Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Madura, Zonasi Korona, dan Ulama

Moh Adib Dosen Antropologi FISIP Universitas Airlangga, Penulis buku Etnografi Madura (2011)
29/6/2021 05:00
Madura, Zonasi Korona, dan Ulama
(MI/Duta)

AKHIRNYA, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pada Rabu, 23 Juni 2021, menghentikan kegiatan penyekatan di kedua sisi jalan nasional
Suramadu (JNS) dalam kegiatan tes usap antigen (TUA). Penghentian dilakukan pada hari kedua, dari tiga hari tenggat yang diberikan oleh ribuan pendemo warga Madura ‘Koalisi Masyarakat Madura Bersatu/KMMB’. Lokasi penyekatan TUA kemudian ke sasaran yang lebih fokus ke zona merah di delapan desa dan kelurahan dalam empat kecamatan di Kabupaten Bangkalan.

Zona merah covid 19 di delapan desa/kelurahan lokasi PPKM berskala mikro di Kabupaten Bangkalan ialah (i) Kelurahan Kraton, (ii) Pejaga, dan (iii) Bancaran (Kecamatan Bangkalan); (iv) Desa Arosbaya, (v) Tengket (Kecamatan Arosbaya), (vi) Desa Moarah (Kecamatan Klampis); (vii) Desa Kombangan (Kecamatan Geger), dan (viii) Kelurahan Tanjung (Kecamatan Bur Neh). Lokasi tersebut dinyatakan sebagai zona merah covid 19 sejak awal Juni 2021.

Kabupaten Bangkalan, dengan populasi 1.006.377 jiwa (SP 2020) ialah juga daerah yang dikabarkan telah terinvasi covid varian delta. Varian covid yang lebih ganas dan mematikan. Sejumlah tenaga medis di rumah sakit daerah, ulama muda di wilayah ini juga telah menjadi korbannya. Optimalisasi penanganan, kebijakan zonasi covid 19 terus difokuskan sampai di tingkat RT dan RW.


Empiris radikal

Zonasi korona di Bangkalan layak memperoleh perhatian spesial minimal dalam dua alasan. Pertama, sesama di Madura, Bangkalan, berbeda dengan tiga kabupaten lainnya. Karakter warga masyarakat di Kabupaten Bangkalan dikenal lebih egaliter. Mungkin saja tidak terjadi demo pada awal pekan lalu seandainya berlokasi di Sumenep.

Dalam egalitas warga Bangkalan terdapat nuansa penolakan yang relatif massif, kepada berbagai hal yang berhubungan dengan covid-19. Mereka tidak percaya bahwa covid-19 itu ada. Keberadaan covid-19 oleh mereka dinyatakan sebagai tidak ada. Tidak nyata. Covid-19 itu hoaks, hanyalah konspirasi, buatan sejumlah orang untuk mensukseskan kepentingan dan melipatgandakan keuntungan dagang bisnisnya.

Kabar penokan kepada covid-19 juga tecermin dari sejumlah pernyataan aktor dalam video yang pernah viral. Terbaru, aktor yang berlogat medok, Madura ini, menantang untuk menyentuh mayat covid-19 dengan tangannya sendiri. “Dalam dua hari, setelah saya menyentuh mayat ini, kemudian saya meninggal, baru saya percaya bahwa covid-19 itu ada,” tuturnya.

Aktor lainnya juga mengajak duel kepada petugas TUA dan melakukan pengusiran tim gugus tugas covid-19 di wilayah ini. Pernyataan vulgar juga pernah dinarasikan sebelumnya, oleh seorang seniman yang menantang untuk menghisap dan mencium pasien covid-19.

Pernyataan-pernyataan tersebut meneguhkan bahwa aktor ini ialah bagian dari penganut empirisme radikal,  yang tidak percaya kepada
hal-hal yang tidak terlihat oleh indera mata. Baru percaya, kepada suatu hal, saat mereka telah mengalami dengan indera penglihatannya. Mengalami suatu hal dengan melihat, baru kemudian yakin, percaya.


Seeing is believing

Cara pandang empirisme dengan tokoh Locke (1632-1704), Berkeley (1685-1753), dan Hume (1711-1776) ini menyatakan pengamatan indra
(sense of perception) ialah sumber pengetahuan-kebenaran. Implikasi dari pandangan ini seakan mengharuskan dokter(spesialis) penyakit jiwa yang merawat para pasien di RSJ (rumah sakit jiwa).

Dokter itu harus mengalami menjadi pasien di RSJ terlebih dulu untuk percaya bahwa penyakit jiwa itu ada.Setara juga dengan itulah, pandangan orang yang mengatakan bahwa adanya surga dan neraka, orang harus pernah mengalami. Menyaksikan sendiri.

Andaikan betul, aktor itu menyentuh mayat yang terpapar covid, kemudian ia tertular dan meninggal dunia. Dalam praktik, aktor itu tidak lagi dapat bercerita sebagaimana video yang pernah diungganya di sosial media.

Dengan melihat dan merasakan, sesungguhnya merupakan sebagian sisi saja dari sumber pengetahuan. Dalam kenyataan, masih tersedia sumber pengetahuan lain yang disebut sebagai rasio (pikiran). Tokoh aliran ini antara lain Rene Descates (1596-1650). Kolaborasi dari kedua sumber pengetahuan tersebut, dalam menghadirkan kebenaran disebut ilmu pengetahuan (sains). Covid19 merupakan tradisi dalam sains.

Para aktor, yang menolak ilmu pengetahuan covid-19 ini, pada perkembangannya ditangkap oleh aparat keamanan. Pada pengunggahan video berikutnya, mereka mengakui kekeliruannya dan meminta maaf.


Ulama 

Kedua, di Bangkalan, pada Maret 2021, saat penulis bersama dengan tim peneliti dari Unair melaksanakan FGD (Focus Group Discussion), hampir tidak ditemui orang di Bangkalan mengenakan Masker. Jarak dengan Surabaya hanya dipisahkan dengan Jembatan Suramadu. Di luar ataupun di dalam ruangan. Di dalam ruangan FGD pun, juga terdapat oknum ulama yang vokal menyampaikan bahwa ‘di Madura (Bangkalan) tidak ada korona’. Karena itu, kami tidak mengenakan nasker. “Orang yang mengenakan masker itu ialah orang sakit. Kami tidak
sakit. Karena itu, kami tidak mengenakan masker,” katanya lugas.

Level tokoh masyarakat saja berpandangan demikian. Resonansinya berpengaruh kepada warga masyarakat lainnya. Dapat terjadi, para demonstran KMMB ialah bagian yang sealiran dengan tokoh masyarakat ini. Karena itu, di balik penolakan pada kegiatan penyekatan JNS sesungguhnya juga penolakan kepada TUA. Penolakan kepada segala hal yang berhubungan dengan covid-19.

Mahfud MD, Putra kelahiran Sampang Madura, yang juga Menko Polhukam RI, saat berkunjung ke Bangkalan (16/06) juga memperoleh
informasi yang senada. Sejumlah warga masyarakat Madura tidak percaya kepada covid-19. Satu di antara tiga pesantren yang mau TUA, yang gagal, karena semua santrinya kabur.

Dari sisi pengetahuan, sesungguhnya telah terjadi jarak (gap), jurang yang menganga. Antara pengetahuan, yang berupa common sense dari sejumlah warga masyarakat tersebut, dengan temuan ilmu pengetahuan (sains). Kondisi demikian, tidak boleh dipandang sepele. Desiminasi yang lebih intensif selayaknya terus dilakukan dengan pendekatan yang tepat.

Pelibatan ulama (guru), tokoh masyarakat, dan pimpinan daerah (Madura: Rato), di berbagai tingkatan, juga signifikan untuk dilaksanakan bersamaan dengan penanganan zonasi covid-19 secara sistemik dan massif. Semoga korona segera berlalu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya