Selasa 03 November 2020, 03:00 WIB

Macron dan Sensibilitas Kenabian

Asep Salahudin Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM Suryalaya Tasikmalaya Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat | Opini
Macron dan Sensibilitas Kenabian

Dok. Pribadi

 

KANJENG Nabi Muhammad SAW dalam iman kaum muslim menempati posisi istimewa. Ikrar kesaksian (syahadat) berisi bukan hanya pengakuan ketuhanan, tapi juga pada saat yang sama, peneguhan kenabian Muhammad SAW. Ketaatan transendental ilahiah dalam teologi Islam selau diiringi dengan ketundukan kemuhammadan. Tak berlebihan kalau penyair Pakistan Sir Muhammad Iqbal menyebut, “Tuhan dapat kau ingkari, tetapi Nabi tidak.”

Bahkan, kalau kita membuka literasi sufi sme dengan sangat kuat terhadirkan sosok Muhammad yang agung dan auratik. Tersebutlah, misalnya, konsep ‘Nur Muhammad’ yang ditulis dan diyakini kaum mistikus mulai al-Hallaj sampai Syekh Yusuf an-Nabhani.

Konsep itu ingin menjelaskan superioritas Kanjeng Nabi. Secara spiritual kelahiran Nabi menjadi modus utama diciptakannya segenap makhluk dan ‘cahayanya’ ada sebelum yang lainnya. Merujuk pada sebuah hadis kudsi, “Seandainya bukan karenamu Muhammad, tidak akan kuciptakan semesta.”

Dalam penjelasan penyair Jalaluddin Rumi, “Bersama Muhammad cinta menemukan pasangan/sebab cinta jualah Tuhan berfirman laulaka.... Sibaklah tabirmu wahai Muhammad/ dunia sekadar raga dan engkaulah jiwanya/pohon dan bebatuan menyampaikan salawat kepadamu wahai Mustafa.”

Tuhan yang kudus menampakkan diri-Nya (tajalli) pada sosok Nabi. Langit ketuhanan menemukan jejak epifani kemuliaannya pada utusan-Nya sehingga kesempurnaan seseorang (insan kamil) diletakkan pada kesanggupan meneladani Nabinya, kesigapan mencontoh perangainya. Insan Kamil dibentangkan pada jalan nilai-nilai kebaikan yang telah diretas sang Nabi.

Penghayatan iman seperti itu yang semestinya dipahami siapa pun. Bahwa kebebasan itu penting, tapi jangan sampai kemudian tiba pada penghinaan apalagi pada sosok yang disakralkan oleh sebuah komunitas. Pemuliaan atas keragaman (pluralisme) adalah satu keniscayaan. Namun, juga tak terabaikan keniscayaan untuk memuliakan keanekaan iman yang dihayati setiap orang.


Macron dan respons kaum muslim

Di titik ini sesungguhnya peristiwa penghinaan lewat karikatur terhadap Nabi Muhammad SAW yang didukung Presiden Prancis Emmanuel Macron itu berpusat. Peristiwa yang kemudian menimbulkan respons keras kaum muslim dari berbaga belahan dunia mulai Teheran sampai Negeri Kepulauan. Termasuk, seruan untuk membaikot seluruh produk Prancis.

Pada kenyataannya, sebengal apa pun seseorang, ketika nabinya dinistakan, maka sensitivitas keagamaannya akan mencuat. Daya religiositasnya akan terpanggil untuk melakukan pembelaan sekaligus pada titik tertentu secara psikologis sebagai ekspresi ‘keterkaitan’ orang tersebut dengan iman purbanya.

Jokowi sebagai presiden negeri dengan populasi muslim terbesar juga ambil bagian mengecam keras Presiden Macron. Didampingi Ma’ruf Amin dan segenap organisasi keagamaan, Joko Widodo mengingatkan tentang pentingnya menjunjung tinggi adab sekaligus menyerukan untuk menghindari segala bentuk kekerasan. “Kebebasan berekspresi yang mencederai kesucian dan kesakralan simbol agama tidak bisa dibenarkan... mengaitkan agama dengan tindakan terorisme adalah sebuah keasalahan besar. Terorisme adalah terorisme. Terorisme tidak ada hubungannya dengan agama apa pun.”


Bulan Maulid

Bagi saya sendiri, sisi lain dari peristiwa Macron, secara internal menjadi kesempatan semakin mencintai Kanjeng Nabi SAW. Macron mengingatkan kita bahwa kecintaan pada Nabi harus melampaui kecintaan pada siapa pun, termasuk juga dalam cara menghayati dan memaknai agama yang kita yakini.

Apalagi peristiwa Macron ini terjadi pada bulan Maulid (Rabi’ul Awal). Bulan yang di dalamnya terjadi kejadian penting dalam memori kolektif umat Islam: kelahiran sang Nabi. Setiap ‘kelahiran’ membersitkan harapan dan imajinasi tentang kehidupan yang lebih baik, dan kebaikan itu dalam tradisi keagamaan (agama apa pun juga) mengalir dari nabinya, dicontohkan secara konkret rasulnya.

 

MI/Seno

Ilustrasi MI

 

Kelahiran mengandaikan ’rahim’ ibu. Secara biologis ‘ibu’ memiliki interaksi simbolis dengan keagungan, kelembutan sekaligus kekuatan. Adapun ‘rahim’ secara metafisis berkelindan dengan akar dan asal usul ilahiah.

Rahim sebagai salah satu sifat Tuhan yang bermakna penyayang. Ini pula maksud di balik tugas profetik Kanjeng Nabi, “Menebarkan rahmat bagi seru sekalian alam.” Wa ma arsalanaka illa rahmatan lil alamin. Rahmat dan rahim satu akar kata. Atau dalam ungkapan Nabi, “Tebarkan damai kasih di bumi, maka engkau akan meraih kasih dari langit.”

Pesona kiprah kenabian itu dengan mengagumkan kita dapati dalam kitab kuning. Sebut saja di antaranya Qasidah al-Barjanzi, Shimthual-Durar, al-Burdah, dan al-Diba.

Di samping juga dalam kitab - kitab maulid Nabi yang lainnya seperti dalam penelitian Ahmad Rifqi Khawwas:1) Maulid al-Arus karya Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi (wafat tahun 597 H), 2) Kitab al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir karya Ibn Dahya al-Kalbi (wafat tahun 633 H), 3) Manuskrif maulid berjudul Urfu al-Ta’rif bi al-Maulid al-Syarif karya al-Juzuri (wafat tahun 660 H); 4) Kitab Maulid Nabi karya Ibn Katsir (wafat tahun 774 H); 5) al-Maurid al-Hana ditulis al-Hafiz al-Iraqi (725 – 808 H); 6) Kitab Jami’ al-Atsar Fi Maulid al-Nabi al-Mukhtar (3 jilid), Al-Lafdzu al-Ra’iq Fi Maulid Khair al-Khalaiq, dan Maurid al-Sabiy Fi Maulid al-Hadi, ketiga-tiganya ditulis Ibn Nasiruddin al-Dimasyqi (777-842 H); 7) al-Fakhr al- ’Alawi Fi al-Maulid al-Nabawi tulisan al-Hafiz al-Sakhawi (831-902 H).

Latar seperti ini yang menjadi alasan utama agama yang dibawa Kanjeng Nabi diberi nama Islam, yang artinya adalah pasrah dan menyelamatkan. ‘Keselamatan’ dan ‘kepasarahan’ dilekatkan pada agama dan menjadi jantung kepercayaan. “Tebarkan salam di antara kalian.”


Konteks kebangsaan

Dalam konteks keindonesiaan, kita menemukan diksi ibu pertiwi. Ibu yang tentu saja dilahirkan dari peristiwa kebangsaan semisal Sumpah Pemuda, Proklamasi, dan sekian perjuangan yang dibidani para pendiri bangsa demi kemerdekaan dan terwujudnya imajinasi keindonesiaan yang berkeadaban. Kelahiran Kanjeng Nabi sesungguhnya terhubung dengan imajinasi cita-cita agung rahmatan lil alamin itu: agama damai kasih tempat di mana segenap umat bisa menimba kedamaian.

Islam sebagai tenda berteduh, sebagai saluran untuk mengalirkan kebaikan ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman. Maka, ‘rahim’ juga dipersentuhkan dengan konsep silaturahim, baik antarumat Islam (ukhuwwah islamiyah), antarmanusia (ukhuwah basyariyah), antarsesama warga (ukhuwah wathaniyah), atau dengan alam semesta.

Dalam ungkapan Iqbal, ingatan akan kelahirannya itu menjadi hasrat yang dapat menyatukan umat dalam ‘kesadaran baru’, dalam cinta yang membebaskan dan penuh makna:
Yang berkilau yang disebut diri/ mendengarkan percikan kehidupan di dalam tubuh kita/ melalui cinta ia semakin bertahan/ semakin hidup, semakin ku- kuh dan semakin berkilau/melalui cinta esensinya berkobar/ dan perbendaharaan tersembunyi berkembang/diri mem- butuhkan api dan cinta… Dia beristirahat dalam pelukan gua hira/dan membangun bangsa, konstitusi dan pemerintahan/ malam demi malam berlalu/ dengan isi ranjang menemukannya dalam keadaan jaga/ dengan demikian rakyatnya dapat beristirahat.

Baca Juga

MI/Seno

Dua Tahun Kabinet Jokowi, Kita sudah di Mana?

👤Fithra Faisal Hastiadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Direktur Eksekutif Next Policy 🕔Rabu 20 Oktober 2021, 05:00 WIB
JIKA Barbara Lewis menjawab pertanyaan Robert Solow sekenanya saja, sepertinya tidak akan ada teori pertumbuhan eksogen yang diganjar...
Dok. Pribadi

Merawat Nalar Kritis

👤Khoiruddin Bashori Dewan Pengawas Yayasan Sukma Jakarta 🕔Senin 18 Oktober 2021, 05:10 WIB
DALAM dunia yang saling terhubung secara global dan digital, peserta didik membutuhkan pengetahuan dan keterampilan baru untuk...
MI/Duta

Pendidikan Karakter ala Sukma Bangsa

👤Priltus Andronikus Lamonta Guru Matematika Sekolah Sukma Bangsa Sigi, Sulawesi Tengah 🕔Senin 18 Oktober 2021, 05:05 WIB
PENDIDIKAN merupakan ujung tombak kehidupan yang menentukan masa depan. Ia merupakan wujud praktik nilai-nilai baik yang ada dalam sebuah...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Rakyat Kalimantan Selatan Menggugat Gubernur

Sebanyak 53 warga terdampak bencana banjir dari sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan menggugat Gubernur Sahbirin Noor.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya