Rabu 13 Oktober 2021, 05:00 WIB

Long Covid atau Pascacovid

Tjandra Yoga Aditama Guru Besar FKUI, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, mantan Direktur WHO Asia Tenggara, dan mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes | Opini
Long Covid atau Pascacovid

Dok. FKUI

 

SEPERTI diketahui, sebagian pasien covid-19 di dunia dan negara kita ternyata mengeluh tetap saja ada berbagai gejala yang cukup berkepanjangan setelah mereka dinyatakan sembuh dari covid-19. Harus diketahui bahwa hampir semua atau setidaknya sebagian besar pasien covid-19 akan sembuh sempurna tanpa ada keluhan sama sekali. Berapa persen yang kemudian keluhannya menetap cukup lama memang belum ada angka pastinya. Namun, data berbagai negara menyebutkan setidaknya sekitar 10%-20% pasien covid-19 masih mengalami berbagai keluhan beberapa minggu dan bahkan sampai beberapa bulan.

Berbagai terminologi digunakan untuk menjelaskan hal ini, seperti ‘long covid’, ‘long-haul covid’, atau ‘post covid-19 condition’ yang pernah direkomendasi WHO. Saya sendiri juga pernah menggunakan istilah covid berkepanjangan. Selain terminologi, definisi yang pasti juga belum terlalu jelas.

Karena itu, World Health Organization (WHO) melakukan pengumpulan pendapat para pakar dari berbagai negara dalam bentuk Konsensus Delphi. Kegiatan itu dilakukan dalam dua ronde. Yang pertama diikuti 265 partisipan dan yang kedua 195 partisipan. Hasilnya kemudian dianalisis dan dipublikasi pada 6 Oktober 2021 sebagai dokumen WHO dengan judul A Clinical Case Definition of Post Covid-19 Condition by a Delphi Consensus.

Ada tiga manfaat utama publikasi WHO terbaru ini. Pertama, tentu menjadi lebih jelas apa yang dimaksud sebagai long covid ini. Kedua, dengan lebih jelas definisinya, akan lebih jelas juga penanganan kliniknya. Hal ketiga, kita tahu bahwa long covid juga punya aspek ekonomi dan asuransi kesehatan. Khususnya, apakah keluhan-keluhan yang ada akan dapat ditanggung asuransi dan atau akan dapat menjadi alasan untuk gangguan pekerjaan yang akan dialami pasiennya.

 

 

Definisi kasus

Dalam publikasi pada 6 Oktober 2021 itu, ada lima pengertian tentang long covid yang dalam publikasi ini disebut sebagai post covid yang dalam bahasa Indonesia kita dapat pakai istilah pascacovid. Pertama, kondisi pascacovid-19 dapat terjadi pada seseorang dengan status probable atau terkonfirmasi covid-19.

Kita tahu bahwa kalau probable pada umumnya memang belum ada hasil laboratorium yang pasti. Namun, gejala dan gambaran kliniknya sudah amat cenderung untuk covid-19. Hal kedua biasanya keluhan yang tergolong pascacovid ini terjadi sesudah tiga bulan dari awal gejala penyakit covidnya. Biasanya juga lama keluhan-keluhan pascacovid berlangsung selama setidaknya dua bulan serta tidak dapat diterangkan penyebab keluhannya selain yang mungkin sebagai pascacovid ini.

Hal ketiga, gejala dan keluhan yang biasa timbul ialah rasa lemah (fatigue), sesak napas, dan gangguan kognitif yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Keluhannya dapat dalam berbagai bentuk yang amat luas variasinya, seperti nyeri perut, gangguan menstruasi, gangguan penciuman/pengecap, gelisah (anxiety), penglihatan kabur, nyeri dada, batuk, depresi, pusing, dan demam hilang timbul.

Gejala dan keluhan dapat juga berupa gangguan saluran cerna, baik diare maupun konstipasi, dan acid reflux, juga bisa sakit kepala, gangguan memori, nyeri sendi, nyeri otot, neuralgia, bentuk alergi baru, gangguan tidur, berdebar-debar, dan telinga berdenging atau gangguan pendengaran lainnya.

Hal keempat dari definisi kasus pascacovid ialah bahwa gejalanya bisa bersifat baru muncul atau langsung muncul sesudah pulih dari keadaan akut serangan covid-19 dan bisa juga menetap saja sejak awal sakit covid-19 sampai beberapa bulan kemudian.

Hal kelima dari definsi ini ialah bahwa gejala dan keluhan dapat berfluktuasi berat ringannya dan dapat juga sementara hilang, lalu datang lagi seperti kambuh begitu.

 

 

Definisi lain

Sebelum ini, juga ada berbagai definisi yang dikeluarkan berbagai organisasi dan/atau dituliskan di berbagai Jurnal ilmiah kedokteran/kesehatan. Wellcome Open Research menyampaikan long covid sebagai gejala yang menetap sesudah empat minggu dari gejala awal yang diduga covid-19. Jurnal Scientific American menuliskannya sebagai individu yang keluhannya menetap atau baru muncul sesudah infeksi virus, tapi berapa lama waktunya dan bagaimana patogenesisnya tidak diketahui.

Jurnal ilmiah Nature menyebutnya sebagai Post-acute covid-19, yaitu gejala yang menetap atau berkepanjangan sampai lebih dari empat minggu sesudah awal gejala covidnya atau juga mungkin dalam bentuk komplikasi lanjutan dari infeksi virus SARS-CoV-2.

Badan Pengendalian Penyakit (Center of Disease Control) Amerika Serikat juga menjelaskan tentang long covid. Disebutkan bahwa sebagian besar pasien covid-19 akan sembuh, tetapi sebagian akan tetap mengalami berbagai keluhan sampai beberapa minggu atau beberapa bulan sesudah fase akut selesai. Bahkan, pasien covid-19 yang ringan dan tidak dirawat di rumah sakit dapat saja mengalami keluhan berkepanjangan sesudah sembuh covidnya.

Sementara itu, otoritas kesehatan Prancis Haute Autorite de Sante mempunyai tiga kriteria untuk long covid. Pertama, memang awalnya ada gejala sesuai of covid-19. Kedua, kemudian ada satu atau berbagai gejala dalam waktu empat minggu sejak mulai sakit covid. Ketiga, semua gejala itu tidak dapat diterangkan berhubungan atau diakibatkan penyakit lain.

 

 

Tiga hal

Sebagai penutup, disampaikan tiga hal dalam publikasi WHO pada 6 Oktober 2021 ini. Pertama, definisi yang disampaikan ini memang dapat dipakai untuk advokasi dan riset sekarang ini. Namun, dengan kemungkinan perkembangan ilmu dan pemahaman kita di masa datang, mungkin saja definisi kelak diperbarui lagi.

Kedua, jelas disebutkan bahwa akan baik kalau terus ada diskusi terbuka yang terorganisasi dengan baik. Ketiga, berbagai bentuk penelitian yang dapat dilakukan, antara lain dalam bentuk kohort prospektif yang memang sejak awal dirancang mengikuti perjalanan penyakit pasien-pasien covid-19 sampai beberapa bulan ke depan. Bahkan, mungkin juga lebih lama dari itu atau juga pemanfaatan catatan medik elektronik, penggunaan analisis klaster dan model matematika, serta melakukan meta analisis dari berbagai penelitian dari berbagai negara di dunia.

Khusus untuk negara kita, juga ada tiga hal yang dapat ditindaklanjuti. Pertama, rumah sakit dan mungkin juga puskesmas kita agar menyediakan klinik pascacovid-19 yang sekarang tampaknya sudah dimulai di beberapa rumah sakit. Pasien yang sudah sembuh dari covid-19 dan masih mengalami berbagai keluhan akan dapat dilayani dengan baik di klinik pascacovid ini.

Kedua, kita perlu melakukan berbagai penelitian tentang pascacovid, baik yang bersifat penelitian ilmiah dasar (basic science) dalam aspek biomolekuler maupun penelitian klinik terapan, termasuk menemukan cara penanganan dan pengobatan terbaik.

Ketiga, dari kacamata ekonomi kesehatan, harus ada mekanisme keuangan agar pasien pascacovid dapat terus mendapat penanganan medik dengan baik tanpa harus terbebani biaya yang tidak dapat dia tanggung. Ini sesuai prinsip Universal Health Care (UHC) yang dianut dunia.

Baca Juga

Dok. MI

Konstitusionalitas Kelembagaan Penyelenggara Jaminan Sosial

👤Oce Madril Pengajar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 05:00 WIB
PERDEBATAN mengenai desain lembaga penyelenggara jaminan sosial telah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi...
MI/Seno

Sunah Kebangsaan Nabi

👤Hasibullah Satrawi Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam Alumnus Al-Azhar, Kairo, Mesir 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 05:00 WIB
HAKIKAT dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pada akhirnya tak lain adalah mengikuti keteladanan atau sunah beliau sebagai sosok...
MI/Seno

Dua Tahun Kabinet Jokowi, Kita sudah di Mana?

👤Fithra Faisal Hastiadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Direktur Eksekutif Next Policy 🕔Rabu 20 Oktober 2021, 05:00 WIB
JIKA Barbara Lewis menjawab pertanyaan Robert Solow sekenanya saja, sepertinya tidak akan ada teori pertumbuhan eksogen yang diganjar...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menolakkan Ancaman Kemiskinan Ekstrem

Pemerintah perlu memastikan seluruh program penanggulangan kemiskinan ekstrem diterima rumah tangga miskin ekstrem yang ada di wilayah prioritas.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya