Selasa 09 Maret 2021, 05:00 WIB

Konsumsi dan Identitas Bangsa

Badri Munir Sukoco Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga | Opini
Konsumsi dan Identitas Bangsa

MI/Seno

DALAM rapat kerja dengan jajaran Kementerian Perdagangan pada 4 Maret lalu, Presiden Joko Widodo menyerukan untuk mencintai produk dalam negeri dan benci produk luar negeri. Tentu seruan ini ditanggapi beragam, khususnya media luar negeri yang menyoroti dampaknya terhadap partner dagang Indonesia. Seruan ini digaungkan karena maraknya predatory pricing oleh digital marketplace yang menyasar konsumen Indonesia.

Tentu seruan ini dapat dimaklumi, mengingat konsumsi rumah tangga Indonesia cukup besar kontribusinya dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika 2019 sebesar 56,62%, di saat kontribusi komponen lain melambat, konsumsi rumah tangga naik tipis kontribusinya terhadap PDB sebesar 57,66% pada 2020.

Menurut Bank Indonesia, bisnis e-commerce tahun lalu bernilai Rp253 triliun. Nilai yang besar ini harusnya memiliki multiplier effect yang besar jika barang yang dijual merupakan produk Indonesia. Namun, disinyalir nilai tersebut hanya sebagian kecil dinikmati produsen lokal, sisanya dinikmati produsen luar negeri yang difasilitasi digital marketplace yang ada.

Apa yang seharusnya dilakukan agar konsumen Indonesia menjadikan produk lokal sebagai pilihan utama?

 

Belajar dari negara lain

Meskipun di masa pandemi, pasar otomotif Korea Selatan tumbuh 5,9% pada 2020, dengan 1,87 juta unit kendaraan. Penguasa pasarnya ialah Hyundai dan Kia, yang secara bersama-sama menguasai lebih dari 82,3% hingga Agustus 2020. Pertumbuhan pangsa pasar ini juga mengejutkan, mengingat pada 2019 keduanya hanya menguasai 71,9% pasar otomotif Korea Selatan.

Hal yang sama juga terjadi pada mobile phone, yakni Samsung menguasai 64,12% pasar di Korea Selatan, dikuti LG sebesar 6,57%. Meskipun Apple menduduki posisi terbesar kedua (26,38%), gabungan Samsung dan LG yang menguasai lebih dari 70% pasar di Korea Selatan, sekali lagi menunjukkan dominasi produk domestik pada pasar dalam negerinya.

Kondisi yang sama juga terjadi pada Tiongkok. Sebagai pasar terbesar mobil di dunia dalam 11 tahun berturut-turut (mencapai sepertiga pasar dunia), saat ini merek lokal menguasai lebih dari 50%. Dominasi merek lokal, semakin besar untuk produk-produk elektronik. Bagaimana dengan digital marketplace? Lebih dari 80% pasar e-commerce dikuasai digital marketplace lokal.

Tentu, konsumsi elektronik ataupun mobil di atas hanya sebagian dari konsumsi yang dilakukan bangsa Korea Selatan dan Tiongkok. Namun, kontribusi konsumsi rumah tangga yang besar tentunya merefleksikan besarnya konsumsi produk dalam negeri yang dilakukan mereka.

 

Identitas bangsa

Konsumsi merupakan bagian dari perilaku masyarakat sebagai konsumen. Mengacu pada Teori Identitas Sosial (Tajfel and Turner, 1979), seseorang mengidentifikasikan dirinya menjadi bagian dari sebuah kelompok yang memiliki karakteristik, dan nilai-nilai yang sama dalam membentuk perilaku normatif, yang membedakan dengan kelompok lain.

Review dari Lock dan Heere (2017) menyatakan bahwa seseorang akan mengidentifikasikan diri ke sebuah kelompok sosial jika secara kognitif sadar menjadi bagiannya. Kemudian, secara evaluatif seseorang memiliki pertimbangan yang positif terhadap kelompoknya.

Selanjutnya, secara emosional menunjukkan keintiman tertentu dan menganggap hubungannya dengan kelompok tersebut merupakan bagian penting dari kehidupannya. Pertimbangan yang dimiliki tersebut, baik secara objektif maupun subjektif, memiliki preferensi yang jauh lebih tinggi terhadap kelompok sosialnya jika dibandingkan dengan kelompok yang lain.

Menggunakan perspektif itu, dapat dikatakan seorang konsumen akan mengidentifikasikan dirinya, baik secara kognitif, emosional, maupun evaluatif terhadap bangsanya. Tentu, perilaku dalam mengonsumsi barang akan merefleksikan kuatnya identitas sosial seseorang terhadap bangsanya melalui konsumsi barang dalam negeri. Hal yang menjadi seruan dari Presiden kita.

 

Rekomendasi

Seruan untuk mengonsumsi produk dalam negeri dan membenci produk luar negeri ialah hal yang wajar dilakukan kepala negara untuk bertransformasi menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi agar lepas dari middle income trap. Apalagi, Indonesia memiliki market size terbesar ketujuh dunia menurut World Economic Forum 2019. Bila sebagian besar belanja online, yang dilakukan bangsa kita, justru dinikmati bangsa lain, tentu sangat disayangkan.

Besarnya pasar Indonesia memberikan jaminan skala ekonomi bagi perusahaan lokal untuk belajar, membangun kapabilitas, dan tumbuh (Malerba dkk, 2017) dan menjadi lokomotif pertumbuhan Indonesia di masa depan. Pasar domestik menjadi pijakan pertama bagi Korea Selatan awal 1990-an hingga awal 2000-an sehingga mampu melakukan technological catching-up dengan skala ekonomi yang cukup.

Strategi yang sama dilakukan Jepang di awal 1960-an, sebelum mendominasi pasar otomotif, dan elektronik dunia mulai 1980-an, atau upaya Tiongkok mulai awal 2000-an guna menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi dengan program Made in China 2025.

Seruan tidaklah cukup dalam menggerakkan bangsa Indonesia mencintai dan mengonsumsi produk dalam negeri. Dibutuhkan upaya yang terstruktur, sistematis, dan masif untuk meningkatkan identifikasi konsumen Indonesia terhadap produk bangsanya, baik secara kognitif, emosional, maupun evaluatif. Itu hanya bisa dilakukan jika ada upaya yang nyata bahwa kualitas produk Indonesia memang lebih unggul dengan harga yang bersaing jika dibandingkan dengan produk bangsa lain.

Baca Juga

Dok Pribadi

Kapitalisme Vaksin

👤Bernadinus Steni Kandidat Doktor Program Studi Pengelolaan SDA dan Lingkungan IPB 🕔Senin 12 April 2021, 11:25 WIB
Kemitraan antara pemerintah dan perusahaan farmasi mengalami metamorfosa nilai, dari kebajikan publik menjadi agen...
Dok. Pribadi

Terorisme dan Pendidikan Moral

👤Khairil Azhar Divisi Pelatihan Pendidikan Yayasan Sukma 🕔Senin 12 April 2021, 05:00 WIB
SUDAH dua kali dalam hitungan jarak hanya beberapa hari kami sekeluarga ‘wisata belajar’ ke Polres Metro Jakarta...
MI/Duta

Puasa sebagai Oksigen Kemanusiaan

👤Fathorrahman Ghufron Wakil Katib PWNU Yogyakarta, Wakil Dekan Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga 🕔Senin 12 April 2021, 05:00 WIB
DALAM puasa Ramadan ada tiga pelajaran penting yang patut direfleksikan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Modal Bikin Bank Baru kian Besar

 Di ketentuan RPOJK Bank Umum, bagi perbankan yang baru mau berdiri, diwajibkan memenuhi modal inti Rp10 triliun, termasuk untuk pendirian bank digital.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya