Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Jangan Lengah di Minggu Pertama Terkonfirmasi Covid-19

Ari Fahrial Syam Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI
15/7/2021 05:00
Jangan Lengah di Minggu Pertama Terkonfirmasi Covid-19
(MI/Seno)

PENINGKATAN jumlah kasus yang terjadi saat ini memang mencemaskan kita semua. Penambahan kasus per hari sudah di atas 40 ribu, kalau kondisi ini terus terjadi, di akhir Juli 2021 angka terkonfirmasi kita akan tembus 3 juta kasus. Saat ini, kita juga mengetahui bahwa jumlah kasus kematian karena covid-19 setiap hari di atas 800 orang, dengan angka kematian 2,6%. Sedih mendengar saat ini, ketika pasien memburuk bahkan meninggal saat melakukan isolasi mandiri.

Secara umum, konsep penanganan bencana yang terpenting, dan utama, ialah korban sakit ditolong agar kondisinya tidak bertambah buruk. Kita juga memaklumi bahwa peningkatan kasus yang luar biasa saat ini akan berdampak pada bed occupacy rate (BOR) rumah sakit rujukan, keterisian rumah sakit yang sudah di atas 100%.

Hal ini akan menyebabkan pasien yang harusnya dirawat di RS hanya berada di rumah, di satu sisi jumlah kasus yang sedang melaksanakan isolasi mandiri juga cukup tinggi. Oleh karena itu, perlu arahan yang jelas buat masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri karena sebagian besar masyarakat isolasi mandiri di tempat masing-masing.

Konsep terjadinya infeksi, termasuk juga virus SARS-CoV-2 dipengaruhi tiga hal, yaitu daya tahan tubuh, jumlah atau keberadaan virus, dan faktor lingkungan. Penanganan kasus ini pun meliputi ketiga hal ini. Saat virus masuk tubuh, daya tahan tubuh akan melawan keberadaan virus tersebut sampai timbul gejala yang kita sebut masa inkubasi.

Oleh karena itu, penting sekali mengobservasi diri kita sendiri untuk mengetahui perubahan yang dialami pada tubuh di masa pandemi ini. Minggu pertama, saat seseorang sudah bergejala merupakan kunci penting apakah kita bisa sembuh atau sebaliknya kondisi kita semakin buruk. Oleh karena itu, WHO mengeluarkan rekomendasi untuk pasien yang terinfeksi oleh virus dan tanpa gejala cukup isolasi mandiri selama 10 hari lalu bisa dikatakan sembuh dan bisa lepas isolasi.

Jika dalam 10 hari masih tetap tanpa gejala, bisa dikatakan bahwa sebenarnya daya tahan tubuh kita bisa menghancurkan virus tersebut. Karena itu, untuk pasien tanpa gejala tidak perlu minum antivirus, cukup dengan vitamin-vitamin. Vitamin yang biasanya direkomendasikan ialah vitamin D, vitamin C, dan vitamin E.

Begitu pun, pasien dengan gejala ringan diusahakan agar tetap dipertahankan tidak memburuk, khususnya pada minggu pertama tersebut. Masa isolasinya 10 hari ditambah tiga hari tanpa gejala demam karena dianggap bahwa pasien tersebut sudah berhasil mengatasi infeksinya. Untuk mempertahankan daya tahan tubuh, kuncinya ialah istirahat, banyak tidur, tidak stres, tetap makan dan minum yang cukup.

Ketika badan sudah tidak nyaman, segera istirahat, jangan dipaksakan untuk tetap bekerja atau beraktivitas. Pasien juga harus bisa mengendalikan stres agar nafsu makan tetap terjaga dan kualitas tidur tetap dipertahankan dengan baik.

Pada minggu pertama, kita harus memberikan kesempatan daya tubuh kita bisa melawan virus tersebut. Pada pasien dengan gejala ringan dan sedang yang sedang isoman biasanya diberi antivirus seperti favipirafir dan obat azitromisin (azithromycin). Favipiravir sebagai obat antivirus untuk mengurangi jumlah virus, sedangkan azitromisin berperan sebagai antiradang dan imunomodulator untuk melawan virus tersebut.

Obat-obat itu diberikan tentu sesuai dengan arahan dokter. Kadang kala pasien yang mempunyai masalah lambung, lambungnya kambuh akibat mengonsumsi obat-obat ini, saya mengajurkan mereka mengosumsi obat yang biasa diminum.

Perlu diketahui bahwa kriteria sedang pasien covid-19 ditetapkan jika sudah ada infeksi paru tetapi saturasi oksigen masih baik, sedangkan kriteria berat jika infeksi pneumonia yang terjadi sudah menyebabkan penurunan saturasi oksigen. Oleh karena itu, penting juga tersedia oksimeter saat melakukan isolasi mandiri.

 

Hati-hati obat dexamethasone

Observasi saya atas kasus yang memburuk salah satunya mengonsumsi dexamethasone, baik generik maupun merek dagang. Beberapa waktu yang lalu, ada edaran yang viral tentang daftar obat untuk pasien isoman, salah satunya untuk mengosumsi dexamethasone. Saya juga menemukan resep dari platform telemedicine, yang juga memberikan dexamethasone. Tentu, hal ini tidak tepat, jika dexamethasone diberikan pada pasien tanpa gejala atau gejala ringan-sedang.

Ilmu kedokteran berbasis bukti menyebut dexamethasone tidak berguna untuk pasien tanpa gejala. Begitu pun untuk gejala ringan dan sedang. Saya pernah menyampaikan, mengenai dampak buruk mengonsumsi dexamethasone ini, saya sebut obat ini sebagai pisau bermata dua. Untuk yang tanpa gejala, gejala ringan, dan sedang khususnya, di awal penyakit yang dibutuhkan ialah peningkatan daya tahan tubuh.

Dexamethasone membuat daya tahan tubuh kita menjadi lemah sehingga membuat virus menjadi mudah merajalela. Untuk pasien dengan hipertensi, dan kencing manis, dexamethasone bisa membuat gula darah menjadi tidak terkendali, untuk yang menderita hipertensi tekanan darah menjadi tidak terkontrol. Kedua ini akan memperburuk pasien dengan kedua penyakit ini, yang memang menjadi komorbid untuk pasien covid-19.

Efek samping dexamethasone juga menyebabkan pasien menjadi mudah cemas dan insomnia, hal yang harus dihindari saat kita menderita covid-19. Belum lagi, dexamethasone membuat kita menjadi mual dan perih di lambung membuat kita kurang nafsu makan. Hal ini harus menjadi catatan buat para isoman, bahwa pemberian dexamethasone dapat membuat kondisi pasien bertambah buruk.

Pada pasien dengan covid-19 sedang dan berat memang kadang kala membutuhkan dexamethasone untuk mengurangi peradangan yang terjadi. Mudah-mudahan info ini bermanfaat, khususnya untuk pasien yang sedang isolasi mandiri.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya