Jumat 29 Oktober 2021, 05:00 WIB

Marah-marahnya Risma dan Soekarno

Guntur Soekarno Pemerhati Sosial | Opini
Marah-marahnya Risma dan Soekarno

MI/Seno

 

TANGGAL 8 Oktober 2021, saya didatangi tamu kehormatan Menteri Sosial Tri Rismaharini, dalam rangka penerbitan uang pecahan Rp100 ribu yang bergambar Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta. Rencananya, uang pecahan Rp100 ribu tersebut terbit pada 2022. Saat berbincang, tiba-tiba saja Risma mengisahkan masalah marah-marahnya kepada Bupati Gorontalo, Sulawesi Selatan, beberapa waktu yang lalu, yang membuat sejumlah kalangan menjadi heboh dan viral di medsos. Seperti biasa, hal itu menuai pro dan kontra.

Mendengar kisah tersebut, saya ceritakan kepada Mensos bahwa marah-marahnya sangat ‘halus’ bila dibandingkan dengan marahnya Bung Karno kepada sejumlah kalangan. Untuk pembaca ketahui, bahwa sebagai presiden, perdana menteri, pemimpin besar revolusi, bahkan penyambung lidah rakyat, Bung Karno kerap kali marah-marah karena kesal hati untuk sesuatu hal.

 

Heran dan kagum

Ada beberapa kejadian yang masih saya ingat hingga saat ini, yang membuat saya heran dan kagum kejadian-kejadian tersebut tidak pernah terekspos di masyarakat awam, serta tidak membuat heboh dan lewat laksana angin lalu saja. Menurut hemat saya, memang di era Reformasi ini, terlebih setelah terjadi pandemi covid-19, membuat perekonomian negara menjadi terganggu. Masyarakat kita, bahkan bangsa ini menjadi sangat sensitif menghadapi berbagai hal.

Ditambah lagi, adanya amendemen UUD 1945, demokrasi kita bergeser ke arah demokrasi liberal kapitalistik, suatu demokrasi 50% + 1 dengan ekses kebebasan berpendapat berjalan tanpa batas, bahkan tanpa etika.

Syahdan, pada satu ketika Duta Besar Amerika Serikat Howard P Jones menyarankan Bung Karno bersedia membuat biografi hidupnya untuk generasi penerus, agar mengetahui sejarah hidup penyambung lidahnya.

Awalnya, Bung Karno menolak keras saran itu, dengan alasan saatnya belum tepat. Howard P Jones terus mendesak Bung Karno agar bersedia dengan mengatakan biografi akan dibuat dengan metode wawancara dan bukan ditulis sendiri, dan akan dilakukan oleh seorang perempuan yang penampilannya aduhai, yaitu Cindy Adams, istri dari seniman kondang Amerika Joey Adams.

Mendengar penjelasan itu, Bung Karno mengatakan akan berpikir dahulu dan kemudian menyatakan setuju. Bung Karno menyampaikan juga kepada press officer-nya Rochmulyati Hamzah, dengan penegasan hanya bersedia bila penulisan biografi dilakukan oleh seorang perempuan dalam bentuk wawancara.

Rochmulyati menyatakan setuju dengan pendirian Bung Karno tersebut. Tetapi, entah mengapa ketika seorang wartawan pria Amerika berkeras meminta kepada Rochmulyati agar dapat mewawancarai Bung Karno menyangkut riwayat hidupnya, Rochmulyati menyampaikan hal tersebut kepada Bung Karno, tanpa mempelajari dahulu mood Bung Karno saat itu.

Mendengar permintaan tersebut, Bung Karno marah besar, dengan suara menggelegar press officer dimarahi habis-habisan di depan para ajudan, pilot helikopter, petugas protokol, bahkan di depan pelayan di Hall Istana Merdeka. Kejadian itu membuat Rochmulyati menangis tersedu-sedu dan meninggalkan ruangan, sambil menyampaikan pengunduran dirinya sebagai press officer presiden. Semua yang hadir terdiam menundukkan kepala, hingga Bung Karno masuk kamar.

Keesokan harinya, saat kita akan makan siang Bung Karno menyatakan tidak ikut makan karena harus pergi ke suatu acara. Dalam hati saya bertanya-tanya, ada acara apa siang hari begini? Ternyata dari ADC Kolonel Penerbang Kardjono, saya mendapat penjelasan bahwa Bung Karno pergi ke rumah Rochmulyati untuk minta maaf karena marah, meminta agar yang bersangkutan tidak mengundurkan diri sebagai press officer. Masalah selesai sudah, yang bersangkutan kembali bekerja seperti biasa, penuh senyum menghadapi wartawan dalam dan luar negeri yang setiap paginya bergerombol di dekat dapur Istana.

Kejadian lain, muncul ketika saya asyik kebut-kebutan dengan Waperdam Chairul Saleh di area Kebayoran Baru. Masing-masing menggunakan mobil sport Kharman Ghia. Ketika saya parkir mobil sore hari, Bung Karno datang menghampiri dan mengatakan ingin mengontrol Istana dengan mencoba Kharman Ghia saya, asalkan dijalankan secara perlahan. Saat Bung Karno sudah duduk di sebelah, saya menjalankan mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Saat melirik speedometer kecepatan mencapai 100 km/jam. Merasa mobil yang saya kemudikan ngebut, Bung Karno langsung berteriak marah, agar saya menghentikan mobil dan Bung Karno turun berjalan kaki tanpa pengawalan.

Kau gendeng!! Kalau perlu aku bakar mobilmu!! Teriaknya Bung Karno sambil berjalan menuju ke arah Istana Negara.

Terus terang, saya khawatir juga bila mobil saya dibakar. Malam harinya saat makan malam, di meja makan saya terdiam menunggu reaksi Bung Karno atas kejadian tadi sore. Akhirnya, saat menyantap buah-buahan saya dikasih durian sitokong, yang manis legit sambil berkata, “Lain kali jangan ngebut-ngebut lagi apalagi kalau bawa Bapak!” Dalam hati “alhamdulillah” masalah beres.

Kejadian lain yang membuat Bung Karno marah-marah dan naik pitam ialah saat kedatangan juara dunia Dasalomba Olimpiade London dan Helsinki ke Indonesia. Atas instruksi Bung Karno, saya harus menjemput Bob Mathias sang juara di Bandara Kemayoran, dan selanjutnya diharuskan berlatih olahraga cabang dasalomba.

Suatu saat, ketika saya berlatih lempar cakram di lapangan rumput Istana Merdeka, lemparan saya melenceng menghunjam sebuah pot porselen antik di tangga turun Istana Merdeka sehingga pecah berkeping-keping. Hal ini membuat Bung Karno marah karena tidak seorang pun yang berani mengatakan siapa pelakunya.

Seluruh pelayan yang berdinas diharuskan berdiri berjajar di halaman rumput dan ditanya satu per satu siapa pelakunya. “Maneh kabeh bararodomaeunya jurig nu meupeuskeun?!?” (bahasa Sunda) (Kamu semua bodoh masa setan yang memecahkan?!?). Bung Karno lalu memanggil Komandan Jaga dari Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Brigpol Dalimin. Bung Karno memerintahkan agar seluruh pelayan-pelayan dan tukang-tukang kebun Istana Merdeka diinterogasi untuk mengetahui siapa pelakunya, dan bila sudah ditemukan digantung di pohon tertinggi di Istana Merdeka dan Istana Negara.

Dengan suara gemetar Komandan Jaga melaporkan, sesuai yang tertera di buku jaga bahwa pelakunya ialah saya ketika latihan melempar cakram. Mendengar laporan tadi Bung Karno menyuruh semuanya bubar jalan dan mengajak aku jalan-jalan kontrol Istana. Dalam berjalan Bung Karno berkata, “Sudahlah, lain kali kalau bikin salah bicara terus terang jangan semuanya jadi repot jebulnya ulah kamu, ngerti?!! “Ya Paaakk!

Marah-marah lainnya yang lebih hebat lagi ialah saat ada pemberitaan di media Amerika Serikat yang menulis bahwa Bung Karno ialah seorang playboy yang tidak bisa melihat bokong perempuan. Tulisan ini benar-benar kurang ajar karena menghina secara pribadi Presiden Republik Indonesia yang berpenduduk lebih 80 juta jiwa (tahun 1960-an).

Duta Besar Howard P Jones yang merupakan sahabat pribadi Bung Karno dipanggil ke Istana Merdeka. Ketika tiba di ruang duduk pojok kiri aula Istana Merdeka Dubes Luar Biasa berkuasa penuh negara adikuasa tadi dimarahi dan didamprat habis-habisan oleh Bung Karno. Bung Karno juga kesal kepada Amerika yang dalam perjuangan pembebasan Irian Barat di PBB, Indonesia selalu di veto oleh Amerika.

Namun, selang beberapa hari Bung Karno pergi menemui Dubes Howard P Jones beserta istrinya, di vila Kedubes Amerika Mirasole di kawasan Puncak. Makan siang perdamaian berlangsung penuh canda tawa menurut penuturan ajudan senior Kolonel TNI Muhammad Sabur kepadaku.

 

Puntung rokok

Ada lagi cerita yang berhubungan dengan Bung Karno marah-marah, bahkan marah besar. Hal itu terjadi sekitar 1964. Seperti biasa, Bung Karno pada sore hari berolahraga jalan kaki sekaligus memeriksa kondisi Istana Merdeka dan Istana Negara. Ketika tiba di asrama anggota Detasemen Kawal Pribadi (DKP) di sebelah Istana Negara, didapati beberapa anggota memelihara burung perkutut dan burung beo yang dikurung di dalam sangkar. Melihat hal tersebut, Bung Karno masih menahan amarahnya dan hanya bertanya siapa pemiliknya.

Dari situ, jalan kaki dilanjutkan ke samping kanan Istana Merdeka. Tepatnya, pos penjagaan Detasemen Kawal Pribadi. Di situ Bung Karno menemukan puntung rokok berserakan, di jalan aspal dekat pos penjagaan dan di lantai marmer ruang pos penjagaan. Melihat itu, wajah Bung Karno berubah menjadi merah padam menahan amarah.

Selesai pemeriksaan, Bung Karno duduk di teras belakang Istana dan memanggil Komandan DKP AKBP Mangil Martowidjojo dan memerintahkan agar semua anggota-anggota pemilik burung dalam kurungan, serta para perokok yang membuang puntung rokok sembarangan segera menghadap.

Dalam waktu singkat, semua sudah berkumpul di teras belakang Istana Merdeka. Bung Karno lalu memerintahkan, mereka yang berjumlah lima orang agar berjajar rapi di aula Istana Merdeka, selanjutnya Bung Karno dengan bertolak pinggang memberikan nasihat-nasihat ‘dengan marah-marah’ dan membentak-bentak mereka. terutama pemilik burung yang dikurung. “Kamu tahu apa rasanya di kerangkeng? Bapak ini sudah merasakan dipenjara selama 2 tahun jadi tahu rasanya di kerangkeng! Burung-burung itu juga begitu! Tidak suka di kerangkeng!

Sekarang masalah puntung rokok di pos ada empat asbak kenapa masih keleleran di aspal dan lantai marmer?!? Kalian semua memang bodoh dan sontoloyo! Tanpa ba-bi-bu tangan kanan Bung Karno menyambar muka mereka satu per satu alias ditampar.

Kami yang menyaksikan kejadian itu, semua mengelus dada terutama Dan Kawal Pribadi. Setelah amarahnya mereda Bung Karno masuk ke kamar dan keluar dengan membawa lima kemeja Arrow Kepresidenan. Kemudian, diberikan kepada pesakitan tadi satu per satu diringi permintaan maaf Bung Karno.

Bukan itu saja. Mereka diajak duduk di teras belakang untuk ngopi sore dan makan camilan pisang goreng. Suasana pun menjadi cair semuanya ngobrol santai sambil tertawa.

Pembaca, itulah pengalaman saya menghadapi ulah Bung Karno bila sedang marah-marah sehingga bagi saya ketika ada seseorang yang marah-marah kepada siapa pun, asalkan masalahnya jelas dan diselesaikan dengan baik, bila perlu dengan minta maaf dan tanpa perasaan dendam, menurut saya sudah jamak dan lumrah. Presiden Soekarno saja begitu apalagi kita yang awam!!

Baca Juga

Dok. Pribadi

Kapasitas Guru Mandiri

👤Mahyudin Direktur Riset dan Publikasi Yayasan Sukma 🕔Senin 29 November 2021, 05:00 WIB
MUTU pendidikan di Indonesia masih belum beranjak ke level yang lebih baik jika menggunakan ukuran...
MI/Duta

Astra Nova, Prototipe Sekolah Masa Depan?

👤Riazul Iqbal Guru Bahasa Inggris Sekolah Sukma Bangsa Pidie 🕔Senin 29 November 2021, 05:00 WIB
TANTANGAN terbesar dunia pendidikan ialah bagaimana menyiapkan bekal bagi para siswanya untuk hidup dalam dunia yang terus bergerak dinamis...
MI/Ebet

Bijak Kelola Geopark

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 28 November 2021, 05:00 WIB
Jangan atas nama pariwisata, semuanya diterabas tanpa memperhatikan aspek lingkungan dan kehidupan masyarakat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya