Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Teacher Research

Fuad Fachruddin Dewan Pengawas Yayasan Sukma
23/8/2021 05:00
Teacher Research
Fuad Fachruddin Dewan Pengawas Yayasan Sukma(Dok. Pribadi)

KERJA sama riset antara perguruan tinggi dan sekolah penting bagi peningkatan mutu pendidikan dan pengembangan pengetahuan. Proses belajar mengajar dan riset yang bertautan merupakan sebuah proses yang secara dialektik saling memperkaya. Dengan demikian, penting bagi pendidik untuk memberi perhatian serius pada riset sebagai aspek pendidikan dari profesi. Keterlibatan terus-menerus dalam kegiatan-kegiatan riset akan meningkatkan kemampuan profesional dan memberi kontribusi dalam melahirkan pengetahuan (Iqbal, Jalal, Mahmood: 2018; Ralexakos: 2015).

Karya ilmiah (riset) tentang pendidikan mungkin sudah banyak. Namun, seberapa besar dampaknya terhadap praktik pendidikan? Admiraal et all (2012) dalam tulisannya mengungkapkan bahwa banyak akademisi mengkaji masalah-masalah pendidikan yang kadang tidak relevan dengan apa yang dihadapi pendidik. Kajian pendidikan terkadang hanya dilakukan semata bagi publikasi dalam jurnal ilmiah, tapi tidak memberi kontribusi nyata dalam upaya perbaikan dalam institusi pendidikan. Hal ini memunculkan gap/celah yang menganga antara riset dan praktik pendidikan. Salah satu cara untuk mempersempit celah tersebut ialah riset yang dilakukan oleh para guru, yang juga merupakan pewujudan dari salah satu peran mereka; guru sebagai peneliti.

 

Rentang pemahaman

Teacher research dikenal dalam kajian pendidikan guru, pengembangan profesi, dan reformasi sekolah, baik pada tingkat nasional, provinsi, daerah, maupun lembaga pendidikan/sekolah. Misalnya, gagasan tentang keterlibatan guru dalam menginisiasi dan melaksanakan riset di sekolah, riset kelas yang terkait dengan program pengembangan profesi dan strategi mengajar secara profesional, perbaikan kurikulum, dan perubahan sistem sekolah. Dalam usaha-usaha tersebut, konsep riset guru mengandung pengertian yang terkait dengan peran guru sebagi pembuat keputusan, konsultan, pengembangan kurikulum, analisis, aktivis, pemimpin sekolah, dan mengembangkan pemahaman dalam konteks perubahan pendidkan (Cochran; Lytle: 1999).

Teacher research secara sederhana dimaknai sebagai systematic self-study (studi mandiri sitematis) yang dilakukan oleh para guru secara individu atau bersama (kolaboratif), dengan tujuan mengetahui dampak apa yang dilakukan guru dalam dunia nyata dan diketahui umum. Seperti jenis riset lainnya, teacher research bersifat sistematis dan mencakup aspek belajar secara mandiri dengan fokus kajian pada guru dan pekerjaan mereka.

Tujuan teacher research ialah melihat dampak dalam dunia nyata (bukan sebagai pergulatan untuk melahirkan pengetahuan demi pengetahuan) dalam banyak bentuk. Misalnya teacher research dapat memberi pengaruh terhadap kepercayaan (teachers’ beliefs), pengetahuan, sikap, keterampilan, dan praktik serta kinerja mereka di kelas dan dalam beberapa aspek kelembagaan lainnya (Borg, Sanches: 2015).

Teacher research akan membekali guru dengan temuan analitik yang membimbing mereka melakukan refleksi, melaksanakan pedagogi, maupun keputusan profesional yang harus dilakukan, perbaikan belajar murid terkadang dalam mengelola konflik dengan kepentingan pemberi kerja seperti jalan pintas atau mengancam kebebasaan akademik dalam pendidikan tinggi (Christianakis: 2008). Dalam beberapa literatur, teacher research merupakan tindakan emansipatif yang dengannya para guru mendapat kebebasan bersuara, memilih, kekuasaan dalam menghadapi mereka yang hanya untuk mempertahankan kepentingan diri (status quo). Teacher research mengotak-atik isu jaga jarak dan hierarki secara akademik, dengan merujuk kepada fungsi liberatory teacher research/riset guru yang membebaskan sebagai bagian gerakan demokrasi partisipatoris (Christianakis: 2008). Termasuk di dalamnya ialah tantangan untuk mempromosikan perubahan terhadap keadaan sosial yang tidak adil (Borg, Sanches: 2015)

 

Peran dan fungsi 

Teacher research merupakan wahana penting bagi pengembangan kemampuan guru dalam membuat keputusan secara profesional, otonom, dan kukuh. Manfaat secara khusus berkaitan dengan pengakuan status profesional guru yang mencakup 'kekuasan atau posisi guru', 'hormat atau penghargaan terhadap guru', 'rasa keadilan bagi guru', percaya diri dan motivasi yang kuat sebagai bagian dari pendidikan, pemberdayaan, serta pentingnya perhatian pada suara guru (Lankshear, Knobel:2004).

Berikutnya, teacher research memberi kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran atau pengajaran. Melalui riset, para guru menyadari bahwa apa yang mereka lakukan (mengajar) bisa saja menghasilkan pembelajaran yang tidak sesuai dengan harapan. Menyadari hal ini, mereka akan terus berusaha untuk memperbaiki hasil belajar peserta didik. Riset guru memberi kesempatan untuk menguji efektivitias upaya intervensi dalam meningkatkan hasil belajar untuk sebagian atau seluruh peserta didik (Lankshear, Knobel:2004)

Bahkan, dalam teacher research, para guru dapat menantang perubahan yang dilakukan secara top down oleh administrator pendidikan/pembuat kebijakan, di mana keragaman masyarakat sekolah, setting sekolah, kebutuhan peserta didik, dan latar belakang mereka diabaikan. Pendekatan reformasi pendidikan semacam itu akan melemahkan pendidikan yang demokratis dalam beberapa level, menegasi prinsip-prinsip keragaman dalam masyarakat, juga menempatkan sekolah dan peserta didik dalam situasi konflik antara yang 'disukai' melawan 'tidak disukai'. Pendekatan semacam ini akan memarginalkan guru dalam proses pengembangan kurikulum dan menetapkan tujuan berdasarkan pengetahuan profesional, kebutuhan, dan kondisi (Lankshear, Knobel: 2004).

Terdapat tiga prinsip dasar yang telah menjadi kesepakatan dalam kajian teacher researcher. Pertama, riset guru bukan riset kuantitatif (bukan psikometrik, nonpositif, dan bukan eksperimental). Kedua, terkait dengan 'siapa peneliti?'. Teacher research melibatkan para guru meneliti kelas dengan atau tanpa bantuan teman sejawat (kolaboratif). Ketiga, tujuan teacher research ialah keterlibatan para guru dalam riset sehingga memberi kontribusi terhadap harkat dan martabat mereka melalui penguatan kemampuan dalam membuat keputusan profesional.

Mengajar seharusnya dipahami dan ditumbuhkan sebagai sebuah keterlibatan profesional (professional engagement). Sebagai seorang profesional, guru tidak hanya mengikuti resep-resep dan formula yang disodorkan dari atas, tapi juga akan menggunakan keahlian dan pengetahuan khusus sebagai pendidik untuk mencapai tujuan pendidikan yang dibangun secara demokratis. Oleh karena itu, guru bukan fungsionaris atau operator yang menjalankan tugas rutin (administratif), tapi hendaknya mereka diperlakukan serupa dengan kelompok profesional lainnya, seperti dokter, pengacara, dan arsitek.

Mereka memanfaatkan pengetahuan/pendidikan, pengalaman, jaringan, kemampuan membuat keputusan yang kukuh secara otonom tentang hal-hal yang terbaik untuk memperbaiki tujuan belajar (Lankshear, Knobel: 2004). Hal ini sangat mungkin karena teacher research juga mencakup action research, pembelajaran mandiri/self-study, lesson study, design-based research, dan beasiswa pembelajaran (Admiraal; Smith; Zwart: 2012). Wallaahu a’lam.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya