Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP Desember umat Kristiani menyiapkan diri merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus Kristus sang Juruselamat umat manusia. Suasana kemeriahan Natal mulai terasa berdenyut, lingkungan sekitar menyajikan dua wajah kontradiktif, bertolak belakang. Di satu sisi, kita menyaksikan pesona kota-kota besar utamanya, berhias aneka lampu warna-warni, pusat perbelanjaan bertabur diskon, foto-foto keluarga berpose di depan pohon Natal hingga rangkaian ibadah yang tertib dan rapi.
Di sisi lain, hanya berjarak satu sentuhan jari di layar telepon genggam (handphone), kita menyaksikan pula aneka berita melalui media elektronik, online, dan jejaring jagat maya tersaji benderang di berbagai pelosok negeri. Ada berita bencana banjir bandang, tanah longsor, rumah terbakar, konflik kekerasan yang menganga lebar, dan ribuan orang yang berada tenda pengungsian dengan alas tikar seadanya.
Di tengah situasi yang kontras inilah, pertanyaan mengemuka: masih relevankah merayakan Natal dengan pesta pora ketika masih banyak orang, sesamaa saudara sebangsa dan setanah air justru sedang meratap pilu di tengah penderitaan akibat bencana alam, konflik kekerasan, dan pengungsian di sejumlah wilayah di tanah Papua?
Pertanyaan reflektif bisa menjadi bahan permenungan di masa menjelang dan puncak perayaan Natal umat Kristiani. Jawaban atas pertanyaan itu tergantung dari bagaimana kita memahami esensi dan makna terdalam Natal.
Jika Natal hanya kita (umat Kristiani) lihat sebagai hari libur keagamaan dan momen konsumsi emosional, maka makna mendasar Natal sebagai solidaritas bersama Yesus, sang Juruselamat yang lahir di kandang hewan di Betlehen, tanah Yehuda, tergerus.
Namun bila kita kembali ke palungan hina, tempat Kristus, sang bayi dilahirkan, kita akan menemukan bahwa Natal sesungguhnya adalah titik simpang dalam perjalanan hidup manusia, panggilan untuk bangkit dalam solidaritas manusia sebagai makluk sosial dan makluk peziarah (homo viator) dalam perjalanan kemanusiaan universal.
Kisah Natal tidak dimulai di istana, melainkan di kendang hina di Betlehem, tanah Yehuda. Yesus, putra Allah, lahir ke dunia bukan di ruang yang wangi dan hangat, tetapi di tempat yang bau dengan ternak, dingin, dan tidak layak. Di situlah, seperti ditulis Injil Yohanes, "Ia menjadi manusia dan tinggal di antara kita." Kata 'tinggal' (eskenosen) berarti mendirikan kemah. Ia ikut berjalan, berkemah, dan hidup sebagai sesama makluk peziarah di bumi yang retak ini.
Sejak awal, Natal adalah deklarasi solidaritas Ilahi: Allah tidak mencintai dari jauh. Ia tidak menolong dari menara gading. Ia masuk dalam sejarah peziarahan manusia yang berantakan. Ia mengalaminya pula dari dalam. Jika Allah sendiri memilih kandang, jalan berbatu, ancaman Herodes, dan status pengungsi ke Mesir, sulit untuk membenarkan cara kita merayakan Natal yang sepenuhnya tercabut dari realitas penderitaan sesama. Kalau jujur Natal pada dirinya selalu berdiri di pihak mereka yang lemah, tersisih, dan terluka akibat bencana alam dan sosial kemanusiaan.
Filsuf eksistensialisme Kristen Gabril Marcel dalam bukunya, Homo Viator: Introduction to a Metaphysic of Hope (1978) menyebut manusia sebagai homo viator, makhluk peziarah, Ziarah berarti 'perjalanan' dalam hidup dari lahir hingga mati. Kita bukan penghuni tetap dunia ini namun peziarah. Hidup bukan ruang tunggu yang nyaman, melainkan jalan panjang menuju tujuan Ilahi yaitu keadilan, damai sejahtera, kasih, solidaritas, dan kebijaksanaan.
Masalahnya, budaya modern sering mengubah kita menjadi semacam homo sedentarius, manusia yang maunya tinggal, menumpuk kenyamanan, dan menutup mata pada realitas di luar tembok rumah, pagar kompleks atau dinding gereja. Natal pun ikut ditarik ke orbit ini. Ia menjadi ritual tahunan yang aman, hangat, dan tidak mengganggu zona nyaman.
Padahal, jika kita jujur pada narasi Alkitab, tokoh-tokoh Natal adalah para peziarah yang tidak nyaman. Maria dan Yusuf berjalan jauh, dari Nazaret ke Betlehem, dalam kondisi hamil muda. Yesus lahir di tempat yang tidak ada ruang bagi mereka. Tak lama kemudian, mereka harus mengungsi ke Mesir, lari dari kekerasan politik.
Dengan kata lain, homo viator bukan konsep abstrak. Ia nyata di tubuh Maria, langkah Yusuf, dan air mata keluarga-keluarga, warga masyarakatan di berbagai pelosok negeri seperti tanah Papua, yang hari ini juga harus mengungsi karena bencana dan konflik kekerasan yang terus membelit saban waktu.
Bila diamati sepintas, berbagai wilayah di pelosok Indonesia tengah dilanda bencana alam berupa banjir, longsor, kerusakan alam dan lingkungan, konflik kekerasan dan ideologi politik. Aneka bencana seperti ini adalah luka menganga yang menyertai peziarahan umat manusia yang adalah warga bangsa.
Di banyak wilayah Indonesia, termasuk Papua, bencana alam dan konflik sosial memaksa orang meninggalkan rumah dalam sekejap. Rumah hanyut, kebun rusak, ternak hilang, sekolah roboh, dan masa depan retak di hadapan anak-anak yang belum mengerti apa-apa.
Mereka adalah peziarah yang kakinya terluka. Pertanyaannya, di manakah gereja, negara, dan masyarakat sipil ketika itu semua terjadi? Di sinilah makna esensial Natal sebagai solidaritas sosial memperoleh kedalaman etis dan moralnya. Merayakan kelahiran Yesus, sang Immanuel sembari bersikap seolah-olah tidak ada jeritan dari tenda-tenda pengungsian adalah ironi spiritual yang sulit diterima nurani.
Solidaritas sosial bukan sekadar aksi karitatif sesaat. Bukan pula sekadar foto pembagian sembilan bahan pokok (sembako) untuk keperluan unggahan media sosial. Namun, solidaritas sosial lebih pada kesediaan melihat, tidak pura-pura buta terhadap penderitaan umat dan sesama. Begitu juga kesediaan mendekat, tidak hanya berempati dari kejauhan serta kesediaan berjalan bersama, mendampingi proses pemulihan, bukan hanya memberi lalu pergi.
Solidaritas mendampingi korban bencana berarti menghadirkan harapan ketika mereka ingin menyerah. Kemudian, menjalin rekonsiliasi pasca konflik berarti merawat kemanusiaan sebelum luka berubah menjadi dendam. Berikut, menguatkan yang trauma berarti menjaga masa depan generasi agar tidak patah oleh peristiwa hari ini.
Manusia sebagai peziarah yang bijak tahu bahwa ia tidak bisa membawa terlalu banyak beban jika ingin sampai ke tujuan. Dengan bahasa lain Natal mengundang kita, umat Kristiani memeriksa “ransel” kehidupan penuh oleh apa. Apakah penuh oleh ego, gengsi sosial, dan hasrat konsumsi yang tak berujung? Ataukah ada ruang di dalamnya untuk memikul beban orang lain?
Bisa dibayangkan jika anggaran dekorasi Natal yang amat besar sebagian dialihkan untuk membeli selimut, kasur, dan makanan siap saji bagi keluarga korban banjir dan longsor serta umat atau warga bangsa di daerah konflik yang tengah berada di bawah tenda pengungsian di tengah hutan belantara. Acara tukar kado diubah menjadi gerakan 'kado untuk orang tak dikenal': paket kebersihan, susu, dan kebutuhan pokok bagi pekerja harian di pinggir kota.
Ibadah perayaan tidak berhenti di gedung, tetapi dilanjutkan dengan kunjungan terencana ke pengungsian atau keluarga korban konflik. Sukacita Natal dalam balutan kemeriahan dan kemewahan tentu tidak dilarang. Namun, umat Kristiani ditantang mengarahkan sumber dan arah sukacita kepada mereka yang lemah tak berdaya seperti di Lokasi bencana atau di bawah tenda pengungsian akibat konflik kekerasan.
Sukacita manusia (umat Kristiani) sebagai makluk peziarah bukan terletak pada apa yang ia simpan, tetapi pada berapa banyak beban yang bisa ia ringankan dari pundak sesama peziarah. Artinya, mendorong dan membangun solidaritas dari emosi ke tindakan konkrit dalam semangat Yesus yang lahir di kandang hewan. Solidaritas sejati tidak berhenti di rasa iba. Iba mudah mengalir, tetapi mudah pula menguap. Solidaritas menuntut struktur. Ia harus bergerak dari emosi ke sistem.
Injil Matius mencatat bahwa setelah berjumpa dengan bayi Yesus, orang-orang Majus pulang ke negerinya melalui jalan lain (Mat. 2:12). Secara praktis, itu dilakukan demi menghindari Herodes. Namun secara simbolik, ia menandakan bahwa perjumpaan dengan Kristus mengubah rute hidup.
Persis di sinilah Natal yang sejati selalu mengubah 'jalan pulang' kita: dari egoisme menuju kepedulian, dari konsumerisme menuju kesederhanaan yang berbagi, dan dari ketidakpedulian menuju advokasi dan pendampingan. Bila setelah Natal, pola hidup kita tetap sama--cara membelanjakan uang, mengelola waktu, memandang sesama dan alam sekitar--barangkali kita baru lewat di depan palungan, tetapi belum sungguh berlutut di hadapannya.
Natal bukan halaman istirahat tempat kita, umat Kristiani, berhenti dan lupa bahwa dunia sedang terluka. Natal adalah pemandu, kompas yang mengarahkan kita kembali ke jalan yang benar, di tengah dunia yang retak oleh bencana, konflik, dan ketidakadilan. Natal mengingatkan umat Kristiani: Kristus Tuhan kita lahir di kandang hina, bukan di istana megah. Ia memilih berjalan bersama peziarah yang lelah, bukan duduk nyaman jauh dari debu jalanan.
Maka, jika kita mengaku pengikut-Nya, jalan kita pun harus menuju ke tempat di mana Ia berada hari ini: di tenda pengungsian, di rumah-rumah sederhana yang diterjang banjir, di kampung-kampung yang terdampak konflik, di hati-hati yang remuk karena kehilangan. Selamat Natal. Kiranya kita merayakannya bukan hanya dengan lagu dan lampu, tetapi dengan langkah-langkah nyata dalam solidaritas sosial sebagai makluk peziarah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved