Jumat 08 April 2022, 05:05 WIB

Amalgamasi, Formula Koperasi Anti-stunting

Ahmad Zabadi Deputi Bidang Perkoperasian, Kemenkop-UKM | Opini
Amalgamasi, Formula Koperasi Anti-stunting

MI/Seno

 

KEMENTERIAN Koperasi dan UKM menempatkan pengembangan koperasi modern sebagai salah satu agenda strategis. Koperasi modern didefinisikan sebagai koperasi yang menjalankan kegiatan dan usahanya dengan cara-cara baru dan menerapkan tata kelola koperasi yang baik (good cooperative governance), memiliki daya saing, dan adaptif terhadap perubahan.

Beberapa strategi dalam mengupayakan agenda itu ialah, pertama, mendorong pengembangan koperasi multipihak yang telah direkognisi melalui Peraturan Menteri Koperasi dan UKM No 8/2021. Pada April ini, regulasi itu efektif berlaku dan karenanya masyarakat dapat memproses pendirian koperasi dimaksud di Notaris Pembuat Akta Koperasi (NPAK).

Kedua, transformasi digital. Kementerian Koperasi dan UKM memfasilitasi layanan transformasi digital bagi koperasi melalui portal IDXCOOP yang diresmikan Oktober 2020. Portal itu mempertemukan koperasi dengan berbagai penyedia teknologi yang telah dikurasi. Koperasi dapat memilih dan memanfaatkan penyedia teknologi sesuai dengan kebutuhannya.

Ketiga, pemekaran kelembagaan. ODS Kementerian Koperasi dan UKM per 31 Desember 2020 mencatat ada sebanyak 915 unit koperasi skala menengah dan besar yang masuk kategori KUK 3 dan 4. Sebagian di antaranya diketahui mengalami idle cash, yakni skema pemekaran relevan bagi mereka. Pemekaran dilakukan dengan koperasi eksisting, menjadi lembaga jangkar yang memfasilitasi pendirian koperasi baru. Harapannya, terjadi peningkatan promosi ekonomi anggota dan idle cash dapat berputar dengan dampak positif, tanpa membebani kegiatan koperasi induk.

Keempat, yang akan dielaborasi lebih lanjut, restrukturisasi kelembagaan melalui amalgamasi/penggabungan dan merger/peleburan, sebagaimana diamanatkan Pasal 14 UU No 25/1992 tentang Perkoperasian. Strategi ini bertujuan menaikkan skala ekonomi koperasi sehingga dapat lebih efektif dan efisien dalam bisnisnya. Harapannya, jumlah badan hukum koperasi mengecil, tapi jumlah anggota dan layanannya meluas.

 

Koperasi stunting

Harus diakui, sebagian koperasi kita mengalami stagnasi bisnis meski telah eksis selama puluhan tahun. Kondisi itu layaknya orang yang mengalami stunting atau kuntet. Gejala stunting pada koperasi terlihat pada penolokukuran rasio pertumbuhan jika dibandingkan dengan waktu. Diketahui koefisien pertumbuhan pada koperasi skala besar, menengah, atau kecil sangat rendah.

Pertumbuhan yang berjalan lambat, dibarengi dengan kenaikan berbagai biaya, menyebabkan kemanfaatan koperasi yang kian mengecil. Fenomena stunting, dulu banyak dialami koperasi fungsional seperti koperasi karyawan/pegawai karena area operasionalnya di pasar tertutup atau terlokalisasi. Namun, kini banyak koperasi-koperasi masyarakat yang mengalami kondisi serupa.

Namun, jargon small is beautiful tidak relevan bagi koperasi karena nyatanya banyak koperasi besar di luar negeri. Beberapa bahkan mendominasi sebagai pelaku bisnis di sektornya, seperti koperasi susu Fonterra di Selandia Baru yang merupakan perusahaan produk susu dan turunannya (dairy products) nomor lima terbesar di dunia, sekaligus eksportir dairy products terbesar sejagat. Koperasi Pekerja Mondragon (Mondragon Worker Co-op) di Spanyol, yang jadi perusahaan terbesar di Basque dengan jumlah pekerja-pemilik hingga 80.000.

Lalu, Koperasi Desjardin, koperasi kredit di Kanada yang menjadi grup keuangan terbesar di kawasan Amerika Utara. Koperasi itu memiliki puluhan anak usaha yang umumnya bergerak di sektor jasa keuangan, seperti perbankan, asuransi, dan investasi. Koperasi I Co-op di Korea, yang merupakan koperasi multipihak yang menghubungkan kepemilikan di tangan produsen, pekerja, dan konsumennya secara bersama, baik bisnis di sektor produksi maupun konsumsinya. Saat ini, setidaknya I Co-op memiliki 713 jaringan toko yang dimiliki bersama secara multipihak dan masih banyak lagi. Koperasi menjadi besar dan berdampak nyata ialah visi yang harus diupayakan bersama.

 

Formula tumbuh

Koperasi yang mengalami stunting perlu didorong untuk melakukan amalgamasi atau merger. Strategi itu bukan hal baru dalam dunia perkoperasian, telah ada sejak 1980-1990. Contoh penerapan strategi ini ialah Kospin Jasa yang saat ini asetnya mencapai Rp10 triliun merupakan hasil amalgamasi dari empat koperasi. Kemudian, Koperasi Telekomunikasi Seluler (Kisel) dengan aset Rp7 triliun, merupakan hasil amalgamasi dari 11 koperasi.

Amalgamasi terbukti efektif meningkatkan skala ekonomi dan bisnis koperasi. Manfaatnya, meliputi perluasan jangkauan pasar, efisiensi biaya, dan layanan anggota yang menjadi lebih prima. Koperasi perlu memperhatikan manfaat nyata strategi ini agar rasional dan berorientasi pada masa depan dalam mengelola organisasi dan bisnisnya.

Sebaliknya, menolak opsi amalgamasi atau merger karena pertimbangan kesejarahan dan identitas sama artinya selalu hidup di masa lalu. Keengganan menerapkan amalgamasi didasari argumen dan ketakutan hilangnya sejarah atau ‘nama besar’ koperasi. Hal itu lebih mengindikasikan adanya ego internal dan bukan keputusan strategis pengembangan koperasi.

Menurut jajak pendapat yang dilakukan Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI), hanya 9,5% atau 1 dari 10 koperasi pernah melakukan amalgamasi atau merger. Kemudian, bila akan melakukannya, 68,4% koperasi lebih memilih amalgamasi daripada merger (Mei, 2021). Hal itu dapat dipahami karena proses amalgamasi lebih mudah, yakni beberapa koperasi bergabung ke satu koperasi. Misalnya, ketika 10 koperasi kecil bergabung ke satu koperasi menengah. Dengan skenario itu, daya ungkit bisa dicapai berupa peningkatan pada tata kelola dan manajemen, kecukupan modal, layanan, jangkauan pasar, serta manfaat bagi anggota.

 

Sektor riil

Koperasi yang bergerak di industri pangan perlu mengadopsi strategi di atas. Koperasi di sektor ini pada dasarnya memiliki koefisien pertumbuhan yang tinggi sehingga dengan penghiliran (hilirisasi) produk yang baik, nilai tambahnya dapat naik signifikan. Misalnya, koperasi susu tersebar di Jatim dengan reputasi panjang sejak 1960-an. Koperasi perlu melakukan inovasi model bisnis sehingga tidak hanya menjadi tempat pengepulan susu, tetapi juga melakukan pengolahan susu.

Koperasi membangun pabrik pengolahan susu merupakan strategi yang dijalankan koperasi susu Fonterra di Selandia Baru. Kepemilikan pabrik oleh koperasi mungkin dipandang sebagai mimpi besar. Namun, bila enam koperasi susu di sana bergabung menjadi satu entitas, portfolio akan naik pesat menjadi hampir Rp1 triliun sehingga pembangunan pabrik dengan biaya sekitar Rp200-300 miliar menjadi sesuatu yang feasible.

Strategi pengembangan lainnya, yakni konsolidasi rantai pasok dengan baku mutu terpusat, penerapan teknologi untuk kontrol proses bisnis sebagaimana yang telah dikembangkan KAN Jabung, penyediaan lahan hijauan dan kebutuhan konsentrat secara terpadu, serta asistensi oleh profesional terkait dengan pengelolaan agar akseleratif. Harapannya, terjadi peningkatan nilai tambah yang tinggi bagi anggota peternak sapi sehingga kesejahteraan mereka pun meningkat.

Pemerintah, secara langsung mendukung upaya itu, dengan penguatan permodalan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB-KUMKM) dengan plafon Rp200 miliar dan bunga maksimal 6% (menurun). Berbagai dukungan lain juga dapat diupayakan untuk mencapai mimpi besar itu. Koperasi susu diharapkan menjadi contoh sukses penerapan strategi amalgamasi bagi koperasi sektor lainnya.

Baca Juga

MI/Ebet

Menyelesaikan Kontradiksi

👤Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group 🕔Jumat 20 Mei 2022, 05:10 WIB
APAKAH kita sebagai bangsa memiliki nilai-nilai baik bagi Indonesia...
MI/Seno

Spirit Harkitnas dan KKN di Desa Penari

👤Dewa Gde Satrya Dosen hotel & tourism business School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya 🕔Jumat 20 Mei 2022, 05:00 WIB
FILM bergenre horor KKN di Desa Penari yang telah ditonton hampir 4 juta orang dalam kurun waktu 11...
MI/Duta

Asas Legalitas dalam Sistem Hukum di Indonesia, Relevankah?

👤Romli Atmasasmita Guru Besar (Em) Universitas Padjadjaran 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:10 WIB
Ketentuan itu cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen; berbeda-beda kultur daerah adat satu dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya