Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Mengenang Emmy Hafild sebagai Politikus

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
08/7/2021 05:00
Mengenang Emmy Hafild sebagai Politikus
Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ramdani)

MENJADI politikus di kalangan aktivis LSM kiranya sebuah 'pengecualian'. Bahkan boleh jadi dinilai sebagai sebuah 'penyimpangan'. Hal itu akibat pandangan bahwa partai politik itu kotor. Contohnya orang sulit percaya bahwa nyata ada partai tanpa mahar.

Dalam komunikasi personal dengan penulis, ketika kebetulan bertemu di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, Todung Mulya Lubis misalnya sama sekali tidak memercayainya. Masuk akal, di tengah politik transaksional, kok, ada partai politik yang tak suka apalagi kebal terhadap uang mahar. Dalam pandangan macam itu, dengan menghormati pilihan berpolitik, rasanya sulitlah dimengerti kenapa aktivis sekaliber Emmy, kok, mau berpartai politik.

Hanya sedikit sekali orang Indonesia yang layak menjadi kover majalah Time. Emmy di antaranya. Ketokohannya diakui dan dihargai majalah itu sebagai 'Heroes for the Planet'. Foto dirinya bersama hero lingkungan lainnya menjadi sampul majalah bereputasi internasional itu. Emmy, sang hero planet itu, kiranya juga tidak mudah percaya ada partai yang antimahar.

Emmy idealis tulen yang amat bangga akan mertuanya, Jenderal HR Dharsono. Jenderal superidealis itu berani melawan Presiden Soeharto yang amat berkuasa. Dia dihukum 7 tahun penjara.

Di dalam perjalanan hidupnya kemudian, sang hero planet versi majalah Time itu berpindah medan juang dari pimpinan LSM menjadi ketua partai politik, dari aktivis menjadi politikus. Apa pasal? Tidakkah sang hero bakal tergerus integritasnya? Sebaliknya, dapatkah ia memberi kontribusi bagi tegaknya integritas partai politik? Itulah pertanyaan moral kawan-kawannya aktivis yang ditujukan ke diri Emmy.

Kisah bermula, suatu hari Emmy berwisata budaya ke Gunung Bromo bersama Lestari Moerdijat. Ini merupakan area permukiman warga asli suku Tengger. Di dalam perjalanan itu Emmy banyak menyoal perihal Partai NasDem, khususnya sang ketua umum, Surya Paloh.

Rerie, sapaan akrab untuk Lestari, ialah Deputy Chairman Media Group dan anggota Majelis Tinggi Partai NasDem. Chairman Media Group ialah Surya Paloh. Di NasDem, Majelis Tinggi berhak memveto keputusan ketua umum yang tak lain ialah Surya Paloh. Emmy menggugat ke sumber yang tepat.

Jawaban Rerie mengagetkan Emmy. Surya Paloh berpendirian sangat teguh mengenai lingkungan hidup. Sebatang pohon pun tidak boleh ditebang. Itu bukan omong doang. Di Pulau Kaliage Besar milik Surya Paloh, di bilangan Pulau Seribu, semua pepohonan di situ terpelihara asri sebagaimana aslinya. Fasilitas di situ dibangun dengan mengindahkan tatanan orisinal kehadiran pepohonan yang alami.

Hal yang juga mengejutkan banyak orang NasDem, yang menyaksikan sendiri ketika gedung ormas di sebelah Kantor DPP hendak dibongkar untuk membangun kantor DPP yang baru, yang lebih dulu diselamatkan ialah sebatang pohon yang bertahun-tahun hidup di halaman parkir.

Surya Paloh sendiri dilukiskan sebagai pemimpin yang mau mendengar suara yang berbeda dan menghormati kritik. Kira-kira itulah substansi penjelasan Rerie, yang kini ialah Wakil Ketua MPR. Semua percakapan intensif di Gunung Bromo itu kiranya sedikit atau banyak dapat menggeser penilaian dan purbasangka.

Rerie kerap berbincang dengan Emmy. Suatu hari Rerie mengajaknya bergabung ke NasDem. Apa kata Emmy? "Tanpa pikir panjang ajakan itu saya penuhi. Inilah keputusan tercepat saya ketika ada yang mengajak bergabung ke partai. Banyak teman yang sebelumnya menawari saya agar bergabung ke partai mereka, tapi tidak pernah saya respons. Namun, begitu saya ditawari ke NasDem, saya langsung terima."

Emmy, mantan Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara, berpandangan bahwa yang paling miskin di negeri ini ialah petani dan nelayan. Dari luar sistem ia berkomitmen berjuang untuk memperbaiki nasib petani dan nelayan. Karena itu, NasDem memercayainya menjadi Ketua Bidang Maritim DPP Partai NasDem.

Kepercayaan itu bermakna kepublikan yang mendalam, yakni ajakan berjuang di dalam sistem. Emmy segera merespons ajakan itu dengan menunjukkan keprihatinannya atas nasib nelayan gara-gara larangan cantrang.

Emmy menuangkan gagasannya secara tertulis agar Presiden Jokowi mencabut larangan cantrang. Larangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti itu membuat nelayan bertambah miskin. Surya Paloh membawa pikiran Emmy itu langsung kepada Jokowi. Terdorong berjuang di dalam sistem itulah pula, yang membuat Emmy mau menjadi caleg DPR RI dari Nusa Tenggara Timur.

Emmy jatuh cinta berat pada Labuan Bajo. Dia mengagumi keindahan Pulau Komodo. Melalui akun socmed-nya dia berseru, "Mari setelah covid-19 ini berakhir ajak siapa pun untuk berlibur ke Pulau Komodo." Cintanya tak terusik ketika penulis berbincang dengannya agar maju pileg dari daerah pemilihan di Jawa yang lebih mudah dijangkau dari Jakarta.

Kongres NasDem Ke-2 di Kemayoran, Jakarta, berbeda dengan kongres partai politik lazimnya. Di situ digelar pameran pertanian, hasil seleksi dari puluhan kelompok teknologi berdayaguna bagi sektor pertanian. Itu inisiatif Emmy. Ia memberi sudut pandang lain terhadap kongres partai politik.

Pada 3 Februari 2021, pukul 08.05, melalui Facebook, Emmy memuat pandangannya di bawah judul keren: 'Penundaan Pilkada 2022: Demokrasi atau Oligarki?' Tulisan itu dimulai dengan kalimat, "Kita balik mikir politik yuk?" Emmy lalu mengulas apa, sih, artinya buat kita, rakyat biasa, penundaan ini? Kenapa ada keputusan pemilihan nasional serentak? Apa, sih, esensinya? Siapa yang paling dirugikan? Emmy menjawab: "Kita, antara lain rakyat Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, akan mempunyai pemimpin droppingan dari pusat, yang tidak mendapatkan mandat kita, yang hanya mempunyai wewenang administrasi saja, tidak dapat mengambil keputusan strategis, karena tidak ada RPJMD. Masa 2022-2024, bagi 272 daerah dan provinsi, adalah kembali ke masa-masa Orde Baru, masa di mana kepala daerah kita ditunjuk oleh Suharto."

"Kita juga tidak dapat memilih dengan jernih karena banyaknya individu yang harus dipilih, kertas suara yang besar dan lipat-lipat, ada 6 kertas suara yang harus kita tusuk."

Emmy pengurus partai yang tergolong aktif di grup WA DPP NasDem. Suatu hari dia mengekspresikan kekesalannya terhadap Pertamina. Tumpahan minyak mentah milik Pertamina tercecer di pesisir Pantai Cemarajaya, Cibuaya, Karawang, Jawa Barat. Itu akibat kebocoran pipa di sekitar 15 mil dari pesisir pantai.

Berita berjudul 'Hidup Mati Kami Bergantung dari Laut' dan foto warga mengumpulkan tumpahan minyak Pertamina itu terbit di Kompas, Rabu, 28 April 2021. Pagi itu juga pada pukul 07.53, Emmy mem-posting-nya di grup pengurus DPP NasDem, dengan pertanyaan ditujukan kepada Wakil Ketua Umum NasDem yang juga Ketua Fraksi DPR RI dan Ketua Komisi VII DPR yang membidangi energi yang juga NasDem. "Saya boleh galak kepada Pertamina? Masak 2 tahun berturut-turut kebocoran pipa di tempat yang sama, telat lagi penanganan. Nelayan Karawang kasihan?"

Izinkan saya mengutip bagaimana Emmy merayakan Hari Buruh, 1 Mei 2021. Pada hari itu, pukul 10.47, di grup pengurus NasDem itu ia memuat foto berada di dapur menunaikan pekerjaan rumah tangga. "May Day! Selamat Hari Buruh Sedunia. Pembantu di rumah pun bebas hari ini."

DNA politikus itu tetaplah aktivis lingkungan yang berintegritas. Dia pun teguh menanggung kanker yang menderanya yang kemudian mengakibatkan dia tutup usia. Selamat jalan Emmy.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya