Jumat 14 Oktober 2022, 05:10 WIB

Perkara Sepak Bola dan Pencapresan Anies

IGK Manila Insan olahraga, Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) dan anggota merangkap Sekretaris Majelis Tinggi Partai NasDem | Opini
Perkara Sepak Bola dan Pencapresan Anies

MI/Duta

 

HANYA selang tiga hari. Tanggal 1 Oktober tragedi di Stadion Kanjuruhan terjadi. Pada 3 Oktober Partai NasDem mengumumkan pencapresan Anies Rasyid Baswedan. Ada reaksi yang menyayangkan, terutama dari mereka yang tak suka dengan Anies, atau mungkin juga dengan Partai NasDem.

Tidak apa-apa. Setiap orang boleh berpendapat. Namun, sebagai insan olahraga, saya justru melihat lain. Politik sepak bola kita, saya sebut saja demikian, bagaimanapun juga masih sakit. Ditambah dengan peristiwa Kanjuruhan, sakitnya makin kelihatan.

Perkaranya bukan soal kecakapan pemain. Bukan pula semata-mata soal prestasi. Bahkan pemain kita bagus-bagus, yang kalau sistemnya tidak sakit, saya yakin prestasi demi prestasi akan diraih. Dan kini, dengan peristiwa Kanjuruhan, sanksi FIFA bisa saja turun dan jika itu terjadi, sepak bola kita akan mundur lagi.

Oleh karena itu, pencalonan Anies bagi saya harus dilihat secara positif. Demikian pula pencalonan tokoh-tokoh nasional lain. Pencalonan seorang capres harus dilihat sebagai ikhtiar bagi bangsa ini. Setelah peristiwa Kanjuruhan terjadi, pencalonan justru mendapatkan momentum bahwa ada yang kurang atau perlu ditingkatkan lagi dalam pengelolaan urusan-urusan publik di negara ini.

Dukungan saya akan pencapresan, sebagai langkah awal proses suksesi kepemimpinan nasional, tidak dalam posisi atau bertujuan menyalahkan penyelenggara pemerintahan saat ini. Sebagai seorang pengurus dalam partai yang mendukung pemerintah, suara kami bulat sampai suksesi 2024. Sebagai seorang warga negara, saya wajib taat dan mendukung para pemimpin yang sudah dipilih dalam proses demokratis.

 

Perspektif baru

Ikhtiar menuju suksesi kepemimpinan politik bukan hanya sah, tetapi oleh karena itu merupakan cara untuk lebih mencerdaskan kehidupan bangsa. Pencalonan seorang anak bangsa menjadi pemimpin nasional adalah langkah awal dari usaha menjaga asa, memastikan bahwa akan ada perubahan, perbaikan, dan seterusnya.

Pemimpin baru datang dengan perspektif baru, cara pandang yang bisa jadi lebih luas dan holistik. Ini tidak berarti akan ada negasi membabi buta, atau tindakan menyalahkan, atau bahkan mengambinghitamkan. Ini harus dilihat sebagai perpindahan tongkat dalam lari estafet. Wajah baru dan tenaga baru, tapi melanjutkan ikhtiar yang sama.

Demikian pula dengan cara pandang dan harapan akan politik sepak bola pascaperistiwa Kanjuruhan. Saya sebut politik karena pengelolaan urusan-urusan publik berhulu political will, kehendak dan kebijakan politik pemimpin negara.

Pelari estafet baru mengamati dari luar lapangan perkembangan pertandingan. Dia melihat saksama apa yang dilakukan rekan pendahulunya serta para lawan. Jika dia berpikir negatif tentang rekan sendiri dan sibuk menyalahkan, sebagai sebuah kerja tim itu adalah awal kegagalan dan kekalahan. Sebaliknya, dia harus berusaha menyusun dan menggunakan strategi yang lebih jitu supaya menang.

 

Visi pendidikan

Dengan pencalonan Anies Baswedan, misalnya, sepak bola sebagai olahraga rakyat dan masyarakat global mungkin sekali akan dilihat dan dikelola berbeda. Demikian pula dengan bagaimana pembibitan dan turnamen-turnamen dikelola serta bagaimana tim nasional dibesarkan.

Sebagai insan olahraga, saya berharap pada visi pendidikan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini. Dengan menjadikan peristiwa Kanjuruhan sebagai salah satu pelajaran, saya berharap pada visi dan praktik pendidikan yang humanis, yang berdasar pada positioning anak-anak bangsa sebagai manusia utuh, yang memiliki hak untuk mendapat pendidikan yang setara dan sesuai potensi serta keadaan diri masing-masing.

Kenapa demikian? Karena perilaku amuk para pendukung tim salah satunya hemat saya terbentuk karena irasionalitas dan sebab-sebab sosial. Meskipun di negara-negara maju seperti Inggris juga pernah terjadi peristiwa kelam sepak bola, keterdidikan membuat sistem lebih mudah dibangun dan dijalankan.

Pendidikan yang semata-mata berorientasi pada pemenuhan dan persaingan dalam pasar tenaga, utamanya di dunia industri, akan mematikan olah rasa dan olah pikir. Output dari sistem pendidikan semacam itu hanya akan melahirkan manusia-manusia robot atau kelas pekerja, dan jika tak tertampung atau tak memenuhi syarat pasar, mereka akan menjadi persoalan sosial baru.

Saya yakin, terutama berangkat dari pengalaman panjang dalam dunia olahraga, pendukung tim sepak bola yang terdidik, yang difasilitasi untuk berolah pikir dan olah rasa dalam pendidikan, yang mendapat tempat dalam sistem sosial karena di-wongke, akan jadi warga negara yang arif dan produktif.

 

Kerja politik

Koinsidensi peristiwa Kanjuruhan dan pencapresan Anies akan menjadi titik berangkat yang mudah diingat bagi kerja-kerja politik dalam rangka pemenangan Anies dan partai pendukungnya. Secara khusus, misalnya, itu akan menjadi pengingat betapa ada persoalan dalam dunia olahraga kita bahwa anak-anak muda penggemar sepak bola di negeri ini memerlukan pemimpin yang bisa memfasilitasi mereka, bukan hanya untuk dapat menonton pertandingan, tetapi juga membangun identitas diri dan kelompok secara bertanggung jawab.

Namun, koinsidensi ini juga bisa dimanfaatkan jauh lebih luas. Calon pemimpin nasional yang peka, yang dicalonkan di tengah kenestapaan, seyogianya tak akan nyaman dengan peristiwa demi peristiwa yang terjadi di masyarakatnya. Ada peristiwa yang muncul dalam berita, tapi jutaan peristiwa lain tersembunyi, mengendap, dan membatu di bawah puncak gunung es yang kasatmata. Peristiwa Kanjuruhan hanyalah satu puncak yang kelihatan saja.

Menerima pencapresan berarti bersiap untuk menerima tanggung jawab untuk memulai kerja-kerja politik supaya rakyat bisa menilai. Berbeda dari pemilu legislatif, pemilu presiden sedikit-banyak akan sangat ditentukan oleh seberapa jauh dan konsisten sang calon pemimpin turun tangan, bekerja di tengah-tengah rakyat.

Terakhir, saya juga ingin berpesan. Jika seorang anak bangsa memajukan diri untuk memimpin, artinya dia memiliki keberanian untuk berbuat, kehendak untuk berbuat bagi negara ini. Mereka yang berani maju beratus kali lipat lebih baik daripada mereka yang hanya sibuk menghina, mencaci-maki, mencari-cari kesalahan, atau sibuk berpropaganda negatif. Maju mencalonkan diri atau dicalonkan oleh partai atau kelompok sosial tertentu menunjukkan bahwa seseorang punya kecakapan dan ketokohan; kesatria yang diharapkan bangsa ini.

Baca Juga

Dok pribadi

Nasib Transisi Energi di Tahun Penuh Bahaya

👤Y Nindito Adisuryo, analis kerja sama KESDM, drafter pada Forum Transisi Energi G20 2022 ETWG-ETMM, alumnus The University of Edinburgh, UK 🕔Rabu 30 November 2022, 22:45 WIB
PADA pidato di perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-19, 17 Agustus 1964, Presiden Soekarno pernah menyebutkan tentang hidup di tahun-tahun...
Dok. Pribadi

BPJS Kesehatan Bukan untuk Orang Kaya?

👤Iqbal Mochtar, Pengurus PB Ikatan Dokter Indonesia 🕔Rabu 30 November 2022, 07:05 WIB
Dalam klausul peserta BPJS Kesehatan, tidak pernah disebutkan orang kaya dan konglomerat tidak boleh dapat...
Dok. Pribadi

Tantangan Internasionalisasi Muhammadiyah Pascamuktamar

👤Ahmad Imam Mujadid Rais Lembaga Hubungan dan Kerja Luar Negeri Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Master of International Relations di The University of Melbourne, Associate Researcher Maarif Institute 🕔Rabu 30 November 2022, 05:00 WIB
INTERNASIONALISASI Muhammadiyah menjadi salah satu agenda penting dalam Muktamar Ke-48 Muhammadiyah-‘Aisyiyah, 18-20 November 2022,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya