Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
SIAPAKAH saat ini sosok negarawan yang hadir dari kader Muhammadiyah? Ya, kader Muhammadiyah yang jadi politisi saat ini sudah cukup banyak. Kader-kader Muhammadiyah garis politik sudah tersebar di mana-mana dan turut andil dalam ruang-ruang politik kebangsaan, posisi apa pun itu, menteri, pengurus dan anggota partai politik, anggota DPR dan DPRD, komisioner-komisioner dan komisaris-komisaris, juru bicara menteri, dan staf khusus menteri, serta lain sebagainya.
Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi pengertian negarawan adalah orang yang ahli dalam kenegaraan (pemerintahan), pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan, atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan, dan kewibawaan. Nah, pertanyaannya, apakah politisi itu ialah negarawan atau negarawan itu mesti seorang politisi?
Perlu dipertegas
Dalam kolom salah satu majalah nasional, Ahmad Syafii Maarif pernah menulis, judulnya Negarawan dan Politisi (Tempo, 2000). Buya Maarif menjelaskan, seorang negarawan pastilah politisi, tetapi seorang politisi belum tentu negarawan.
Menurut Buya, dalam kamus-kamus Inggris, negarawan digambarkan sebagai seorang yang mumpuni dan berpengalaman, dalam urusan kenegaraan, arif, punya pandangan jauh ke depan, dan berlaku adil dalam menangani publik.
Sebaliknya politisi adalah seorang yang mahir dan terlibat aktif dalam politik, tapi belum tentu punya kearifan, keadilan, dan pandangan ke depan. Di Indonesia yang banyak muncul ialah politisi dan sedikit sekali negarawan. Kata Buya Maarif saat itu, negarawan sering kandas kariernya dikalahkan oleh politisi.
Namun, masih ada tanda tanya yang tersisa, apakah nilai-nilai kenegarawanan yang disebutkan Buya Syafii di atas telah mendarah daging dalam jiwa dan laku politik kader-kader Muhammadiyah yang terlibat sebagai penyelenggaraan negara itu?
Menurut penulis, sebagai ormas sosial-keagamaan posisi Persyarikatan Muhammadiyah dalam peran serta mengelola jalannya negara perlu dipertegas, tanpa mengurangi peran penting sebagai organisasi dakwah, dengan begitu banyak amal usahanya. Apa sebab perlu dipertegas dukungan moral politik untuk calon-calon negarawan itu?
Semangat berpolitik dari kader-kader Muhammadiyah untuk terlibat secara intens dan sungguh-sungguh sebagai penyelenggara negara akhir-akhir ini kian tumbuh. Niat baik kader Muhammadiyah untuk meneguhkan diri sebagai negarawan jangan dibungkam dan dimatikan semangatnya. Janganlah begitu, biarkanlah tumbuh. Soal masih menjadi politisi dan belum menjadi negarawan ialah proses perjuangan politik, bukan malah diejek atau dicemooh karena perjuangan menjadikan politik lebih beradab itu sesungguhnya butuh proses panjang. Tapi, entah sampai kapan.
Negarawan hadir karena kematangan dan pengalaman saat aktif bergerak mengurus negara. Konsistensi dan integritas diuji. Tak ada namanya integritas yang lahir dari ruang hampa. Integritas tumbuh saat dan setelah mengalami. Siapa tahu kelak kader-kader muda Muhammadiyah menemukan model baru nan brilian dalam memahami pola hubungan negara-masyarakat-agama karena keterlibatan dan pengalamannya sebagai aktor penyelenggara negara.
Alhasil, kerinduan kader Muhammadiyah menjadi negarawan jangan sampai sebatas kerinduan, tapi kerinduan yang terlaksana. Politisi tanpa kerinduan untuk menjadi negarawan ialah politisi yang gagap dan gagal menjadikan politik sebagai kebajikan untuk semua.
Jadi, penting untuk diperhatikan pesan Buya Ahmad Syafii Maarif ini, negarawan yang bertelinga ke bumi akan senantiasa awas terhadap segala kebisikan yang mencelakakan. Bisikan yang datang dari orang yang pandai bertanam tebu di bibir, tetapi hatinya penuh gejolak keserakahan perlu diwaspadai. Mengakibatkan kita selalu krisis negarawan. Ya, kita mengalami krisis negarawan yang nyata, kita mengalami krisis tokoh-tokoh baru yang berbuat tanpa pamrih untuk semua golongan, untuk semua agama dan mazhab-mazhabnya.
Kemudian, muncul lagi pertanyaan baru, apakah watak buruk politisi yang jauh dari sikap negarawan akan terus berlanjut? Jawabannya, tentu.
Namun, sebagai manusia, politik tidak perlu melulu pesimistis begitu karena masih ada sang surya yang bersinar dalam sanubari manusia politik Indonesia. Apalagi kondisi pandemi covid-19, peran kader Muhammadiyah di segala lini sedang mengalami ujian dan cobaan, pengangguran bertambah dan mental hidup sebagian masyarakat menyusut akibat ruang gerak menjalani kehidupan terbatas, entah sampai kapan. Sebab itu, perlunya mental kebajikan politik dari kader calon negarawan dari Muhammadiyah, tentu juga untuk semua kader bangsa.
Menunggu
Kita masih menunggu negarawan baru dan negarawan sejati hadir di masa kini dan untuk masa depan. Almarhum Budayawan Radhar Panca Dahana di koran ini (2019) pernah menulis tentang politisi dan negarawan, mengutip John F Kennedy, Radhar menulis, "Jangan cari jawaban pada kandidat A atau jawaban dari kandidat B, tapi carilah jawaban yang benar." Jawaban benar itu tidaklah rumit, apalagi tricky.
Ia indah karena keluar dari pikiran jernih dan hati yang bersih dari seorang negarawan. Tapi, siapa? Ya, sosok-sosok negarawan Muhammadiyah sedari dulu pernah ada, sekarang pun masih ada. Tapi, siapa?
Akhirnya, bagi yang berminat menjadi negarawan, ada eloknya merenungkan pepatah Yunani Kuno yang pernah ditulis Prof Haedar Nashir saat mengutip Buya Ahmad Syafii Maarif. Bunyi pepatah itu, proses pembusukan ikan mati berasal dari kepala, lalu menjalar ke seluruh tubuhnya.
Artinya, kepala ikan ibarat sang pemimpin, sedangkan tubuhnya ialah mereka yang dipimpin, satu sama lain memiliki keterkaitan dalam proses sosial yang timbal balik. Ya, meski terdengar kurang begitu enak, agaknya patutlah untuk kita renungkan. Salam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved