah di Makkah. Pemerintah Saudi kini tampak lebih berfokus pada pelayanan dan ketertiban: pengaturan arus thawaf dan sa’i, prioritas bagi kelompok rentan, serta pemanfaatan data jamaah. Ketertiban sosial menjadi prasyarat agar ibadah kolektif dapat berlangsung dengan baik.
Dalam situasi itu, saya memilih memburu tauhid, bukan memburu ruang atau posisi mustajab. Mengalir mengikuti keteraturan yang ada, sembari menjaga kesadaran agar Tuhan tetap menjadi sutradara utama.
Pada akhirnya, perjalanan spiritual bukan soal sejauh mana kaki melangkah, melainkan sejauh mana kesadaran tumbuh. Berapa pun sisa perjalanan hidup, yang terpenting adalah mensyukurinya dan menjadikannya lukisan yang indah —bagi diri, sesama, dan Sang Maha Pengasih.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved