Jumat 07 Oktober 2022, 07:09 WIB

Surya Paloh, Anies Baswedan, dan Mencairkan Polarisasi Sosial

Airlangga Pribadi Kusman, Pengajar Departemen Politik Fisip Universitas Airlangga | Opini
Surya Paloh, Anies Baswedan, dan Mencairkan Polarisasi Sosial

Dok MI
Airlangga Pribadi Kusman, Pengajar Departemen Politik Fisip Universitas Airlangga

 

Dinamika politik Indonesia menjelang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024 memasuki babak baru. Setelah Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh pada Senin (3/10) menyatakan mendukung Gubernur Jakarta yang menuju masa purnabakti Anies Rasyid Baswedan menjadi kandidat presiden yang diusung pada 2024.

Pencalonan Anies Baswedan yang secara langsung dinyatakan oleh Surya Paloh itu seakan memecah kebuntuan seiring semakin hangat persiapan politik menuju pilpres namun tidak kunjung ada penegasan secara resmi dari partai politik terkait calon kandidat yang didukung.

Salah satu isu hangat yang menyertai pencalonan Anies Baswedan dari NasDem adalah Partai NasDem telah ikut serta bermain dalam gendang politik identitas. Sesuatu yang hendak disudahi dalam perhelatan demokrasi elektoral Pilpres 2024. Benarkah demikian?

Bagi segenap warga negara yang masih menggunakan akal budi dan berpijak pada kewarasan publik tentu momen-momen politik identitas yang telah berlangsung beberapa tahun belakangan ini cukup meresahkan. Dan kita sama-sama berusaha memiliki harapan dan berusaha merealisasikan agar benturan dan polarisasi sosial berbalut politik identitas ini tidak berlanjut pada Pilpres 2024.

Antagonisme politik identitas

Pertanyaannya kemudian apa jalan paling tepat untuk menyudahi polarisasi identitas? Jawabannya sederhana, dengan mencairkan antagonisme politik identitas bukan dengan meneguhkan dan memperkuat polarisasi sosial di antara identitas-identitas yang saling berkonflik.

Untuk menyudahi antagonisme politik identitas dan mencairkan polarisasi sosial berbasis politik identitas maka harus ada yang berani mengambil inisiatif untuk mempertemukan elite-elite yang selama ini dipandang berada pada dua kutub diametral dalam antagonisme politik identitas dalam ruang bersama. Bahkan dalam proses kolaborasi politik untuk membangun orientasi politik baru menuju masa depan yang tidak lagi dibayang-bayangi oleh hantu antagonisme politik identitas.

Satu hal yang patut untuk dipertimbangkan dalam dinamika polarisasi sosial yang berlangsung selama ini bukanlah benturan moral pertarungan antara yang benar dan yang salah atau yang baik dan buruk. Yang terjadi selama beberapa tahun belakangan ini adalah pengerasan dari kubu masing-masing dengan klaim satu sama lain yang saling merasa. Baik merasa paling murni agama versus merasa paling Pancasila sebagai bangsa Indonesia.

Hal itu kemudian semakin mengeras dengan memudarnya kesadaran bahwa mereka yang berbeda pilihan politiknya tidak dipandang sebagai sesama warga negara yang memiliki orientasi politik berbeda, tapi sama-sama memiliki tujuan hidup berbangsa.

Apabila hal ini diteruskan, pengentalan antagonisme politik akan mengarah pada titik ekstrem. Di mana, satu sama lain memandang yang berbeda orientasi pilihan politik dianggap sebagai musuh, bukan kawan yang dipertemukan sebagai bagian dari saudara sebangsa Indonesia.

Antiintoleran

Pada titik inilah, inisiatif Surya Paloh perlu kita apresiasi secara konstruktif. Hal yang perlu diingat adalah bahwa saat Surya Paloh menyatakan Partai NasDem mendukung Anies Baswedan, beliau tidak mendukung tanpa syarat dan kontrak politik.

Surya Paloh menyerukan bahwa kandidasi tersebut diserukan dalam kerangka untuk membangun tatanan politik di mana orientasi kebangsaan berada di atas kepentingan partai politik. Prinsip-prinsip penting berbangsa seperti toleransi adalah prasyarat yang tidak bisa dikompromikan. Surya Paloh menyerukan dengan penegasan tidak ada toleransi terhadap mereka yang intoleran.

Perkerjaan politik selanjutnya bagi NasDem adalah menyandingkan Anies Baswedan dengan tokoh yang selama ini dibingkai dalam frame politik sebagai representasi dari kalangan yang mendukung gagasan toleransi, kebinekaan, dan moderasi beragama.

Ketika langkah tersebut berhasil diambil, satu langkah untuk menyudahi antagonisme politik identitas sudah diambil. Koalisi politik dapat terbentuk dalam langkah-langkah kolaborasi serta menyatukan berbagai artikulasi politik anak bangsa dalam semangat kolaborasi dan bela rasa. Bukan pertentangan, benturan, dan polarisasi antagonistik.

Satu hal yang perlu kita ingat dari kalimat Sunan Kalijaga yang menjadi pernyataan favorit dari Presiden Joko Widodo, sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti. Sebuah falsafah Jawa yang bermakna segala keberanian, kekuatan, kejayaan, dan kedudukan akan hancur dengan kebijaksanaan dan kasih sayang.

 

VIDEO TERKAIT:

Baca Juga

Dok. Pribadi

PTK, Kenapa Sulit Dilakukan?

👤Mahyudin Direktur Riset dan Publikasi Yayasan Sukma 🕔Senin 05 Desember 2022, 05:10 WIB
UPAYA meningkatkan mutu guru melalui penelitian tindakan kelas (PTK) ternyata tidak sederhana dan...
MI/Seno

Guru Inspiratif

👤Eka Syafitri Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie 🕔Senin 05 Desember 2022, 05:05 WIB
“A teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops.” Henry B...
MI/Ebet

Memperbincangkan Bencana

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 04 Desember 2022, 05:00 WIB
Hewan saja memperhitungkan faktor alam maupun makhluk lainnya yang kemungkinan bisa jadi predator, sebelum membuat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya