Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Diaspora Santri dalam Denyut Nadi Ekonomi Syariah di Afrika dan Timur Tengah

Ribut Nur Huda Mustasyar PCI NU Sudan, Mahasiswa Doktoral University of the Holy Quran and Islamic Sciences Sudan
14/8/2021 05:00
Diaspora Santri dalam Denyut Nadi Ekonomi Syariah di Afrika dan Timur Tengah
Ribut Nur Huda Mustasyar PCI NU Sudan, Mahasiswa Doktoral University of the Holy Quran and Islamic Sciences Sudan(Dok. Pribadi)

"KITA akui, hubungan Sudan-Indonesia sejatinya sangat istimewa karena didasari nilai luhur Islam". Ungkapan teduh itu saya dengar dari Menteri Pertahanan Sudan Jenderal Awadl bin Auf empat tahun lalu. Secara implisit, ada pesan dakwah dan diplomasi islami yang kuat. Dukungan politik atau political will tiap-tiap negara ikut menentukan.

Jika dilihat dari respons masyarakat, Sudan antusias dengan prinsip-prinsip syariah serta menyambut positif penerapan di sektor pendidikan, hukum, dan lainnya. Prospek ekonomi syariah cukup baik, terungkap dalam laporan Global Islamic Economy 2018-2019. Di laporan itu, di antara negara besar yang disurvei untuk mengukur total pencapaian perkembangan ekonomi syariah secara global, Sudan menduduki peringkat ke-12 setelah Malaysia, UEA, Bahrain, Arab Saudi, Oman, Jordan, Qatar, Pakistan, Kuwait, Indonesia, dan Brunei.

Ketika mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PCINU Sudan, penulis bersilaturahim ke Wisma Duta pada 2017. Saat itu, Dubes RI untuk Sudan merangkap Eritrea, salah satu negara di Afrika Timur dan pecahan dari Ethiopia yang kondisi sistem ekonominya sosialis, menerima penulis untuk dialog dan silaturahim. Dubes RI HE Burhanuddin Badruzzaman menyampaikan bahwa Presiden Kiai Abdurrahman Wahid pernah berkunjung ke Sudan pada 2001. "Apa misi dari kunjungan Gus Dur, Pak Dubes?". Ia menjawab, "Informasi yang saya dapat, Gus Dur membuka kerja sama di bidang konstitusi." Kala itu Sudan di bawah kendali kelompok fundamentalis yang sulit menyatukan perbedaan-perbedaan, yang kemudian salah satu wilayahnya lepas dan menjadi negara Sudan Selatan saat ini.

Sudan dengan daya tawar sebagai negara strategis di dua kawasan Afrika dan Timur Tengah saat ini menjadi incaran pelaku eksportir RI. Negara-negara konflik di kedua kawasan tersebut sudah mulai dengan pembangunan nasional, kecuali Palestina, yang masih memanas atau Chad yang presidennya Idris Deby tewas tertembak. Sudan di masa transisi menunjukkan perubahan fundamental, di antaranya kiblat ekonomi yang sebelumnya Tiongkok beralih ke Amerika Serikat (AS).

Sebelum Omer Al-Bashir lengser, hal ini pernah dia prediksi ketika wawancara perihal buku terakhir yang dibaca, Pembunuhan Ekonomi Umat: Pengakuan Bandit Ekonomi, karya John Perkins. Omer Al-Bashir memiliki semangat menjadikan Sudan sebagai konsolidator dunia muslim melalui rintisan Institusi Zakat Global agar umat mandiri dan tidak menggantungkan pada Amerika Serikat.

Tidak dimungkiri bahwa semangat Omer Al-Bashir kerap diwarnai nuansa konfrontasi dengan negara-negara Barat. Dia terlalu mengharapkan negaranya kuat, tapi belum cukup memenuhi tuntutan keadilan sosial masyarakatnya. Ketika dirinya jatuh dari tampuk kekuasaan, AS dan Eropa ikut 'mensyukuri' kejatuhannya dan menjajaki peluang ekonomi Sudan sebagai pintu strategis kawasan Afrika dan Timur Tengah. Terlebih di tengah tumbuhnya sektor perdagangan dan hubungan investasi di antara kedua kawasan.

Di sisi lain, keterbukaan Sudan ke Barat menjadikan Sudan--dengan 95% penduduk adalah muslim--merasa butuh ekosistem ekonomi baru dengan prinsip keadilan sosial dan bisa menguatkan kaum lemah serta menghapus kesenjangan antara si kaya dan si miskin sebagaimana ajaran syariah. Setelah ekosistem terbangun dan publik sudah tidak 'dimanjakan' dengan subsidi dan bantuan tunai, masyarakat harus lebih banyak mengambil peran dalam perekonomian nasional sehingga arus ekonomi yang sebelumnya top down, berubah menjadi bottom up.

Selain itu, keterbukaan Sudan ke Barat juga memberikan hikmah tersendiri bagi diaspora santri Indonesia di sana mengingat dunia Barat dalam stigma masyarakat Sudan ialah simbol kebebasan. Diaspora santri dalam hal ini perlu terlibat untuk ikut mewarnai ekosistem ekonomi syariah dengan nilai-nilai fundamental yang mereka pahami. Terdapat delapan nilai ekonomi syariah yang dikenal santri; keadilan, kebebasan, musyawarah, sabar, tawakal, tanggung jawab pribadi, tanggung jawab sosial, dan kemandirian berpikir. Dengan nilai-nilai ini, tidak sedikit diaspora santri yang menekuni kemandirian ekonominya dengan niatan dakwah seperti yang tidak asing dilakukan sebagian mahasiswa Mesir dan Sudan.

Diaspora santri di kawasan Timur Tengah dan Afrika, selain ada yang menjadi pelaku usaha, ada juga yang menjadi pengabdi organisasi nirlaba seperti NU Care Lazis-NU, Lazis MU, dan MES (Masyarakat Ekonomi Syariah). Sebagai duta organisasi yang pusatnya di Indonesia, para pengabdi itu menjadi jembatan untuk berbagi pengalaman Indonesia dengan warga setempat mengenai riset, edukasi dan kelembagaan ekonomi syariah.

 

Mempertemukan pandangan

Selain Sudan, tentu negara-negara Afrika yang demografi muslim kelas menengahnya meningkat semisal Mesir, Maroko, Senegal, Nigeria, Gambia, Kenya, dan negara-negara Muslim berpendapatan tinggi di kawasan teluk perlu menjadi perhatian diaspora santri. Setidaknya dakwah ekonomi syariah yang dilakukan bisa memberikan dampak untuk meningkatkan peluang ekonomi di Indonesia. Peran diaspora perlu diperkuat dengan terus berjejaring dan pentingnya KBRI lintas negara sebagai mitra strategis dalam mencapai target-target diplomasi.

Dalam kasus Sudan pascalengsernya Omer Al-Bashir, tampak lifestyle dan fesyen sebagian masyarakat mulai kebarat-baratan. Jika kondisi ini menguat, nomenklatur Islam, Syariah, dan halal pun menjadi perlu, di samping itu Indonesia bisa menawarkan model pribumisasi Islam tanpa melupakan ciri khas negara masing-masing. Dalam konteks ini, PCINU Sudan yang mempertemukan pandangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Majma Fikih Sudan melalui langkah awal seminar internasional pada 28 Juni 2021. Upaya diaspora santri ini juga diperkaya dengan pendirian wadah dakwah ekonomi Syariah dimana sebelumnya telah ada di Saudi Arabia, Mesir, dan Al-Jazair. Dakwah di kancah internasional dalam hal ini telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW yang memanfaatkan lini ekspor dari Mekah hingga ke Syam.

Jika menyelisik posisi Sudan di dua kawasan Afrika dan Timur Tengah bagi Indonesia, bisa dikatakan strategis. Terlebih dengan didukung ketersediaan pelabuhan Port-Sudan, Laut Merah, dan Pulau Sawakin serta hubungan istimewa kedua negara yang dirintis Presiden Soekarno. Bung Karno memberikan kursi khusus kepada sebagian delegasi Mesir dalam Konferensi Asia-Afrika dan mendukung perjuangan kemerdekaan Sudan.

Selain itu, di antara peluang dakwah ekonomi syariah bagi diaspora santri di Sudan, tampak dalam Islamic Finance Country Index-IFCI 2019-2020, Sudan menduduki peringkat kelima pasar keuangan syariah Global setelah Malaysia, Indonesia, Iran, dan Saudi Arabia. Tentu dalam melihat dimensi Sudan di Afrika stratanya berbeda jika dilihat dimensinya di Timur Tengah.

Dengan kondisi Sudan yang sudah mulai terbuka dengan negara lain, diaspora santri bisa memainkan peran dakwah bekerja sama dengan sejumlah pelaku industri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat muslim. Itu di antaranya makanan dan minuman halal, pariwisata halal, fesyen atau busana muslim, media dan rekreasi halal, farmasi dan kosmetik halal, serta energi terbarukan. Dengan semangat mandiri, Makmur, dan madani, diaspora santri di Sudan telah memiliki subsystem distribusi di bidang makanan dan minuman halal meskipun tanpa labelisasi 'halal', di antaranya pabrik Indomie, Nusantara Resto, Warung26, dan Nusa Mart yang menyediakan produk khusus Indonesia.

Diaspora Indonesia di Timur Tengah dan Afrika yang banyak berlatar belakang santri atau mahasiswa studi keislaman merupakan aset bagi masa depan Indonesia. Dari WNI Sudan saat ini yang berjumlah lebih dari 1.300 orang, 995 orang di antaranya pelajar kursus dan mahasiswa. Jumlah yang relatif banyak ini merupakan bagian dari kekuatan dakwah diaspora santri. Tentu saja tidak hanya terbatas di dunia kuliner, tetapi juga dunia rekreasi meskipun destinasi rekreasi dan pariwisata halal Sudan belum masuk kategori destinasi wisata terbaik negara-negara OKI di antaranya UEA, Turki, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Oman, Maroko, dan Kuwait.

Menurut pengamatan lapangan, masyarakat Sudan ekonomi menengah ke atas cenderung melihat Indonesia sebagai negara wisata Pulau Dewata, Bali. Namun, dengan berkembangnya tren syariah di Indonesia dan muncul brand wisata halal seperti Lombok, Indonesia mulai mempromosikan wisata halal ke Sudan ataupun negara Timur Tengah yang lain. Kementerian Pariwisata Sudan dalam hal ini merespons baik munculnya brand wisata halal di Indonesia.

Di kalangan diaspora santri, Sudan tidak asing dengan literasi ekonomi syariah. Mereka tinggal meningkatkan kualitas literasinya dengan riset dan edukasi. Sejarah mencatat bahwa ekonomi Islam sebagai disiplin ilmu akademik, Universitas Omdurman, Sudan merupakan kampus ketiga di Timur Tengah yang mempelajarinya pada 1966 setelah Al-Azhar University, Mesir 1961 dan King Abdulaziz University, Saudi Arabia 1964. Perkembangan literasi semakin cepat dengan penerapan syariah sebagai dasar utama negara sejak 1989 hingga Desember 2019.

Tanpa ada sikap dan gerakan yang konkret, bangsa Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, akan tetap menjadi penonton kapitalisasi ekonomi konvensional dan bahkan ekonomi syariah dari negara nonmuslim. Indonesia perlu oleh diaspora santri tidak hanya dengan akhlak, tetapi juga dengan pergerakan nyata dengan kolaborasi di era kompetisi multidimensi sekarang ini.

 

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya