Rabu 26 Januari 2022, 10:55 WIB

Menangkap Peluang Besar Ekonomi Digital di Gelaran G-20

Tri Antoro, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo | Opini
Menangkap Peluang Besar Ekonomi Digital di Gelaran G-20

Dok pribadi
Tri Astoro

 

DALAM perhelatan G-20, ekonomi digital menjadi salah satu fokus pemerintah yang akan terus dikembangkan. Berdasarkan survei e-Conomy SEA 202 yang dilakukan Google, Temasek, dan Bain & co menyebutkan, potensi ekonomi digital di Indonesia diproyeksikan terus meningkat secara signifikan yang nilainya fantastis sebesar US$146 miliar atau sekitar Rp2.093 triliun pada 2025. 

Dengan capaian nilai sebesar itu, Indonesia berpeluang besar menjadi pemain besar sektor ekonomi digital pada tingkatan kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Setidaknya 41,9 persen ekonomi digital di kawasan itu akan didominasi sepenuhnya oleh Indonesia kelak di kemudian hari. Pada pertengahan 2021, tercatat ekonomi digital Indonesia sudah mencapai nilai sekitar US$43 miliar (sekitar Rp616,6 triliun). Melalui perhitungan tersebut, diperkirakan pada akhir tahun lalu ekonomi digital Indonesia dapat mencapai nilai US$70 miliar atau setara dengan Rp1.000 triliun.   

Pencapaian ekonomi digital pada 2021 menunjukkan adanya kenaikan secara masif. Dibandingkan pada 2020, nilai ekonomi digital Indonesia selama satu tahun hanya mencapai kisaran US$44 miliar (sekitar Rp630,9 triliun). Melihat angka ini, tentunya masyarakat bisa melihat adanya peningkatan ekonomi digital di dalam negeri dalam kurun waktu yang sangat cepat.  

Sejumlah proyeksi ekonomi digital yang diramalkan oleh perusahaan besar teknologi di atas, rupanya mulai menampak hasil nyata. Indikatornya, Indonesia saat ini memiliki perusahaan start up dengan kategori unicorn sebanyak 8 platform aplikasi digital. Platform tersebut antara lain Bukalapak, Tokopedia, Xendit, Ovo, J&T Ekspress, Traveloka, Onlinepajak dan Ajaib. Masing-masing dari perusahaan aplikasi daring di berbagai bidang ini memiliki nilai kapitalisasi melebihi dari US$1 miliar (sekitar Rp14,3 triliun).
 
Tak kalah mengejutkan, seiring dengan berjalannya waktu Indonesia juga telah memiliki perusahaan start up dengan kategori decacorn. Aplikasi Gojek, kini telah menjadi perusahaan raksasa dengan nilai kapitalisasi mencapai US$10 miliar (sekitar Rp143,3 triliun). Melihat angka-angka fantastis yang bisa dihasilkan oleh aplikasi anak negeri, tentunya kita semakin optimistis melihat ekonomi digital di masa mendatang. 

Melihat peluang besar di depan mata ini, pemerintah sudah sewajar melakukan serangkaian upaya strategis yang akan dilakukan kala penyelenggaraan gelaran G-20. Dengan begitu, setiap pertemuan atau sidang dengan negara anggota G-20 dapat menghasilkan kesepakatan yang mendorong perkembangan ekonomi digital di Tanah Air semakin masif. 

Indonesia akan memanfaatkan posisi Presidensi G-20 untuk mendorong ekonomi digital di dalam negeri. Apalagi pada ajang ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang mewakili Indonesia didapuk sebagai sebagai pemimpin Digital Economy Working Group (DEWG) yang pertama. Dalam mengoptimal hal tersebut, ada tiga isu yang digaungkan Indonesia terkait dengan ekonomi digital yaitu; 1) Konektivitas dan  pemulihan pascacovid-19, 2) Keterampilan digital dan literasi digital, serta 3) Aliran data lintas batas dan aliran data bebas dengan kepercayaan.

Tiga isu itu didapatkan dari serangkaian kajian mendalam yang akan mendorong ekonomi digital di dalam negeri semakin berkembang. Adanya pembahasan ini, setiap delegasi yang mengikuti bisa berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan ekonomi digital. Kemudian, para delegasi juga mampu memberikan solusi terhadap ketiga isu tersebut. 

Konektivitas dalam pemulihan pascacovid-19 sangat penting diwujudkan. Tulang punggung dari ekonomi digital adalah keberadaan infrastruktur telekomunikasi berkualitas. Sehingga, setiap masyarakat dipelosok dapat melakukan kegiatan ekonomi digital melalui daerahnya masing-masing. Kemudian, peningkatan keterampilan digital dan literasi digital juga sangat menjadi isu yang akan dijadikan pokok bahasan. Sebab, kedua hal itu sangat penting perkembangan di ekonomi digital. Sejatinya, pengguna ruang digital yang melakukan kedua hal ini tentunya akan menggunakan dunia maya untuk kegiatan produktif. 

Terakhir, adalah aliran data lintas batas dan aliran data bebas dengan kepercayaan. Ini penting agar setiap anggota negara G-20 dapat saling bekerja sama dalam mewujudkan hal tersebut. Karena dapat mencegah upaya kejahatan melalui ruang digital. Alhasil penindakan atas pelanggaran peraturan tersebut dapat dilakukan melalui jalinan kerja sama ini.   

Komitmen pemerintah jelas, akan menangkap peluang ekonomi digital dengan seoptimal mungkin di masa mendatang. Sehingga setiap keuntungan dari ekonomi digital dapat memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyat kelak. Jangan sampai pihak lain yang memanfaatkan ekonomi digital Indonesia.

Peserta Bimbingan Teknik Penulisan Siaran Pers Ditjen IKP Kominfo

Baca Juga

MI/Susanto

Merajut Pembayaran Lintas Negara

👤Adhi Nugroho, Analis Bank Indonesia Kalimantan Selatan 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 14:20 WIB
PEMBAYARAN lintas negara atau cross-border payment tengah menjadi buah bibir di kalangan bank...
Dok pribadi

Kurir Berita Proklamasi Kemerdekaan, Pejuang di Jalan Sunyi 

👤Zainal C Airlangga, peneliti sejarah Museum Bank Indonesia 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 14:00 WIB
HARI ini 77 tahun lalu, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Upacara Proklamasi Kemerdekaan yang diadakan secara sederhana pada 17...
MI/Susanto

Indonesia Benar-Benar Merdeka, Jika Bebas dari Kejahatan Korupsi

👤H. Firli Bahuri, Ketua KPK Republik Indonesia 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 13:25 WIB
SKOR Indeks Persepsi Korupsi dari Transparansi Internasional, naik dari 37 menjadi 38 di tahun 2021. Indeks Perilaku Anti Korupsi dari BPS...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya