Selasa 10 November 2020, 22:20 WIB

Mengelola Kesehatan Mental Siswa di Masa Pandemi

Yulina Eva Riany, Pakar Ilmu Anak dan Keluarga, Fakultas Ekologi Manusia, IPB | Opini
Mengelola Kesehatan Mental Siswa di Masa Pandemi

Dok pribadi
Yulina Eva Riany

 

PANDEMI covid-19 dan pemberlakuan pembatasan sosial telah menimbulkan rasa takut dan kecemasan di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Kebijakan pembatasan sosial yang dilaksanakan di bidang pendidikan dengan adanya pemberlakuan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi seluruh siswa di Indonesia, menimbulkan berbagai polemik bagi para siswa dan orang tua di seluruh Indonesia.
 
Dengan adanya pembatasan aktivitas belajar siswa di rumah, tentunya para siswa mengalami perubahan drastis terkait dengan aktivitas normal di sekolah. Sejatinya aktivitas di sekolah adalah sarana untuk belajar dan bermain bagi anak dan remaja. Sehingga sejak adanya pemberlakuan pembatasan, beragam aktivitas tersebut menjadi harus dilakukan di rumah bersama anggota keluarga dan orang tua mereka. 

Hilangnya waktu bermain dan belajar bersama dengan teman di sekolah, terbatasnya kesempatan untuk berkunjung ke area bermain, maupun pengalaman menyaksikan secara langsung dampak covid-19 terhadap orang tua atau anggota keluarga mereka (dampak fisik, ekonomi, maupun psikologi), merupakan pengalaman yang sulit bagi anak-anak dan remaja. Anak-anak mungkin banyak yang belum atau tidak mampu menghadapi perubahan yang terjadi secara cepat dan tiba-tiba ini. Pembatasan aktivitas di luar rumah dalam waktu lama dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman bagi aktivitas sosial mereka. Sehingga anak-anak dan remaja rentan untuk mengalami tekanan psikologi dan gangguan kesehatan mental. 

Masalah kesehatan mental 
Penelitian yang dipublikasikan pada JAMA Pediatrics Journal dan dilakukan di Hubei, Tiongkok serta melibatkan 2.330 anak sekolah membuktikan bahwa anak-anak usia sekolah yang mengalami karantina proses belajar akibat covid-19 menunjukan beberapa tanda-tanda tekanan emosional. Bahkan penelitian lanjutan dari observasi tersebut menunjukan bahwa 22,6% dari anak-anak yang diobservasi mengalami gejala depresi dan 18,9% mengalami kecemasan. Hasil survei yang dilakukan oleh pemerintah Jepang juga menunjukkan hasil yang serupa yaitu 72% anak-anak Jepang merasakan stres akibat covid-19.  

Hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Investigasi yang dilakukan oleh Centre for Disease Control (CDC) menunjukkan bahwa 7,1% anak-anak dalam kelompok usia 3-17 tahun telah didiagnosis dengan kecemasan, dan sekitar 3,2% pada kelompok usia yang sama menderita depresi. 

Di Indonesia sendiri, implementasi kebijakan pembatasan kegiatan pembelajaran di sekolah ini tentunya berdampak signifikan pada kesehatan mental para siswa meskipun dengan derajat yang bervariasi. Data yang diperoleh dari survei penilaian cepat yang dilakukan oleh Satgas Covid-19 (BNPB, 2020) menunjukkan bahwa 47% anak Indonesia merasa bosan di rumah, 35% merasa khawatir ketinggalan pelajaran, 15% anak merasa tidak aman, 20% anak merindukan teman-temannya dan 10% anak merasa khawatir tentang kondisi ekonomi keluarga. 

Kondisi ini apabila tidak diatasi tentunya akan menyebabkan hal yang lebih fatal. Sebut saja MI (16), seorang remaja siswa kelas 2 SMA di Kota Gowa yang nekat untuk mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun rumput (17/10/20) karena diduga mengalami depresi akibat tekanan pembelajaran jarak jauh yang dialaminya. Sebelum meminum racun rumput tersebut, MI sempat mengeluh kepada temannya bahwa dia mengalami kesulitan dalam mengakses tugas belajar di sekolah, akibat sinyal di area rumahnya yang tidak baik. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa anak dan remaja yang mengalami pembatasan aktivitas belajar di rumah, merupakan kelompok rentan mengalami gangguan kesehatan mental.

Dukungan kesehatan mental 
Melihat fenomena masalah kesehatan mental yang terjadi pada anak dan remaja di Indonesia di masa pandemi, diperlukan upaya strategis dalam mengevaluasi sistem PJJ sekaligus memberikan dukungan kesehatan mental bagi anak dan remaja. Penyediaan layanan dukungan sosial yang memberikan fasilitas layanan kesehatan mental (mental health) bagi para siswa melalui sekolah, merupakan hal strategis yang perlu diperkuat di era pandemi saat ini. 

Dengan adanya penyediaan layanan ini baik daring maupun luring baik melalui masyarakat maupun konseling sebaya, harapannya masyarakat dapat dengan mudah mengakses dukungan sosial jika diperlukan. Pemberian layanan kesehatan mental bagi anak dan remaja juga dapat diperkuat oleh sekolah. Sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran jarak jauh, pihak sekolah selaiknya memperhatikan kondisi para siswanya tidak hanya pada kualitas kemajuan pembelajarannya saja. 

Akan tetapi, hal yang lebih penting adalah memberikan perhatian lebih atas keamanan, kondisi kesejahteraan mental anak dan hal lain terkait dengan tantangan yang dihadapi oleh anak dalam proses pembelajaran di rumah. 

Penyediaan layanan kesehatan mental bagi anak dan remaja serupa telah diimplementasikan di berbagai negara dan berhasil menurunkan berbagai permasalahan terkait yang dialami oleh anak dan remaja akibat pandemi ini. Sebagai contoh, pemerintah Tiongkok, Australia, maupun Jepang secara intensif menyediakan layanan konseling telephone (hotline), online, maupun offline bagi masyarakatnya sebagai pertolongan pertama pada masalah kesehatan mental di negara tersebut. Sehingga permasalahan kesehatan mental kelompok rentan, khususnya anak dan remaja dapat teratasi dengan baik sebelum menyebabkan efek yang lebih serius. 

Penguatan pendidikan keluarga
Meskipun diyakini bahwa pengasuhan dan pendampingan belajar anak selama pandemi, merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi keluarga dan tidak satu pun keluarga pernah mengalami ini sebelumnya. Keluarga memiliki peran dan tanggung jawab utama dalam menyediakan bimbingan yang baik dalam proses belajar anak di rumah, dan menjaga kesehatan mental anak selama pandemi. 

Penguatan fungsi keluarga dalam mengasuh anak dan remaja serta mendampingi proses belajar jarak jauh di rumah, menjadi sebuah hal vital yang harus dilakukan selama pandemi. Keluarga sebagai pihak yang paling tidak tersiapkan dalam menghadapi berbagai problematika selama pandemi adalah pihak yang paling strategis untuk dapat terus didampingi, baik oleh pemerintah maupun berbagai lembaga non-pemerintah lainnya. 

Pendampingan keluarga melalui penguatan kapasitas keluarga dengan implementasi strategi positif mendampingi anak belajar daring di rumah, serta mengindentifikasi berbagai indikator permasalahan mental pada anak, dipercaya merupakan cara efektif untuk meminimalisasi permasalahan terkait anak dan remaja di masa pandemi ini. 

Meskipun pandemi ini belum berakhir, dampak tekanan psikologi dan kesehatan mental yang dirasakan oleh anak dan remaja semakin nyata. Kondisi kesehatan mental yang dialami oleh anak-anak dan remaja kita tidak terlepas dari peran keluarga, sekolah dan masyarakat dalam mendampingi anak menghadapi berbagai bentuk perubahan karena pandemi ini. Oleh karena itu, hal ini tentunya harus menjadi perhatian seluruh pihak untuk memaksimalkan kolaborasi sedini mungkin dalam mengatasi berbagai masalah yang terjadi dengan lebih baik.

Baca Juga

MI/Ebet

Memanfaatkan Peluang

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 05:00 WIB
Sejumah negara terancam kekurangan beberapa bahan pokok, mulai kopi, tisu toilet, pakaian, hingga pasokan air...
dok.ant

Sosok Santri dan Semangat Antikorupsi Diperlukan Melawan Perang Badar Melawan Perilaku Koruptif

👤H. Firli Bahuri, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi RI 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 09:27 WIB
Sosok Santri dan Semangat Antikorupsi Diperlukan Melawan Perang Badar Melawan Perilaku...
MI/Duta

Songsong Matahari Terbit di Selatan Papua

👤Wilhelmina Welliken Dosen di Universitas Musamus, Merauke, Papua 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 05:05 WIB
PERHELATAN PON XX dan kehadiran Presiden Joko Widodo di Kabupaten Merauke untuk yang ketiga kalinya, awal Oktober lalu, memiliki makna yang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Krisis Energi Eropa akan Memburuk

Jika situasinya tidak membaik dalam beberapa bulan ke depan, ada potensi krisis ekonomi yang menghancurkan

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya