Minggu 02 Januari 2022, 20:25 WIB

Xi Jinping sebagai Pemimpin Transformasional

Vivi Ceng, Mahasiswa Magister Filsafat STF Driyarkara | Opini
Xi Jinping sebagai Pemimpin Transformasional

Dok pribadi
Vivi Ceng

 

MENGUTIP sebuah artikel pada New York Times, Presiden Xi Jinping disebut sebagai pemimpin Tiongkok paling kuat dalam beberapa dekade. Pada sidang pleno ke-6 11 November 2021, Partai Komunis China (PKC) mengesahkan 'resolusi historis' yang mengangkat status kepemimpinan Xi. Pada ringkasan resmi resolusi historis tesebut disebutkan bahwa di bawah kepemimpinan Xi, Tiongkok telah mengalami transformasi bersejarah, serta memuji Xi, Mao, dan Deng, karena memimpin Tiongkok untuk mencapai 'transformasi luar biasa dari berdiri dan tumbuh makmur menjadi kuat'. 

Pengangkatan Xi ini mendapat slogan The two establishments, yaitu menetapkan Xi sebagai pemimpin inti Tiongkok dan menetapkan ide-idenya sebagai doktrin resmi dasar negara tersebut. Sebagian besar resolusi menggambarkan keberhasilan Xi selama 9 tahun kekuasaannya dalam memberantas korupsi, mengurangi kemiskinan, menghilangkan oposisi politik terhadap pemerintahan PKC di daratan Tiongkok dan Hong Kong. Xi juga dinilai telah memperluas lingkaran pertemanan dan pengaruh internasional Tiongkok. Namun, apa yang menjadikan Xi begitu dihormati dan dinilai sebagai pemimpin Tiongkok yang kuat serta memiliki pengaruh yang menentukan zaman seperti Mao dan Deng?

Joseph Nye di dalam bukunya American Presidential Leadership and the Making of American Era menganalisis peran kepemimpinan dalam transformasi kebijakan luar negeri. Nye membedakan dua jenis kepemimpinan presidensial Amerika; pemimpin transformasional dan pemimpin transaksional. Pemimpin transformasional memiliki visi baru untuk bangsa, dapat menarik cita-cita dan nilai moral pengikut yang lebih tinggi, menginspirasi mereka untuk melakukan pekerjaan adaptif, dan merespons perubahan. Pemimpin transaksional, di sisi lain lebih fokus pada implementasi kebijakan dan mengandalkan keuntungan materi untuk menarik kepentingan pribadi pengikut. 

Dibandingkan dengan pendahulunya, Hu Jintao, Xi memenuhi kriteria untuk menjadi seorang pemimpin transformasional. Pertama, sebagai seorang red second generation atau keturunan elite revolusioner Tiongkok, dia memiliki rasa tanggung jawab historis yang jauh lebih kuat terhadap partai dan negara. Xi merasa bahwa dia memiliki misi historis untuk melakukan sesuatu di dalam rentang waktu yang singkat ketika ia menjabat. Rasa tanggung jawab yang kuat ini mendorongnya untuk mengambil tindakan yang lebih ambisius dan lebih drastis untuk mengubah bangsa. 

Kedua, Xi lebih berani dan toleran terhadap risiko dibandingkan para pendahulunya. Dia percaya bahwa baik Tiongkok maupun dunia kini berada di tengah-tengah perubahan yang mendalam dan kompleks. Tiongkok masih berada dalam periode penting akan peluang yang strategis untuk pembangunan. Peluang strategis Tiongkok seharusnya tidak dibangun di atas kesalahan negara lain, melainkan kita harus berinisatif untuk menciptakan peluang bagi pembangunan. 

Ketiga, Xi dapat memberikan visi yang jelas bagi bangsa dan dirinya sendiri. Sejak pertama kali menjabat pada 2012, dia mampu menggunakan bahasa yang sangat sederhana untuk mengkomunikasikan visinya kepada publik. Dia menguraikan visinya dengan menggunakan istilah populer seperti china dream dan centennial goals. Pada kongres ke-19 PKC, dia lebih lanjut memperkuat tujuannya untuk membangun Tiongkok yang dimodernisasi pada 2035 dan mengembangkan negeri itu menjadi negara sosialis modern yang hebat di pertengahan abad ke-21. 

Dalam kebijakan luar negri, rasa tanggung jawab Xi yang kuat telah memungkinkannya menjadi lebih transformasional dalam mendefinisikan ulang diplomasi Tiongkok. Dia telah menunjukkan cakupan visi dan pemikiran yang jauh lebih besar dan lebih luas daripada para pendahulunya dalam masalah kebijakan luar negri. Dibandingkan gagasan Hu tentang 'masyarakat harmonis', Xi mengusulkan untuk melakukan upaya menyeluruh dalam mengejar 'diplomasi negara utama dengan karakteristik Tiongkok'. 

Dia menempatkan Tiongkok pada cita-cita yang lebih besar dalam membangun 'komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia' dan membentuk model baru hubungan internasional yang menampilkan rasa saling menghormati, keadilan, dan kerja sama yang saling menguntungkan. Dia berpendapat bahwa semua negara berada di bumi yang sama sehingga takdir kita terikat bersama. Oleh karena itu, semua negara di muka bumi ini harus sejahtera bersama, tidak sendiri-sendiri. 

'Diplomasi negara utama' mengharuskan Tiongkok untuk lebih proaktif dalam tata kelola global dan politik regional. Dalam kunjungannya ke negara-negara Asia Tengah dan Asia Tenggara pada 2013, Xi mengusulkan untuk membangun Ekonomi Jalur Sutra dan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 atau dikenal dengan belt and road initiative (BRI). Tiongkok telah menandatangani kerja sama lebih dari 30 negara di sepanjang rute dan afiliasi PBB. Untuk membiayai inisiatif tersebut, dibentuk Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dan Silk Road Fund, yang membantu memperluas pengaruh keuangan internasional Tiongkok lebih jauh.
 
Pada Mei 2014 Xi mengusulkan konsep keamanan Asia yang baru pada KTT CICA ke-4 di Shanghai. Konsep keamanan baru ini berarti menjadi lebih inklusif, komunal, komprehensif, kooperatif dan berkelanjutan, yang secara substansial berbeda dari praktik dan konseptualisasi keamanan Barat. Dia telah menarik bottom line yang jelas dalam berurusan dengan negara-negara lain yang memiliki sengketa teritorial dengan Tiongkok. 

Xi adalah pemimpin transformasional dengan gaya inspirasional dan transaksional. Kepemimpinan Xi dalam mengubah diplomasi dan kebijakan luar negeri Tiongkok dapat dilihat dari tiga perspektif institusional; (1) mengkonsolidasikan status kekuatan kepemimpinannya dalam sistem; (2) mendorong restrukturisasi kelembagaan dan inovasi melalui reformasi top-down; (3) membangun tim kebijakan luar negeri dan keamanan nasional untuk mengimplementasikan tujuan kebijakannya, dengan dirinya sebagai kepala diplomat. 

Dengan pemenuhan semua kriteria ini, Xi dapat dikatakan adalah pemimpin politik kuat lainnya setelah Mao dan Deng. Sejak dia mengambil alih posisi Sekretaris Jenderal PKC pada Oktober 2012, dia dapat mengkonsolidasikan basis kekuatannya dan memantapkan dirinya sebagai pemimpin 'inti' dalam waktu yang sangat singkat. 

Baca Juga

MI/Ebet

Menyelesaikan Kontradiksi

👤Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group 🕔Jumat 20 Mei 2022, 05:10 WIB
APAKAH kita sebagai bangsa memiliki nilai-nilai baik bagi Indonesia...
MI/Seno

Spirit Harkitnas dan KKN di Desa Penari

👤Dewa Gde Satrya Dosen hotel & tourism business School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya 🕔Jumat 20 Mei 2022, 05:00 WIB
FILM bergenre horor KKN di Desa Penari yang telah ditonton hampir 4 juta orang dalam kurun waktu 11...
MI/Duta

Asas Legalitas dalam Sistem Hukum di Indonesia, Relevankah?

👤Romli Atmasasmita Guru Besar (Em) Universitas Padjadjaran 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:10 WIB
Ketentuan itu cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen; berbeda-beda kultur daerah adat satu dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya